"Saya Senang Anak Saya Tak Dapat Melihat Pemerkosanya...."

Orang tua Nirbhaya, korban pemerkosaan massal Delhi 2012.. © India Today/Yasir Iqbal
DUNIA | 17 Desember 2019 07:11 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Tujuh tahun setelah anak perempuannya, Nirbhaya, diperkosa dan meninggal dunia, Asha Devi masih menunggu keadilan. Ibu korban pemerkosaan massal brutal Delhi tahun 2012,
sekali lagi pada hari Senin memohon pemerintah dan pengadilan untuk menghukum gantung empat terpidana.

Berbicara dalam sebuah agenda di New Delhi pada Senin, Asha Devi yang bermata sembab mengatakan hidupnya telah dihabiskan untuk menuntut keadilan bagi anaknya.

"Saya telah berjuang dengan kesabaran dalam tujuh tahun terakhir, tapi situasinya tetap sama sejak 2012. Saya terus menuntut keadilan dan dalam perjuangan ini," jelasnya dalam sebuah diskusi panel terkait keamanan perempuan, dilansir dari India Today, Senin (16/12).

Atas cobaan yang harus dihadapi keluarga korban pemerkosaan, Asha Devi mengaku senang putrinya tak hidup.

"Ketika saya melihat pelaku di pengadilan, saya senang anak saya tidak hidup dan melihat mereka. Saya mati setiap hari setiap saya melihat mereka," jelasnya.

"Apa salah anak saya atau mereka yang diperkosa dan dibakar? Dan apa salah kami masih menunggu keadilan? Kenapa masyarakat dan sistem belum menemukan solusi? Berapa lama lagi kami harus menuntut keadilan saat anak-anak gadis terus dibakar?" tegasnya.

2 dari 3 halaman

Kurikulum Kepekaan Gender

gender rev1

Suara Asha Devi juga disuarakan Presiden Kongres Mahila atau sayap perempuan partai kongres, Sushmita Dev.

"Ini adalah masalah sosial. Konstitusi kita mengatakan perempuan dan laki-laki itu sama tapi di lapangan situasinya berbeda," jelasnya.

Sushmita juga menekankan pentingnya memasukkan kepekaan gender dalam kurikulum pendidikan.

"Kita tidak hanya perlu mencegah pemerkosaan tapi memastikan bahwa keadilan berjalan. Kesadaran hukum harus menjangkau perempuan di semua tingkatan," tegasnya.

Anggota parlemen dari BJP, Rita Bahuguna Joshi mengatakan proses peradilan harus diperkuat untuk mencegah kejahatan.

"Seluruh sistem harus diperkuat. Masyarakat dan negara harus bergandengan tangan dalam satu gerbong," jelasnya.

Hari ini, 16 Desember 2019 adalah peringatan tahun ketujuh kasus Nirbhaya. Kasus ini menuai kemarahan dunia. Baru-baru ini, kasus pemerkosaan dan pembunuhan sadis kembali terjadi di India. Seorang dokter hewan diperkosa dan dibakar. Warga India mengecam aksi brutal tersebut dan terjadi unjuk rasa di berbagai negara bagian menuntut percepatan proses peradilan pelaku korupsi. Keempat pelaku pemerkosaan Nirbhaya diputuskan hukuman mati.

3 dari 3 halaman

Siap Gantung Empat Pelaku Pemerkosaan

empat pelaku pemerkosaan rev1

Dalam panel diskusi tersebut, hadir Pawan Jallad, yang diperkirakan akan bertindak sebagai algojo untuk empat terpidana kasus Nirbhaya.

Pawan Jallad mengaku siap menggantung empat terpidana. Ditanya apakah dia tidak malu akan disebut sebagai seorang 'Jallad' atau 'Tukang Gantung', dia mengatakan dia sama sekali tak malu karena itu adalah pekerjaan keluarganya.

Saat ditanya apakah dia akan menggantung keempat terpidana secara bersamaan, Pawan mengatakan dia siap melakukan yang diperintahkan pengadilan dan dia akan memecahkan rekor yang telah dilakukan kakeknya.

"Pastinya! Itu akan memecahkan rekor kakek saya," jelasnya.

(mdk/pan)

Baca juga:
Terpidana Pemerkosa di India Minta Tak Dihukum Gantung Karena Polusi Bisa Membunuhnya
Negara dengan Kasus Pemerkosaan Tertinggi di Dunia, India Tak Masuk 10 Besar
Pemerkosaan Makin Marak di India,
Korban Pemerkosaan yang Dibakar di India Utara Meninggal
Polisi Tembak Mati Empat Pelaku Pemerkosaan Dokter Hewan di India
Perempuan di India Dibakar Saat akan Hadiri Sidang Kasus Pemerkosaannya



Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami