Perang Turki-Kurdi di Suriah, Pertempuran Manbij Sudah Dimulai

DUNIA | 16 Oktober 2019 07:36 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Awal pekan ini milisi pemberontak Suriah pro-Turki, melancarkan operasi untuk merebut kota strategis Manbij dari pasukan Kurdi Suriah. Ini merupakan perkembangan terbaru dari operasi militer Turki yang ingin menyingkirkan Kurdi dari wilayah utara dan timur laut Suriah.

Operasi ini terjadi ketika pasukan pemerintah Suriah pimpinan Presiden Basyar al-Assad yang didukung Rusia mulai bergerak menuju medan perang di utara, setelah Damaskus membuat kesepakatan dengan Pasukan Demokrat Suriah (SDF) yang dipelopori Kurdi untuk membendung serangan Turki.

"Pertempuran Manbij telah dimulai," kata Mustafa Seijari, seorang pejabat sayap politik dari milisi pemberontak Suriah yang didukung Turki mengatakan di Twitter pada Senin 14 Oktober, seperti dikutip dari Aljazeera, Selasa (15/10).

Manbij sering bertukar tangan selama konflik. Kota itu ditangkap oleh pemberontak Suriah anti-Assad pada 2012, sebelum ditangkap oleh ISIS dua tahun kemudian, untuk kemudian direbut oleh milisi SDF pada 2016 --yang menandai kekalahan teritorial ISIS di Manbij.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan mereka datang ke sana bukan untuk berperang dengan tentara Suriah pimpinan Presiden Assad yang dibeking Rusia.

"Ketika Manbij dievakuasi, kami tidak akan masuk ke sana sebagai Turki. Saudara-saudara Arab kami, yang adalah pemilik sebenarnya, suku-suku ... akan kembali ke sana. Pendekatan kami adalah untuk memastikan kembalinya dan keamanan mereka di sana," kata Erdogan.

Turki mengatakan, operasinya ditujukan untuk membersihkan area Suriah utara dan timur laut dari unsur-unsur "teroris" dan menciptakan apa yang disebut "zona aman" di mana beberapa dari 3,6 juta pengungsi Suriah di Turki dapat dimukimkan kembali di sana.

Ankara menganggap Kelompok Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG), yang menjadi tulang punggung SDF, kelompok "teroris" yang terkait dengan separatis Kurdi di Turki.

1 dari 1 halaman

Kesepakatan Kurdi-Damaskus

Pasukan Kurdi yang sebelumnya bersekutu dengan Amerika Serikat di Suriah Minggu lalu mencapai kesepakatan dengan pemerintah Suriah di Damaskus setelah AS memutuskan menarik pasukannya dari utara Suriah.

Dilansir dari laman the New York Times, Senin (14/10), kesepakatan itu menjadi perubahan besar pada peta konflik Suriah yang sudah berlangsung selama delapan tahun sejak 2011.

Selama lima tahun sebelumnya AS mengandalkan pasukan Kurdi untuk memerangi kelompok militan ISIS dan mencegah pengaruh Rusia dan Iran yang mendukung rezim Suriah.

Minggu kemarin, setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penarikan mundur pasukan, pengaruh AS pada pasukan Kurdi pun sirna. Kondisi ini membuat Presiden Basyar al-Assad dan Rusia serta Iran yang mendukungnya menjadi lebih leluasa. Situasi ini juga di sisi lain membahayakan kemenangan terhadap ISIS dan memberi peluang kelompok militan itu bangkit lagi.

Kesepakatan antara Kurdi dan Damaskus membuka jalan bagi pasukan pemerintah Suriah untuk kembali ke wilayah timur laut Suriah buat pertama kalinya selama delapan tahun terakhir dengan tujuan menghadapi invasi Turki di perbatasan. Penarikan mundur pasukan AS ini membuat situasi konflik Suriah memasuki babak baru yang tidak kalah akan menimbulkan pertumpahan darah. (mdk/pan)

Baca juga:
AS Beri Turki Sanksi dan Desak Gencatan Senjata dengan Kurdi di Suriah
Memahami Peta Baru Konflik Suriah dari 10 Pertanyaan
Pejuang Suriah dan Militer Turki Sempatkan Ibadah di Sela Pertempuran
Suasana Mencekam Saat Turki Bertempur Melawan Kurdi
Tak Ada Musuh Abadi, Suriah Kini Bersekutu dengan Kurdi Hadapi Turki
Pasukan Suriah Bergerak ke Utara, Bersiap Hadapi Tentara Turki di Perbatasan