Satu Menit Pesta Pernikahan Berujung Pemakaman 63 Jiwa

DUNIA | 19 Agustus 2019 14:44 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Hampir seribu tamu undangan berkerumun di bawah satu atap di sebuah resepsi pernikahan Sabtu malam lalu. Dalam kartu undangan yang mereka bawa tertulis, "Kami merayakan dengan dunia yang penuh harapan dan keinginan."

Sebuah partisi tipis membagi tamu laki-laki dan perempuan yang hadir di aula pernikahan Shahr-e-Dubai, Kabul, Afghanistan. Pemilik acara menggelar pertunjukan musik band untuk tamu laki-laki dan D.J untuk tamu perempuan. Namun, satu menit berikutnya kebahagiaan berubah petaka.

Seorang pelaku bom bunuh diri memasuki area tamu laki-laki dan mengubahnya menjadi arena pembantaian. Dalam sekejap, lusinan mayat tergelatak di lantai dansa dan meja-meja tamu. Grup musik yang mengisi acara itu pun tewas di atas panggung. Sementara, para perempuan dibiarkan terluka dan mencari sanak keluarga yang bersama mereka dalam pesta itu.

Bom bunuh diri itu menggemparkan Afghanistan, meski aksi bom bunuh diri bukan lagi hal asing bagi mereka.

1 dari 2 halaman

Peran ISIS di balik serangan bom

Meski Taliban kerap melancarkan serangan bom sebagai bentuk perlawanan, tetapi dalam kasus kali ini justru kelompok militan ISIS yang mengaku bertanggung jawab atas ledakan yang terjadi pada Sabtu(17/8) malam.

ISIS bahkan mengidentifikasi pelaku bom tersebut adalah Abu Asim. Menurut pengakuan ISIS, dia berasal dari negara tetangga Pakistan. ISIS juga menggarisbawahi kondisi di Afghanistan yang rencanaya akan ditinggalkan Amerika.

Dilansir dari laman The New York Times, walaupun tidak menjadi bagian dari sekutu Taliban, ISIS saat ini mulai membangun "pijakan" di Afghanistan. Pihak ISIS juga telah mengklaim banyak serangan bom mematikan.

Tidak seperti Taliban, ISIS sering menjadikan masjid-masjid Syiah, pusat kebugaran, dan sekolah sebagai target untuk memicu perpecahan antar kelompok keagamaan.

Negosiasi antara Taliban dan Amerika Serikat, dikabarkan telah membuahkan jaminan bahwa Taliban tidak akan mendukung kelompok teroris internasional dan regional. Namun di saat bersamaan, Taliban meminta Amerika untuk menarik mundur seluruh pasukannya yang setidaknya berjumlah 14.000 itu. Para pejabat Afghanistan khawatir, Amerika setuju dengan permintaan Taliban. Sebab, belum ada kejelasan apakah pasca penarikan pasukan AS, akan berujung perdamaian atau justru membuka ancaman dari ISIS.

Pasca pertemuan perwakilan Taliban dan Amerika Serikat, banyak warga Afghanistan yang skeptis. Mereka berpendapat, perjanjian Amerika untuk menarik pasukannya adalah keputusan yang terburu-buru. Warga Afghanistan menilai, keputusan itu hanya didasari pernyataan Presiden Donald Trump dan tidak memperhitungkan kondisi di lapangan. Mereka mengatakan, hal ini dapat mengakibatkan perang saudara yang hebat atau kembalinya Taliban yang dapat merugikan warga.

"Perang ini telah mengubah tanah ini (Afghanistan) menjadi rumah jagal, tidak ada lagi tempat yang aman," ujar Ketua Komisi Hak Asasi Manusia Afghanistan, Shaharzad Akbar dalam akun Twitternya.

2 dari 2 halaman

Kebahagiaan sirna karena bom

Kekerasan yang mengakibatkan korban jiwa kerap terjadi di Afghanistan. Kenyataan ini membuat warga menghindari perayaan apa pun di luar rumah, baik itu konser atau sekadar makan malam di restoran sekalipun.

Namun, selama ini acara pernikahan menjadi pengecualian. Biasanya, pesta pernikahan akan menjadi tempat di mana orang bisa dengan bebas menari dan tertawa tanpa ragu. Hal berbeda dirasakan pasangan pengantin dan ratusan kerabatnya yang hadir dalam tragedi bom pesta pernikahan itu.

"Kematian lebih baik bagi saya daripada ini," kata pengantin pria, Mirwais Alami, mengungkapkan kesedihannya pada media televisi lokal. "Saya tidak bisa pergi ke pemakaman, kaki saya lemas. Bahkan, jika saya mendatangi setiap rumah keluarga yang kehilangan untuk menghibur mereka, tidak akan membuat mereka tenang," tambahnya.

Pengantin pria merupakan seorang penjahit berusia 25 tahun. Sementara sang istri yang bernama Raihana (18) baru saja lulus SMA.

Keluarga mereka adalah kelas pekerja. Mereka tinggal di rumah sederhana. Sejak acara pertunangan sekitar tujuh bulan lalu, Alami telah menghabiskan sekitar USD 14.000 dari hasil tabungan dan pinjaman.

"Saya membawa rasa sakit, tidak ada yang lain, tidak ada kebahagiaan," kata Alami.

Pernikahan tersebut digelar lebih awal. Alami meminta pernikahan itu dipercepat, karena situasi di sebagian wilayah Afghanistan yang tidak menentu pasca Amerika menarik pasukannya. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah Amerika menarik diri. Demikian pertanyaan apakah kesepakatan Taliban dan Amerika Serikat akan membawa perdamaian.

Ibu mempelai wanita, Makai Hazrati, mengatakan, dia telah meminta pasangan itu untuk menunggu hingga peringatan 100 tahun kemerdekaan Afghanistan, pada hari Senin, dengan harapan ancaman akan mereda. Namun, permintaan itu ditolak. Kedua mempelai berpendapat, pasca perayaan kemerdekaan justru akan menjadi ancaman besar karena berdekatan dengan peringatan Hari Assyura bagi kaum Syiah yang telah berulang kali menjadi sasaran ISIS.

"Saya ingin mengadakan pesta kecil antara dua keluarga di rumah, tapi Raihana ingin mengadakan pesta yang lebih besar di gedung," tutur Hazrati.

Gedung pernikahan yang dipilih Alami dan Raihana cukup untuk menampung 1000 tamu undangan.

Bom meledak sekitar pukul 22.30 malam waktu setempat. Saat itu, pasangan pengantin telah rapi dengan gaun pengantin berwarna hijau dan siap mengikuti ritual pemakaian pacar (pewarna untuk tangan dan kuku) di telapak tangan masing-masing.

Di bilik aula laki-laki, musik tengah dimainkan. Sebagian tamu menari dan sebagian lain menunggu makan malam. Di bagian wanita, makan malam sudah siap di meja para tamu.

"Empat orang menari di tengah, yang lain menyoraki mereka," kata seorang kerabat, Ezatullah Ramin, menceritakan suasana pesta. "Lalu, saya melihat api besar dan kemudian ledakan besar."

Setelah ledakan itu Ramin terbangun dengan mayat di sekelilingnya. Banyak tubuh hancur berantakan.

"Masih ada gema di telinga saya, antara musik dan ledakan," jelasnya.

Minggu (18/8) dini hari, aula pernikahan ditutup polisi. Para petugas berusaha membereskan puing-puing dan darah yang tercecer di lokasi kejadian.

"Saya telah mengubur mayat sepanjang malam, sepanjang hari," ujar Mohammad Hamid, seorang kerabat pengantin pria.

Hamid, datang ke aula pernikahan untuk mengurus sisa makanan yang belum sempat disajikan. Sebagian makanan itu dibawa ke rumah tetangga mempelai pria. Makanan lain dibawa untuk keluarga seorang suami yang terbunuh.

"Saya merasa bersalah, karena saya yang mengundangnya ke pesta," kata Basir, teman dekat saudara laki-laki mempelai pria. "Saya pikir kami akan bersenang-senang," tambahnya menyesal.

Hampir dua lusin mayat tiba di sebuah komplek tempat keluarga mempelai perempuan tinggal. Orang-orang bersenjata berjajar di jalur sempit menuju masjid, untuk menjaga dari kemungkinan bom bunuh diri kedua.

Para pria meratap berdoa. Beberapa di antaranya pingsan. Sementara yang lain terhuyung lemas, saling menguatkan satu sama lain.

Di samping masjid, tangisan para wanita pecah ketika mayat-mayat itu tiba. Banyak peti mati yang sengaja dikunci, tidak dapat dibuka.

Satu persatu mayat kemudian diturunkan ke liang lahat yang dibuat sangat berdekatan. Mungkin juga lubang kubur itu menjadi satu, layaknya kuburan massal.

Pada Minggu siang, banyak orang masih mencari kerabatnya. Termasuk ayah pengantin wanita yang mencari anak laki-lakinya yang masih hilang.

"Mereka mengatakan ada satu tubuh yang tidak dikenal di rumah sakit Aliabad," kata seorang pria memberi pengumuman di taman masjid.

Ayah pengantin wanita itu kemudian menyeka air matanya dengan lengan baju, dan berjalan mengikuti pria itu menyusuri lorong berdebu.

Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita

Baca juga:
'Saya Lahir saat Perang, Tumbuh dalam Perang, dan Akan Mati karena Perang'
Gabung Taliban, Polisi Afghanistan Tembak Mati 7 Rekannya
RI Berikan Pelatihan Capacity Building Sumber Daya Mineral untuk Afghanistan
Politisi Ditembak dan Dibom, Teror-teror Mematikan Jelang Pemilu Afghanistan
Aksi Bom Bunuh Diri Serang Kantor Pemenangan Calon Presiden Afghanistan

(mdk/pan)