Pendukung Trump paling banyak bagikan berita palsu di media sosial

Pendukung Trump paling banyak bagikan berita palsu di media sosial
DUNIA | 7 Februari 2018 07:21 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump beberapa kali mengungkapkan kekesalannya terhadap sejumlah pemberitaan media massa yang menyudutkannya. Dia menyebut berita-berita itu palsu. Trump bahkan beberapa waktu lalu mengumumkan nama-nama media yang menurut dia sering atau 'paling juara' menyebarkan 'berita palsu' yang berkaitan dengan dirinya. Sejumlah media dengan nama besar macam The New York Times, CNN, masuk dalam daftar bikinan Trump itu.

Namun hasil penelitian teranyar Universitas Oxford mengungkapkan, kelompok aliran sayap kanan di AS paling sering melahap dan membagikan berita-berita 'sampah' di media sosial.

Penelitian Oxford menyoroti banyaknya sumber-sumber 'berita sampah' yang dibagikan di media sosial tiga bulan sebelum Trump menyampaikan pidato kenegaraan di depan Kongres pekan lalu. Oxford mencoba mencari tahu siapa saja yang sering membagikan berita berkualitas rendah, ekstremis, sensasional, dan konspiratif yang beredar di media sosial AS.

"Di Twitter, kelompok jaringan pendukung Trump paling banyak melahap berita sampah, dan berita sampah menjadi berita terbanyak mereka bagikan di dunia maya," ujar peneliti Oxford, seperti dilansir laman the Guardian, Selasa (6/2).

"Di Facebok bahkan angkanya lebih besar lagi. Ada halaman pendukung ekstrem kanan paling getol membagikan berita sampah dibanding para pengguna media sosial yang lain."

Penelitian ini melibatkan pengawasan terhadap sekitar 13.500 pengguna Twitter di AS yang aktif secara politik dan sebanyak 48 ribu halaman Facebook secara terpisah untuk mencari situs apa saja yang mereka bagikan.

Para pengguna yang membagikan kumpulan tautan yang sama dikelompokkan menjadi satu tergantung topik apa yang mereka bahas. Di Twitter beberapa pengelompokan yang ada antara lain "Media KOnservatif", "Pendukung Trump" (kelompok selain PArtai Republik) dan "Perlawanan". Di Facebook, kelompok pengguna dipisahkan menurut "Konservatif Garis Keras", "Hak Perempuan", "Militer/Senjata".

twitter donald trump

Twitter Donald Trump ©2018 Merdeka.com



Temuan ini memperlihatkan polarisasi politik di AS yang terbagi dua kelompok.

"Dua partai, Demokrat dan Republikan, memilih sumber berita yang berbeda," tulis para peneliti.

Tapi ada batasan jelas tentang siapa yang membagikan tautan dari 91 situs yang digolongkan 'sumber berita sampah' oleh para peneliti (berdasarkan temuan setidaknya tiga pelanggaran dari standar yang seharusnya meliputi 'profesionalisme', 'bias', dan 'kredibilitas').

"Kelompok pendukung Trump melahap sumber-sumber berita sampah dalam jumlah besar di Twitter dan membagikan lebih banyak lagi sumber berita sampah, dibanding kelompok lain digabungkan. Pola ini terulang di Facebook. Kelompok Konservatif Garis Keras melahap banyak berita sampah."

Satu hal yang tidak peneliti temukan adalah bukti memadai dari sumber-sumber berita Rusia.

"Perbincangan politik di media sosial tidak memasukkan kelompok pengguna asal Rusia," kata peneliti dalam kesimpulan laporannya. (mdk/pan)


Korea Utara sebut pidato Trump sombong dan sewenang-wenang
Bayi kembar tiga di Gaza ini bernama Yerusalem, Ibu Kota, dan Palestina
Trump anggap 128 negara tak akui status Yerusalem adalah musuh AS, termasuk Indonesia
Aksi polisi teladan ini langsung diganjar penghargaan Presiden Trump
Donald Trump sebut pemimpin Korea Utara jahat

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Agar Jiwa Tak Terguncang Karena Corona

5