Ratusan Anak Sekolah di Libanon Demo Menentang Kurikulum 'Kuno'

DUNIA | 22 November 2019 14:44 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Ratusan anak sekolah di Lebanon melakukan aksi demo pada Kamis menentang kurikulum yang mereka nilai kuno, yang tak memasukkan perang sipil 15 tahun di negara tersebut.

Unjuk rasa yang berlangsung di luar Kementerian Pendidikan di Beirut itu merupakan aksi terbaru gerakan anti pemerintah secara nasional yang terjadi di Libanon sejak 17 Oktober lalu.

"Buku sejarah kami perlu dibuang," kata Jana Jezzine (16) saat demonstran di sekelilingnya melambaikan bendera nasional dan salah satu perempuan membakar buku pelajaran, dilansir dari laman Alarabiya, Jumat (22/11).

Pelajaran sejarah dalam buku terhenti saat penarikan tentara Prancis pada tahun 1946, tiga tahun setelah berakhirnya penjajahan 23 tahun Prancis di Libanon. Tetapi kurangnya konsensus atas versi umum dari perang sipil 1975-1990 telah sepenuhnya dihilangkan dari kurikulum.

Buku pelajaran juga tak menyebutkan peristiwa penting setelahnya, seperti penarikan pasukan Israel dari Libanon selatan tahun 2000 atau unjuk rasa besar yang mengakhiri kehadiran militer Suriah tahun 2005.

Pelajar 18 tahun, Aya Haider mengatakan dia tiada henti mempelajari Perang Dunia I dan II, tapi tak mendapat pelajaran apapun tentang sejarah terbaru negaranya.

"Saya tak tahu apapun tentang perang sipil," katanya kepada AFP.

1 dari 1 halaman

Kekuatan Utama

Sejak bulan lalu, warga Libanon dari semua agama turun ke jalan memprotes pemerintah yang dinilai tak becus dan korup, meminta pemerintah mengundurkan diri. Anak-anak sekolah dan mahasiswa muncul sebagai kekuatan utama selama demonstrasi baru-baru ini, mengatakan mereka dengan senang hati tak sekolah selama setahun untuk membantu membangun kembali negara mereka.

Pada Oktober lalu, ratusan ribu warga Libanon kemarin turun ke jalan menuntut perbaikan ekonomi dan pemerintahan yang korup. Massa turun ke jalan karena dipicu rencana pengenaan pajak untuk pemakaian telepon via aplikasi WhatsApp dan aplikasi pesan singkat lainnya.

Laman Aljazeera melaporkan, Senin (21/10), di Ibu Kota Beirut, kota kedua terbesar Tripoli, kerumunan massa di jalanan membuat kota itu lumpuh. Warga mengibar-ngibarkan bendera nasional dan meneriakkan 'revolusi', 'menuntut pemerintah mundur'. Peristiwa ini mengingatkan orang akan 'Musim Semi Arab', rangkaian demonstrasi besar-besaran yang akhirnya menumbangkan rezim di Timur Tengah pada 2011 lalu. Massa juga dilaporkan turun ke jalan di Kota Sidon dan Baalbak.

Tuntutan utama demonstran adalah pemberantasan korupsi. Mereka menyebut para pemimpin negara menyalahgunakan kekuasaan untuk memperkaya diri selama sekian dekade. (mdk/pan)

Baca juga:
Ribuan Warga Libanon Kembali Turun ke Jalan Serukan Pemogokan dan Pemerintah Mundur
Hizbullah Tembak Jatuh Drone Israel di Libanon Selatan
PM Libanon Setuju Reformasi Ekonomi, Demonstran Tidak Puas
Ribuan Warga Libanon Demo Protes Pemerintah yang Korup
Lika-liku Perjalanan Senjata Buatan AS Jatuh ke Tangan Militan
KBRI Beirut Siarkan Live Pilpres 2019 di Facebook, Jokowi Ungguli Prabowo