Hot Issue

"Sangat Sulit Bertahan Hidup di Afghanistan, Apalagi Kalau Anda Perempuan"

"Sangat Sulit Bertahan Hidup di Afghanistan, Apalagi Kalau Anda Perempuan"
Salon kecantikan di Kabul, berusaha menutup gambar perempuan yang terpampang pada poster.. ©AFP
DUNIA | 15 Januari 2022 07:27 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Bagi Zaigul, ibu rumah tangga 32 tahun dari Provinsi Nangarhar yang tinggal di kamp Nasaji untuk pengungsi dalam negeri di dekat ibu kota, Kabul, hidup memang telah sulit sebelum Taliban mengambil alih kekuasaan pada 15 Agustus 2021.

Dia bekerja sebagai PRT sementara suaminya, Nasir, bekerja sebagai buruh bangunan demi menghidupi tujuh anak-anak mereka, tapi sekarang mereka tidak lagi bekerja. Sejak Taliban kembali berkuasa, Afghanistan telah terjun ke dalam krisis ekonomi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, di mana bank-bank kehabisa uang tunai dan para pegawai negeri tidak pernah digaji selama berbulan-bulan.

Pembekuat miliaran dolar aset Afghanistan oleh Amerika Serikat dan penghentian bantuan dana oleh lembaga keuangan internasional telah menyebabkan hampir runtuhnya sistem perekonomian Afghanistan yang rapuh yang dirusak oleh peperangan dan pendudukan selama puluhan tahun.

Zaigul, seperti jutaan orang Afghanistan lainnya, tidak punya pekerjaan karena sebagian besar kegiatan ekonomi terhenti sejak runtuhnya pemerintahan Presiden Ashraf Ghani yang didukung Barat dan penarikan pasukan AS dari negara itu pada Agustus lalu.

"Masalah yang paling mendesak adalah kesulitan keuangan," ujar Zaigul, saat dia duduk di lantai rumahnya yang hanya satu kamar, dikelilingi anak-anaknya.

"Anda bisa hidup tanpa kebebasan, tapi Anda tidak bisa hidup kalau Anda tidak punya apapun untuk dimakan," katanya kepada Al Jazeera, dikutip Jumat (14/1).

PBB pada Selasa menyampaikan, sekitar 22 juta orang, lebih dari setengah populasi Afghanistan, menghadapi kelaparan akut. Diperlukan bantuan hampir USD 5 miliar untuk mencegah bencana kemanusiaan di Afghanistan.

Seperti banyak keluarga di Afghanistan, pendapatan rumah tangga Zaigul dan Nasir hilang dalam beberapa bulan terakhir.

Dengan banyaknya proyek bangunan yang dihentikan setelah Taliban berkuasa, dan banyak keluarga tidak bisa membayar gaji PRT, pasangan itu kini pengangguran.

"Tidak ada dari kami yang bisa mendapatkan kerja lagi. Kami kekurangan sebagian besar kebutuhan mendasar - makanan, baju hangat, dan penghangat untuk membuat rumah kami tetang hangat," kata Zaigul, sembari melilitkan syal hitam tipis di pundaknya.

Dua putrinya yang remaja meringkut di dekatnya, sementara anaknya yang paling kecil, masih balita bernama Sana, duduk memainkan kain perca di belakang. Walaupun dingin, kakinya telanjang, dan tidak memakai baju yang cukup hangat.

Rumah satu kamar Zaigul kosong kecuali ada beberapa matras usang yang digelar di lantai semen yang dingin itu. Pada siang hari, keluarga ini menggunakan matras itu untuk duduk, sebelumnya mengubahnya menjadi kasur pada malam hari.

Di pojok, kantong tepung kosong diletakkan di dekat kompor berkarat yang dia gunakan untuk membuat roti pada malam hari.

Zaigul mengenang hidup sebelum Taliban berkuasa, mengatakan walaupun dia miskin, keluarganya memiliki pendapatan walaupun kecil dan sumbangan dari NGO internasional yang bisa membantunya selama musim dingin.

"Tapi sekarang, bahkan (bantuan) itu terhenti," sesalnya.

"Anak-anak saya pergi mengumpulkan sampah yang kami berusaha jual, atau kertas untuk dibakar untuk menghangatkan kami. Kadang-kadang, saya berpikir untuk pergi ke jalan mengemis," lanjutnya, air mata timbul di sudut matanya.

Sanksi Barat telah memaksa NGO internasional menghentikan operasionalnya di negara itu.

2 dari 3 halaman

Tantangan perempuan Afghanistan

Seperti Zaigul, Eloom Bibi (35), janda dan ibu enam anak dari desa Shemol di pinggiran Jalalabad, juga sangat bergantung pada sumbangan setelah suaminya yang bekerja sebagai polisi meninggal empat tahun lalu.

"Amal dari orang-orang sangat membantuku. Tapi sekarang, tidak ada dan saya paham kenapa. Orang-orang pengangguran," ujarnya.

"Ada ribuan janda di negara ini yang biasanya bekerja. Sekarang Taliban telah mengambil alih negara, semua perempuan diminta diam di rumah."

"Apa yang bisa dilakukan seorang perempuan untuk membantu keluarganya" tanyanya.

Bibi telah berjuang bisa membayar uang kontrakan, membeli makanan untuk anak-anaknya dan membayar biaya sekolah mereka.

"Segalanya lebih baik sebelumnya," ujarnya seraya memeluk tiga putrinya.

"Anak-anak saya bersekolah, yang laki-laki dan perempuan. Kami biasanya menerima sumbangan, dan perempuan bebas," lanjutnya.

Menurut pengamat independen Afghanistan, Ahmed-Waleed Kakar kepada Al Jazeera, tantangan utama bagi perempuan di seluruh negeri adalah keuangan dan ekonomi.

Bagi perempuan Afghanistan, tantangan ekonomi itu disertai pembatasan yang lebih ketat atas kebebasan, lapangan kerja, pendidikan, dan bahkan pergerakan mereka.

3 dari 3 halaman

"Sangat sulit bertahan"

Walaupun datang dari keluarga yang lumayan berada sebelum pengambilalihan Taliban, segalanya memburuk bago Anzorat Wali (19), anggota tim perempuan taekwondo nasional Afghanistan.

Walaupun kakak laki-lakinya seorang PNS dan tetap bekerja di Kementerian Luar Negeri, dia tidak pernah digaji selama berbulan-bulan.

Sementara ibunya, yang juga menafkahi keluarga, kehilangan pekerjaannya di Kementerian Pendidikan setelah Taliban menyerukan perempuan yang bekerja di sektor publik untuk diam di rumah.

Bagi remaja tersebut, hidup di bawah Taliban berarti tidak ada sekolah, maupun melakukan apa yang dia sukai, taekwondo. Walaupun frustrasi dengan larangan perempuan menggeluti olahraga, Wali merasa lebih sakit dengan pembatasan pendidikan terhadap perempuan dan kondisi keuangan keluarganya.

"Bagi saya, ujian terbesar bahwa saya tidak bisa bekerja atau belajar," ujarnya, yang kini diam di rumah setelah Taliban menutup sekolah.

"Kami (perempuan) biasa pergi sekolah atau bekerja. Sekarang, kami tidak diperbolehkan," ujarnya.

"Masalahnya sekarang, keluarga saya menghadapi krisis dan sangat sulit bertahan, khususnya kalau Anda seorang perempuan."

Walaupun Taliban belum secara resmi melarang pendidikan anak perempuan, kelompok itu telah menutup sekolah dasar untuk perempuan dan melarang perempuan kuliah di banyak provinsi di negara itu.

Baru-baru ini, pendidikan dasar telah mulai dibuka kembali di 15 provinsi, menruut Obaidullah Baheer, seorang dosen di American University di Afghanistan.

"Untuk (provinsi) lainnya, kami mendengar hal berbeda," ujarnya, menjelaskan Taliban telah menunda pembukaan kembali sekolah untuk anak perempuan.

Baheer juga mengatakan, walaupun Taliban belum secara jelas melarang perempuan menduduki posisi kepemimpinan, mereka belum mengumumkan sektor lainnya di mana perempuan dilarang secara resmi.(mdk/pan)

Baca juga:
Kemlu Tegaskan Bantuan RI ke Afghanistan Bukan Pengakuan Terhadap Taliban
Indonesia Minta Taliban Tepati Janji Hormati Hak Perempuan
Afghanistan Krisis Keuangan, Taliban Bayar Pegawai dengan Gandum
Taliban Perintahkan Toko-Toko Copot Kepala Maneken
Taliban Perintahkan Pemilik Toko Copot Kepala Manekin
Potret Afghanistan Berselimut Salju
VIDEO: Agen Intelijen Taliban Buang 3.000 Liter Minuman Keras ke Sungai

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami