Hot Issue

Rakyat Versus Raja, Gemuruh Revolusi di Thailand

Rakyat Versus Raja, Gemuruh Revolusi di Thailand
DUNIA | 16 Oktober 2020 07:13 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Mengkritik kerajaan adalah hal yang sangat sensitif di Thailand. Pengkritik kerajaan bisa terancam penjara dan dihukum selama mungkin. Namun dalam beberapa bulan terakhir, pecah demonstrasi yang menuntut reformasi.

Akhir pekan kemarin, unjuk rasa kembali terjadi di ibu kota negara, Bangkok. Mereka menuntut perubahan dan mendesak PM Thailand, Prayuth Chan-ocha mundur. Unjuk rasa akhir pekan kemarin disebut sebagai unjuk rasa terbesar dalam beberapa tahun yang dihadiri puluhan ribu massa. Sampai pihak berwenang mengeluarkan dekrit keadaan darurat, melarang massa berkumpul.

Dalam beberapa bulan terakhir, kesakralan kerajaan dan raja yang dilindungi dari kritik masyarakat didobrak generasi muda Thailand, yang secara terbuka menantang lembaga kekuasaan itu.

Pada Selasa, bentrokan pecah antara pengunjuk rasa anti kerajaan dan polisi di Monumen Demokrasi Bangkok, yang menjadi tempat pertemuan selama unjuk rasa berbulan-bulan. Polisi mengatakan 21 orang ditangkap.

Para pengunjuk rasa sebagian menutup jalan dekat monumen dan membentuk barikade, yang berusaha dibubarkan polisi.

Kemudian, iring-iringan mobil Raja Thailand, Maha Vajiralongkorn melewati para pengunjuk rasa untuk pertama kalinya. Para demonstran berseru "bebaskan kawan kami" dan mengacungkan tiga jari, terinspirasi film The Hunger Games, yang menjadi simbol unjuk rasa.

Juru bicara Wakil Kepolisian, Kolonel Polisi Kissana Phathanacharoen, mengonfirmasi para demonstran ditangkap karena berunjuk rasa tanpa izin dan ditahan karena melanggar UU Perkumpulan Publik.

Baca Selanjutnya: Tabu sudah dilanggar...

Halaman

(mdk/pan)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami