Perusahaan Terlibat Karhutla, Malaysia Ingin Buat UU Kualitas Lingkungan

DUNIA | 21 September 2019 16:56 Reporter : Ellen Riveren

Merdeka.com - Seorang anggota parlemen DAP mengatakan hari ini bahwa ia akan menulis surat kepada Jaksa Agung Tommy Thomas pada hari Senin, mendesak untuk mengeluarkan sertifikat di bawah Bagian 22 Pengadilan Peradilan ACT (CJA) untuk membuat Undang-undang Kualitas Lingkungan 1974 ekstrateritorial, Minggu (21/9).

Dilansir dari Malaymail, MP Klang Charles Santiago mengatakan hal ini untuk memberdayakan pemerintah federal untuk mengambil tindakan terhadap perusahaan-perusahaan Malaysia yang ada di Indonesia yang anak perusahaannya dituduh terlibat dalam kejadian kabut asap melalui kegiatan tebang dan bakar hutan di Indonesia.

"Dengan demikian, saya berharap Jaksa Agung akan mempertimbangkan saran saya dan pemerintah Indonesia harus bekerja sama untuk menamai perusahaan-perusahaan Malaysia yang nakal atau tidak mungkin untuk menerapkan yurisdiksi ekstrateritorial," katanya dalam sebuah pernyataan di sini.

Santiago juga mengatakan sangat mungkin bagi kekuatan yang berada di tangan Jaksa Agung untuk melakukan hal itu, mengutip pernyataan dua pengacara Surendra Ananth dan Datuk Gurdial Singh Nijar.

Santiago kemudian mengatakan Gurdial juga menunjukkan bahwa kekuatan esktrateritorial atas undang-undang bukan tanpa preseden sebagaimana dicatat dalam putusan Pengadilan AS pada tahun 2006 terhadap perusahaan Kanada karena mengeluarkan limbah berbahaya yang tidak diolah ke bagian Kanada dari sungai yang mengalir ke Negara Bagian AS dari Washington.

"Oleh karena itu Jaksa Agung dapat mendeklarasikan komisi pelanggaran seperti itu sebagai pelanggaran keamanan nasional sehingga memberikan yurisdiksi pengadilan Malaysia," tambahnya.

Pada 18 September lalu, Perdana Menteri Tun Dr Mahathir Mohamad mengatakan, pemerintah dapat membuat undang-undang baru untuk membuat perusahaan Malaysia yang beroperasi di luar negara dan bertanggung jawab untuk berkontribusi terhadap kabut asap.

Namun Santiago mengatakan saran Dr Mahathir akan memakan waktu karena bersedia menunggu untuk melihat apakah perusahaan mengambil inisiatif untuk memadamkan api.

"Sekolah kami tetap tertutup dan orang-orang tersedak kabut asap. Banyak yang mengeluh batuk terus-menerus, infeksi tenggorokan dan mata yang melepuh," katanya.

Ia juga memberikan dukungan di belakang pawai Mogok Iklim Global hari ini yang akan diadakan di dekat Dataran Merdeka, dengan mengatakan baha penting bagi warga Malaysia untuk mendaftarkan keprihatian tentang bencana lingkungan.

Kebakaran di hutan yang terjadi di Kalimantan dan Sumatera diketahui bahwa setidaknya terdapat empat perusahaan asing yang terlibat, salah satunya milik Malaysia.

Baca juga:
Kabut Asap, Malaysia Berencana Pakai Drone untuk Bikin Hujan Buatan
Atasi Kabut Asap, Malaysia Bikin Hujan Buatan
Dua Juta Siswa Malaysia Diliburkan karena 2000 Sekolah Ditutup Akibat Kabut Asap
Data AirVisual, Jakarta Posisi Ketujuh Udara Terburuk di Dunia Pagi Ini
Semua Sekolah di Penang Malaysia Diliburkan karena Kabut Asap
Bisakah Malaysia Tuntut Indonesia ke Mahkamah Internasional karena Kabut Asap?

(mdk/eko)