Perusahaan Teknologi Israel Dituding Manfaatkan WhatsApp Untuk Memata-matai Aktivis

DUNIA | 16 Mei 2019 07:36 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Sebuah perusahaan Israel yang dituduh memasok alat untuk memata-matai aktivis hak asasi manusia dan wartawan sekarang menghadapi tuntutan bahwa teknologinya dapat memanfaatkan celah keamanan di WhatsApp, aplikasi pengiriman pesan yang digunakan oleh 1,5 miliar orang, untuk masuk ke komunikasi digital iPhone dan ponsel pengguna Android.

Peneliti keamanan mengatakan telah menemukan apa yang disebut spyware - yang dirancang untuk mengambil keuntungan dari kelemahan WhatsApp - yang mengandung karakteristik teknologi dari perusahaan NSO Group.

Teknisi WhatsApp bekerja sepanjang waktu untuk mengatasi kerentanan tersebut dan merilis versi teranyar WhatsApp Senin lalu. Perusahaan ini mendorong pelanggan memperbarui aplikasi mereka secepat mungkin.

"WhatsApp mendorong pengguna untuk meningkatkan ke versi terbaru dari aplikasi kami, serta menjaga sistem operasi seluler mereka tetap up to date, untuk melindungi dari potensi pembobolan informasi yang tersimpan di perangkat seluler," kata perusahaan milik Facebook itu dalam sebuah pernyataan, dilansir dari The New York Times, Rabu (15/5).

Peneliti mengatakan, kelemahan WhatsApp dimanfaatkan untuk menargetkan seorang pengacara London yang terlibat dalam kasus tuntutan hukum yang menuduh NSO Group menyediakan alat untuk meretas ponsel Omar Abdulaziz, seorang pembangkang Saudi di Kanada; warga negara Qatar; dan sekelompok jurnalis dan aktivis Meksiko. Para peneliti percaya daftar target bisa lebih panjang.

Penyerang digital dapat menggunakan kelemahan aplikasi tersebut untuk memasukkan kode berbahaya dan mencuri data dari ponsel Android atau iPhone hanya dengan menempatkan panggilan WhatsApp, bahkan jika korban tidak mengangkat panggilan.
Ketika pakar WhatsApp memeriksa kerentanannya, mereka menyimpulkan itu mirip dengan alat lain dari NSO Group, dilihat dari jejak digitalnya.

Pengacara, yang berbicara dengan syarat anonim karena khawatir jadi target pembalasan, mengutarakan kecurigaannya bahwa teleponnya telah diretas saat dia mulai kehilangan panggilan video WhatsApp dari nomor telepon Swedia pada jam-jam tak biasa.
Pengacara itu menghubungi Citizen Lab di Munk School of Global Affairs Universitas Toronto, yang membantu mengungkap penggunaan produk NSO Group dalam serangan terhadap jurnalis, pembangkang dan aktivis.

Sepuluh hari yang lalu, ketika Citizen Lab menyelidiki insiden itu, para teknisi di WhatsApp menemukan aktivitas panggilan suara yang tidak normal pada sistem mereka. Demikian disampaikan seorang karyawan WhatsApp yang akrab dengan penyelidikan, yang berbicara dengan syarat anonim karena penyelidikan masih berlangsung.

WhatsApp melapor ke organisasi hak asasi manusia tentang ancaman tersebut dan mengetahui dari Citizen Lab bahwa kerentanan dimanfaatkan untuk menargetkan pengacara.

WhatsApp mengatakan telah memperingatkan Departemen Kehakiman atas serangan itu. Kesalahan WhatsApp pertama kali dilaporkan pada hari Senin oleh The Financial Times.

Produk-produk NSO Group, yang beroperasi secara rahasia selama bertahun-tahun, ditemukan pada tahun 2016 sebagai bagian dari kampanye mata-mata pada iPhone seorang aktivis hak asasi manusia yang sekarang dipenjara di Uni Emirat Arab melalui kerentanan keamanan Apple yang tidak diungkapkan. Sejak saat itu, spyware Grup NSO telah ditemukan di iPhone jurnalis, pembangkang dan bahkan ahli gizi.

Perusahaan tersebut telah lama mengampanyekan produknya dijual ke lembaga pemerintah semata-mata untuk memerangi terorisme dan membantu penyelidikan penegakan hukum.

NSO Group mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Senin, spyware-nya secara ketat dilisensikan ke badan-badan pemerintah dan akan menyelidiki dugaan penyalahgunaan tersebut.
Perusahaan itu mengatakan tak terlibat dalam mengidentifikasi target dengan memanfaatkan teknologi yang dikembangkannya, termasuk terhadap pengacara yang baru-baru ini menggugatnya.

Tanggapan NSO konsisten dengan tanggapan sebelumnya dari perusahaan Israel, yang mengklaim memiliki komite etika internal yang memutuskan apakah akan menjual ke negara berdasarkan catatan hak asasi manusia mereka atau tidak.

Spyware NSO ditemukan dimanfaatkan pemerintah Uni Emirat Arab, Arab Saudi dan Meksiko.

Baca juga:
Aksi Penyanyi Palestina Konser di Reruntuhan Jalur Gaza
Israel Ciduk 3 Nelayan Palestina di Lepas Pantai Jalur Gaza
Diblokade Selama Konflik, Israel Buka Pos Perbatasan Jalur Gaza
Tentara Israel Tembak Mati Warga Palestina Saat Unjuk Rasa di Jalur Gaza
Demi Salat Jumat di Al Aqsa, Warga Palestina Nekat Panjat Tembok Israel

(mdk/pan)