Polisi Filipina yang Menyamar Saling Tembak Saat Penggerebekan Narkoba, Dua Tewas

Polisi Filipina yang Menyamar Saling Tembak Saat Penggerebekan Narkoba, Dua Tewas
Penggerebekan kampung narkoba di Filipina. ©Reuters/Romeo Ranoco
DUNIA | 26 Februari 2021 15:11 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Dua petugas polisi di Filipina tewas dalam sebuah insiden saling tembak dengan anggota agen federal selama menyamar dalam penggerebekan narkoba, menurut media pemerintah Philippine News Agency (PNA).

Dua petugas ini, dari Kepolisian Nasional Filipina (PNP), berhadapan dengan petugas dari Badan Penanggulangan Narkoba Filipina (PDEA) di Kota Quezon pada Rabu malam. Tiga anggota PDEA juga terluka dalam konfrontasi itu dan dirawat di rumah sakit.

Polisi dari unit operasi khusus Kepolisian Distrik Kota Quezon sedang melaksanakan operasi penggerebekan narkoba di halaman parkir restoran cepat saji ketika mereka menemukan mereka bertransaksi dengan anggota PDEA. Sesaat kemudian terjadi insiden saling tembak; penyebab pasti penembakan tersebut belum jelas, seperti dikutip dari CNN, Jumat (26/2).

Pihak berwenang telah meluncurkan penyelidikan paralel baik melalui penyelidikan gabungan PNP-PDEA dan penyelidikan oleh Biro Penyelidikan Nasional Filipina.

“Sampai sekarang, hal yang jelas ialah Layanan Penegakan Khusus PDEA berada di area itu dalam operasi yang sah,” jelas juru bicata PDEA, Derrick Carreon.

“Kami akan menyerahkannya ke Badan Penyelidikan Gabungan. Kami akan melihat dokumennya besok. Untuk saat ini, prioritas kami adalah mengunjungi anggota kami yang terluka,” jelas Carreon.

Juru bicara PNP, Brigjen Ildebrandi Usana mengatakan kepada PNA, insiden tersebut tak akan mempengaruhi hubungan kedua lembaga dan koordinasi mereka dalam memberantas narkoba.

“Untuk kepentingan memastikan kebenaran di balik insiden itu, Badan Penyelidikan Gabungan PNP-PDEA akan dibentuk untuk memastikan apa penyebabnya dan siapa yang seharusnya bertanggung jawab,” jelas Usana.

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte telah memimpin kampanye perang terhadap narkoba di negara tersebut sejak berkuasa pada 2016. Kampanye ini telah menyebabkan ratusan orang meninggal, menurut laporan kepolisian dan kelompok HAM. (mdk/pan)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami