Picu Demo di Hong Kong Lagi, Apa Isi RUU Lagu Kebangsaan China?

Picu Demo di Hong Kong Lagi, Apa Isi RUU Lagu Kebangsaan China?
DUNIA | 29 Mei 2020 07:07 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Aksi demonstrasi terbaru terjadi di Hong Kong pada Rabu lalu. Demo dipicu rancangan undang-undang kontroversial di mana penghinaan atas lagu kebangsaan China masuk kategori pelanggaran pidana dengan ancaman hukuman sampai tiga tahun penjara.

Rencana para pengunjuk rasa untuk 'mengepung' kompleks legislatif kota ketika anggota parlemen kota rapat terkait RUU Lagu Kebangsaan yang kedua pada Rabu pagi tidak terwujud, tetapi unjuk rasa pecah sekitar jam makan siang di beberapa distrik.

Di distrik perdagangan dan perbelanjaan Causeway Bay, kelompok-kelompok massa berkumpul untuk meneriakkan slogan-slogan protes di sebuah pusat perbelanjaan kelas atas. Polisi melakukan penangkapan massal di daerah itu.

Polisi anti huru hara menembakkan semprotan merica ke kerumunan yang berkumpul di kawasan pusat bisnis, meneriakkan slogan-slogan seperti: "Berjuang untuk kebebasan, berdirilah bersama Hong Kong." Wilayah ini merupakan lokasi kantor pusat beberapa bank internasional dan firma hukum.

Menjelang sore, pengunjuk rasa berkumpul di daerah Mong Kok untuk melakukan aksi dadakan, sebelum mereka dibubarkan polisi. Sekitar 300 orang ditangkap pada Rabu, menurut media setempat.

Unjuk rasa pada Rabu pecah hanya beberapa hari setelah ribuan orang turun ke jalan pada Minggu untuk menggalang dukungan menolak undang-undang keamanan nasional yang diusulkan Beijing.

Undang-undang keamanan nasional menargetkan pemisahan diri, hasutan, terorisme, dan campur tangan asing di Hong Kong tetapi akan diberlakukan oleh pemerintah di Beijing, melewati proses legislatif Hong Kong.

Para kritikus mengatakan undang-undang itu akan digunakan untuk membungkam mereka yang menentang Beijing, meskipun pemimpin Hong Kong telah menepis kekhawatiran dan mengatakan itu tidak akan mengganggu kebebasan Hong Kong.

Dilansir dari TIME, Kamis (28/5), ini hal-hal yang harus diketahui terkait RUU Lagu Kebangsaan China:

1 dari 5 halaman

Apa Itu RUU Lagu Kebangsaan China?

RUU ini bisa mengkriminalisasi penghinaan atau penyalahgunaan lagu kebangsaan China yang berjudul "Parade Relawan".

Memainkan atau menyanyikan lagu kebangsaan dengan cara "tidak hormat atau menyimpang" atau "terbuka dan disengaja" akan dikenakan denda 50.000 dolar Hong Kong atau sekitar Rp 95 juta lebih dan hukuman tiga tahun penjara.

RUU itu juga menetapkan lagu kebangsaan tak bisa digunakan sebagai musik latar belakang di depan umum. Lagu harus dimainkan di sekolah-sekolah untuk mengedukasi pelajar Hong Kong terkait sejarah dan semangat lagu kebangsaan.

Beijing menerapkan UU serupa di China daratan pada Oktober 2017. Pada November 2017, badan legislatif tertinggi China menambahkan sebuah klausul ke UUD Hong Kong, yang mewajibkan pemerintah Hong Kong memberlakukan undang-undang keamanan nasional secara lokal.

RUU ini pertama kali diperkenalkan ke badan legislatif Hong Kong pada awal 2019, tetapi gagal ditindaklanjuti setelah RUU ekstradisi memicu demonstrasi massa dan menjerumuskan Hong Kong ke dalam enam bulan unjuk rasa anti pemerintah.

2 dari 5 halaman

Kenapa Bisa Memicu Demo?

RUU ini dilihat sebagai pelanggaran Beijing atas kebebasan Hong Kong, seperti kebebasan berbicara. "Ini adalah pembatasan kebebasan pribadi, kebebasan berekspresi," kata Au Nok-hin, yang menjabat sebagai legislator dari 2018 hingga 2019 kepada TIME.

Langkah-langkah masa lalu oleh pihak berwenang China yang dianggap membatasi kebebasan telah memicu demonstrasi besar-besaran di Hong Kong. Ribuan pengunjuk rasa pada Minggu melakukan aksi menentang undang-undang keamanan nasional, yang diumumkan oleh badan pembuat undang-undang China pekan lalu yang rencananya akan diterapkan untuk Hong Kong.

Maya Wang, seorang peneliti senior China di Human Rights Watch mengatakan RUU lagu kebangsaan akan menjadi perkembangan suram untuk Hong Kong.

Menurutnya RUU Lagu Kebangsaan dan RUU Keamanan Nasional akan membuat Hong Kong tak lagi menjadi tempat di mana orang dapat berbicara tanpa rasa takut.

"Ini adalah langkah menuju pembatasan yang lebih besar dan lebih komprehensif tentang kebebasan berekspresi yang mengikuti tren secara keseluruhan di seluruh daratan China," jelasnya.

3 dari 5 halaman

Reaksi Anggota Parlemen Hong Kong

parlemen hong kong

Anggota parlemen pro demokrasi menentang RUU tersebut. Salah satunya Dennis Kwok yang mengatakan RUU itu merupakan tanda rezim otoriter yang akan mengkriminalisasi semua tindakan yang tidak mereka sukai.

"Penghormatan rakyat harus didapatkan bukan malah ditetapkan dengan hukuman," kata Fernando Cheung, seorang anggota parlemen pro-demokrasi, kepada TIME.

"Beijing telah gagal mendapatkan rasa hormat dari warga Hong Kong dalam 23 tahun terakhir dan sekarang siap untuk menekan kami untuk membuat Hong Kong menjadi kota biasa di daratan."

4 dari 5 halaman

Alasan Beijing Ingin Mengesahkan RUU Lagu Kebangsaan

Kepala Sekretaris Hong Kong, Matthew Cheung mengatakan kepada media lokal bahwa pemerintah memiliki "tanggung jawab konstitusional" untuk memberlakukan RUU ini secepatnya.

"Lagu kebangsaan adalah simbol dan tanda bangsa. UU lagu kebangsaan adalah penerapan UU Republik Rakyat China dengan undang-undang setempat," jelasnya.

Kepala Eksekutif Hong Kong, Carrie Lam meminta legislatif untuk menjadikan RUU ini prioritas utama (beberapa undang-undang yang diusulkan telah ditumpuk oleh perselisihan selama berbulan-bulan antara oposisi blok politik). RUU itu akan kedaluwarsa dan harus melalui seluruh proses legislatif lagi jika tidak disahkan pada reses musim panas legislator pada bulan Juli, menurut media setempat.

Para ahli mengatakan Beijing telah menjadi tidak sabar dengan Hong Kong, dan ingin mendorong perubahan, termasuk UU keamanan nasional dan UU lagu kebangsaan, untuk memerangi gerakan pro demokrasi.

"Tahun lalu mereka dikejutkan oleh protes keras, 1 juta orang, 2 juta orang dan sebagainya, sehingga mereka ingin bertindak cepat," jelas asisten profesor di Pusat Studi China Universitas China di Hong Kong, Willy Lam kepada TIME.

Reformasi lain juga tampaknya sedang dipertimbangkan. Pada awal Mei, pemimpin kota itu mengkritik sistem pendidikan, mengatakan pemerintah akan mengumumkan rencana tahun ini untuk mengatasi masalah internal. Pelatihan "kajian liberal" yang merupakan bagian dari kurikulum Hong Kong disalahkan karena dinilai mendorong para siswa ikut unjuk rasa.

5 dari 5 halaman

Target Pengesahan Awal Juni

RUU ini bisa ditetapkan secepatnya 4 Juni, menurut South China Morning Post. "Kami sebagai minoritas di legislatif tak bisa berupaya banyak," kata anggota parlemen pro demokrasi, Fernando Cheung.

"Harapan saya adalah di bawah kebijakan tangan besi Partai Komunis, UU lagu kebangsaan kemungkinan besar akan disahkan," kata mantan legislator Au Nok-hin.

"Tapi itu tidak akan pernah mendapat dukungan publik."

Pengamat HAM mengatakan, tindakan Beijing harus dianggap sebagai peringatan oleh komunitas internasional.

"Hong Kong seperti burung kenari di tambang batu bara terhadap perilaku China yang semakin agresif karena melanggar komitmen internasional," kata Maya Wang dari Human Rights Watch. (mdk/bal)

Baca juga:
Tolak Aturan Keamanan dari China, Ribuan Warga Hong Kong Kembali Turun ke Jalan
Uniknya Action Figure Pengunjuk Rasa Pro-Demokrasi Hong Kong
Dunia Dalam Demonstrasi Sepanjang 2019
Enam Bulan Demo Hong Kong, Dipicu RUU Ekstradisi Meluas Ke Gerakan Pro Demokrasi
Demonstran di Hong Kong Kembali Ricuh Jelang Pertemuan Xi Jinping dan Carrie Lam
Jurnalis Indonesia yang Ditembak Polisi Saat Demo Hong Kong Buta Matanya dan Trauma

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Menolak Bahaya Lebih Baik Daripada Mengejar Manfaat

5