Pemilu Presiden Sri Lanka, Mantan Menteri Pertahanan Klaim Kemenangan

DUNIA | 17 November 2019 18:07 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Mantan menteri pertahanan Sri Lanka pada masa perang saudara, Gotabaya Rajapaksa, diprediksi akan memenangkan pemilihan presiden yang berlangsung akhir pekan ini.

Rajapaksa, 70 tahun, mengklaim kemenangan dan lawan utamanya, Sajith Premadasa, mengakui kekalahan berdasarkan hasil hitung resmi sementara dengan total seperempat suara masuk --di mana penghitungan masih berlangsung hingga komisi pemilihan negara mengumumkan selesai.

Laman BBC melaporkan, Minggu (17/11), pemilihan ini adalah yang pertama di Sri Lanka sejak serangan teror menewaskan lebih dari 250 orang pada April 2019 lalu.

Sebanyak 35 kandidat bersaing untuk mendapatkan suara dalam pemilihan presiden yang ketiga sejak berakhirnya perang saudara selama puluhan tahun di negara itu pada tahun 2009.

Rajapaksa adalah sosok terpolarisasi. Ia dipandang sebagai salah satu dari dua calon terdepan dalam persaingan ini, dengan salah satunya adalah Menteri Perumahan Sri Lanka Sajith Premadasa.

Presiden saat ini, Maithripala Sirisena, tidak mengikuti pemungutan suara. Dia memutuskan untuk tidak bersaing setelah mendapat kritik hebat menyusul tragedi bom Minggu Paskah.

Kelompok militan yang mendeklarasikan sumpah setia kepada ISIS menargetkan gereja dan hotel kelas atas di seluruh pulau tujuh bulan lalu.

Pemerintah kemudian terpaksa mengakui mereka "mengabaikan informasi intelijen utama" setelah gagal berbagi informasi yang diperoleh dari pejabat intelijen India tentang kemungkinan serangan.

Serangan-serangan itu diikuti oleh kemerosotan ekonomi, dengan sektor pariwisata negara itu khususnya paling terpukul.

Keamanan nasional bisa dibilang masalah terbesar bagi 16 juta orang pemegang hak pilih di Sri Lanka. Namun, kesetaraan untuk minoritas dan pengangguran juga menjadi isu panas.

1 dari 1 halaman

Janji Berbeda Kedua Kandidat

Kedua kandidat juga menjanjikan sesuatu yang berbeda di panggung internasional. Rajapaksa mengatakan dia berencana untuk "memulihkan hubungan" dengan negara pemberi pinjaman utama Sri Lanka, yakni China, jika dia memenangkan pemilihan. Ini mungkin kontroversial di beberapa kalangan, karena kekhawatiran tentang besarnya utang Sri Lanka ke negara adidaya Asia.

Premadasa, sementara itu, dipandang berencana mencondongkan Sri Lanka ke blok pro India dan Amerika Serikat.

Rajapaksa, adalah sosok polarisasi yang menghabiskan satu dekade sebagai menteri pertahanan di bawah pemerintahan presiden saudara laki-lakinya, Mahinda Rajapaksa.

Kandidat dari partai Podujana Peramuna (SLPP) itu dikenal karena perannya dalam membantu mengakhiri perang saudara melawan Tamil di negara itu dan telah memposisikan dirinya sebagai tokoh kuat yang dapat memerangi ketakutan keamanan nasional.

Dia populer di antara bagian-bagian pulau yang didominasi orang Sinhala, tetapi tidak disukai oleh orang Tamil yang menuduhnya melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan selama tahap akhir perang saudara.

Rajapaksa berkuasa ketika ribuan orang --terutama orang Tamil-- hilang dalam apa yang disebut sebagai penghilangan paksa antara tahun 2005 - 2015.

Di sisi lain, calon pemimpin partai yang berkuasa, Sajith Premadasa, berfokus pada masalah sosial dan juga kampanye keamanan dengan janji untuk memberantas kemiskinan dan memperbaiki perumahan.

Premadasa adalah putra seorang presiden yang dibunuh oleh pemberontak Macan Tamil pada tahun 1993 dan merupakan menteri perumahan saat ini.

Reporter: Rizki Akbar Hasan

Sumber: Liputan6.com (mdk/pan)

Baca juga:
Ratusan Ekor Gajah Mati Setiap Tahun di Sri Lanka
Malangnya Gajah di Sri Lanka, Tubuhnya Lemah dan Kurus Kering
Kepala Polisi Sri Lanka Ditangkap karena Gagal Cegah Serangan Bom Gereja
Melihat Sejarah Munculnya Kelompok Buddha Garis Keras di Sri Lanka dan Myanmar
Presiden Sri Lanka Perpanjang Status Darurat Pasca Serangan Teror di Kolombo
Gagal Tangani Teror Bom, Presiden Sri Lanka Pecat Kepala Intelijen Nasional

TOPIK TERKAIT