Pesan Toleransi dari Pelukis Pasir Oman: Manusia Harus Berdamai dengan Semua Orang

DUNIA | 14 November 2019 17:01 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Jari-jarinya begitu luwes menabur pasir di atas kaca yang tersorot kamera. Sekitar 10 menit, Shayma Al Mughairy (25) bercerita melalui medium lukisan pasir. Pelukis pasir dari Oman ini menceritakan kisah sederhana namun syarat nilai. Melalui lukisan pasirnya, dia ingin menebarkan pesan perdamaian dan toleransi, bahwa semua manusia adalah sama, terlepas dari apapun warna kulit, agama, dan rasnya.

Shayma Al Mughairy tampil dalam acara pembukaan pameran Pesan Islam dari Oman yang diselenggarakan Kedutaan Besar Kesultanan Oman di Perpustakaan Nasional, Kamis (14/11). Pameran ini dibuka langsung Duta Besar Kesultanan Oman, Nazar bin Al Julanda bin Majid Al Said dan akan berlangsung dari 14-18 November mendatang.

"Penampilan saya tadi saya ingin menyampaikan pesan toleransi dan saling pengertian dan itu poin utamanya," kata Shayma.

Dia mengatakan melukis pasir adalah seni yang cukup unik. Melalui medium ini, dia bisa mengisahkan sebuah cerita.

"Jadi saya ambil pesannya dan menciptakan sendiri ceritanya, dan karakternya berganti-ganti dan itu sangat indah dan menginspirasi," kata dia.

Kisah yang diceritakan melalui medium lukisan pasir adalah bagaimana menjadi orang yang berbeda di tengah masyarakat. Dia mencontohkan seorang anak berkulit gelap yang tinggal di lingkungan dominasi kulit putih dan merasa diabaikan. Anak ini kemudian merasa sendiri dan tak memiliki teman.

"Dia memanfaatkan kesendiriannya untuk menolong sesama jadi dia bertemu seorang anak miskin dan dia memberikan bukunya. Jadi dia bisa belajar dan memberikan pelajaran tentang perbedaan agama dan mengajarkannya bahwa kita semua sama. Jadi ini adalah pesan utama dari cerita ini bahwa kita semua sama," jelasnya.

1 dari 1 halaman

Tak Asing dengan Indonesia

Bagi Shayma, toleransi sangat penting karena sangat dekat dengan perdamaian. Sebagai makhluk sosial, manusia juga harus berdamai dengan semua orang tanpa memandang warna kulit, ras, agama, dan lainnya.

Shayma mengungkapkan dia juga kerap dilanda perasaan khawatir tak akan diterima oleh komunitas di luar negaranya seperti Amerika dan Eropa. Dia khawatir orang-orang Barat akan menilainya berdasarkan penampilannya.

"Saat saya berkunjung ke AS dan Eropa saya awalnya takut orang-orang akan menilai saya berdasarkan penampilan saya, tapi ternyata enggak. Mereka sangat menyukai seni ini dan merasa terkejut bahwa sebagai perempuan muslim khaliji saya merepresentasikan bahkan tanpa menunjukkan diri saya sendiri dan bisa melakukan semuanya. Mereka sangat terkesan saya melakukannnya dan mereka memahami maksud yang saya sampaikan dan itu poin utamanya. Jadi mereka sangat bahagia," kata dia.

Shayma mulai menekuni seni melukis pasir sejak berusia 15 tahun atau sejak 10 tahun yang lalu. Ini adalah kunjungan pertamanya ke Indonesia. Namun dia mengaku tak asing dengan Indonesia karena pengasuhnya berasal dari Indonesia.

"Pengasuh saya dulu orang Indonesia dan dia menceritakan banyak hal tentang budaya Indonesia," pungkasnya.

(mdk/pan)

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.