Penelitian: Agama Membuat Orang Lebih Sehat dan Perokok Cenderung Ateis

Penelitian: Agama Membuat Orang Lebih Sehat dan Perokok Cenderung Ateis
DUNIA | 27 Februari 2020 16:10 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Kantor Statistik Nasional (ONS) Inggris menerbitkan data yang menghubungkan agama dan kesehatan yang menghubungkan agama dan kesehatan dalam upaya "untuk memahami keadaan orang-orang dari identitas agama yang berbeda". Hasilnya, agama disebut membuat orang lebih sehat.

Data tersebut menyebutkan orang berusia 16 tahun dan lebih yang tidak beragama cenderung tidak puas dengan kesehatan mereka. Data tersebut juga membagi pakar sekuler dan agama. Beberapa mengklaim bahwa orang yang memiliki keyakinan lebih cenderung "berharap untuk masa depan yang lebih baik", sementara yang lain menolak penjelasan agama memiliki kekuatan gaib.

ONS menemukan bahwa 66 persen Muslim, 68 persen Kristen, 69 persen Sikh, 71 persen Buddha, 72 persen Hindu, dan 77 persen Yahudi puas dengan kesehatan mereka antara 2016 dan 2018.

Namun sebaliknya 64 persen orang yang tidak beragama melaporkan puas dengan kesehatan mereka.

Kepala Program Coexist House, Michael Wakelin, mengatakan hasil penelitian ini ada hubungannya dengan sikap syukur. Coexist House bekerja bersama dengan Universitas Cambridge dan Pusat Media Agama.

"Jika Anda berpendapat bahwa Tuhan mencintai Anda dan dia yang menciptakan Anda, Anda cenderung bersyukur atas apa yang Anda miliki," jelasnya, dikutip dari The Telegraph, Kamis (27/2).

1 dari 1 halaman

Perokok Cenderung Ateis

ONS juga melaporkan bahwa prevalensi merokok secara signifikan lebih tinggi di antara mereka yang diidentifikasi tidak beragama daripada beberapa kelompok agama lain. Banyak agama melarang merokok dan konsumsi alkohol.

Totalnya, 18 persen orang yang diidentifikasi tak beragama adalah perokok. Sebaliknya 17 persen umat Buddha, 11 persen Muslim, 11 persen Kristen, 5 persen Hindu, 4 persen Yahudi, dan 2 persen Sikh.

Dr Antony Lempert dari Forum Pengobatan Sekuler Masyarakat Sekuler Nasional (NSS) mengatakan ada banyak variabel untuk mengukur kesehatan fisik dan mental.

"Dalam konteks ini, peningkatan kepuasan kesehatan yang dilaporkan sendiri oleh orang-orang Kristen, Hindu dan Yahudi dapat mencerminkan manfaat dari agama-agama tertentu tetapi mungkin sama-sama mencerminkan interaksi yang kompleks dari faktor-faktor lain termasuk demografi orang-orang yang disurvei, risiko kesehatan tambahan seperti merokok dan fakta bahwa hasil ini bergantung pada pelaporan diri sebagai penanda kesehatan," jelasnya. (mdk/pan)

Baca juga:
Melihat Keseruan Lomba Lari Pancake di Inggris
Kisah Pasien di Inggris Mainkan Biola Saat Operasi Tumor Otak
Calon Teroris Ini Tulis Rencananya Jika Masuk Surga, Ingin Istana dan 72 Istri
Ketika Rencana PM Inggris Bangun Jembatan Laut Dituding Pengalihan Isu
Ilmuwan Inggris akan Menyelam di Zona Paling Gelap dan Dalam di Samudra Hindia
Dua Warga Inggris dan Spanyol Terjangkit Virus Corona di Prancis

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami