Sederet Kebohongan Trump dalam Konflik di Suriah

DUNIA | 25 Oktober 2019 07:24 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan sejumlah pernyataan yang keliru dalam lima tahun AS memerangi kelompok militan ISIS di Irak dan Suriah. Bukan itu saja Trump juga salah memahami dalam lima poin penting konflik Suriah.

Trump sebut upaya AS memerangi ISIS sangat kacau sampai akhirnya dia menjabat presiden

Benar bahwa kebijakan Trump mendorong operasi militer yang lebih gencar di Suriah sebagai bagian dari peran AS sebagai pemimpin pasukan koalisi. Namun sebetulnya di masa pemerintahan Obama pasukan milisi Kurdi direkrut AS untuk membantu memerangi ISIS.

Dikutip dari laman Haaretz, Kamis (24/10), pada Senin lalu Trump juga keliru dengan mengatakan pasukan AS sudah berada di Suriah selama 10 tahun.

Militer AS di masa Obama memulai operasi militer menghadapi ISIS pada musim panas 2014. Operasi itu dimulai di Irak. ISIS pada saat itu menguasai banyak wilayah sebelah utara dan barat Irak, termasuk kota penting Ramadi dan Mosul. Di Irak, pasukan AS punya sekutu yakni militer Irak, berbeda dengan di Suriah.

Kepala Pentagon, Ash Carter, yang menjabat dari awal 2015 sampai Trump dilantik pada Januari 2017, mengakui, "Kami butuh waktu lebih lama melancarkan operasi bersama untuk menjalankan strategi efektif melawan ISIS. Tapi operasi itu memang kacau ketika Trump menjabat presiden.

Bahkan Mosul di Irak dan Raqqa di Suriah sudah di ambang kejatuhan, dan operasi militer sudah mulai menuai kesuksesan. Irak mengumumkan kemenangan atas ISIS pada Desember 2017 dan pasukan milisi Kurdi sekutu AS di Suriah menyatakan kemenangan terjadap ISIS pada Maret lalu. Namun hingga kini masih menjadi pertanyaan apakah kemenangan itu akan bertahan.

1 dari 3 halaman

Trump Mengatakan ISIS Sudah Kalah

"Kami membunuh ISIS," kata Trump pada 12 Oktober.

Tidak diragukan lagi memang kekhalifahan ISIS sudah jatuh dan sebagian besar wilayah yang tadinya mereka kuasai di Irak dan Suriah sudah direbut kembali oleh militer Irak dan Suriah. Namun kelompok militan ini masih menjadi ancaman jika berbagai kondisi membuat mereka bisa bangkit lagi, termasuk perang saudara di Suriah dan tidak berjalannya pemerintahan yang efektif di Irak.

Senator Republik Liz Cheney dari Wyoming mengatakan ketika Turki menggempur wilayah utara Suriah pada 9 Oktober lalu dia tidak mengerti mengapa Trump meninggalkan milisi Kurdi dan membiarkan ISIS kembali bangkit.

Bukan itu saja, keputusan Trump menarik mundur pasukan AS dan meninggalkan sekutu Kurdi membuat Turki melancarkan operasi militer terhadap Kurdi dan membuat tahanan ISIS yang selama ini dijaga Kurdi jadi melarikan diri.

2 dari 3 halaman

Pasukan AS Pulang

Trump sering mengatakan pasukan AS yang terlibat dalam perang melawan ISIS kini sudah mulai pulang.

Hingga saat ini, itu tidak benar. Sebagian besar dari 1.000 personel militer AS yang ditarik mundur kini sedang menuju Irak, meski hanya sementara, atau ke lokasi lain di Timur Tengah, seperti Yordania. Pentagon mengatakan mereka masih merumuskan rencana bagaimana melanjutkan kampanye anti-ISIS di Suriah dan Irak.

"Kita sedang memulangkan tentara kita," kata Trump.

Hogan Gidley, wakil kepala pers Gedung Putih, mengatakan Trump punya tujuan ingin menyeimbangkan berbagai pertimbangan.

"Presiden tidak ingin semua tentara dipulangkan," kata Gidley. "Itu sudah jadi tujuan dia sejak menjabat. Itulah yang ingin dia lakukan sekarang. Tapi dia juga ingin memastikan stabilitas di kawasan."

3 dari 3 halaman

Trump Bilang AS Menguasai Minyak Suriah

"Kami sudah mengambil alih," kata Trump 18 Oktober lalu, merujuk pada minyak di Suriah. Tiga hari kemudian dia mengatakan ingat ketika pasukan AS menginvasi Irak pada 2003, harusnya AS mengambil alih minyak Irak.

"Saya selalu katakan, 'kalau kita mau menyerang, jaga minyaknya'. Sama juga dengan di sini (Suriah). Jaga minyaknya."

Tapi faktanya, menurut hukum itu adalah minyak Suriah.

Trump mengatakan dia tetap mempertahankan sejumlah kecil pasukan AS bertahan di Suriah untuk menjaga agar ISIS atau pihak lain tidak mengambil alih ladang minyak dan memanfaatkan minyak itu buat meraup keuntungan, seperti lewat penyelundupan. (mdk/pan)

Baca juga:
Trump Akui Tentara AS yang Masih di Suriah untuk Amankan Minyak
Survei Terbaru: Separuh Rakyat AS Setuju Trump Dimakzulkan
Sekilas Perbandingan Ketatnya Pengamanan Pelantikan Jokowi dan Donald Trump
Twitter Sahkan Kebijakan Soal Cuitan Pemimpin Dunia, Atur Trump?
Nyali Besar Erdogan Lawan Ancaman Trump & Teruskan Serangan Turki ke Kurdi
Surat Ancaman Trump kepada Erdogan: Jangan Keras Kepala, Jangan Bodoh!