Sejarah Tindakan Represif China Hadapi Demonstran

DUNIA | 13 Agustus 2019 15:21 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Pemerintah China sejak kemarin mulai mengerahkan aparat keamanan dan kendaraan militer mendekat ke perbatasan Hong Kong di Kota Shenzhen. Tindakan itu dipandang sebagai taktik perang psikologi untuk menghadapi demonstran Hong Kong yang sudah berunjuk rasa sejak Juni lalu.

Peristiwa ini mengingatkan orang pada tragedi Tiananmen 1989 silam.

Tiga dekade lalu dunia menyaksikan bagaimana pemerintah China menghancurkan demonstran di Lapangan Tiananmen Beijing.

Tiananmen sendiri berarti 'gerbang kedamaian surga'.

4 Juni 1989. Setelah beberapa pekan berdemonstrasi, tentara China memasuki Lapangan Tiananmen dan mulai melepaskan tembakan ke arah demonstran.

Jumlah pasti korban tewas tidak diketahui namun diperkirakan angkanya mencapai ratusan sampai ribuan orang meregang nyawa.

Sejumlah orang juga dieksekusi karena terlibat dalam demonstrasi antipemerintah.

Dikutip dari BBC, pemimpin China pada saat itu, Deng Xiaoping ingin meningkatkan perekonomian rakyat dengan sejumlah kebijakan. Namun upaya itu dinodai dengan banyaknya praktik korupsi. Di saat yang sama rakyat menginginkan adanya keterbukaan politik yang lebih besar.

1 dari 3 halaman

Tokoh Pro-Demokrasi Meninggal

Pada 15 April 1989, Hu Yaobang, mantan pemimpin Partai Komunis meninggal. Hu dikenal sebagai sosok yang menyuarakan sistem politik lebih terbuka dan menjadi simbol reformasi demokrasi. Dua tahun sebelumnya dia didepak dari partai oleh lawan politiknya.

Tiga hari kemudian ribuan mahasiswa berduka turun ke jalan dan menggelar unjuk rasa ke Lapangan Tiananmen menyerukan kebebasan berpendapat dan pemerintahan yang lebih demokratis. Dalam beberapa pekan kemudian ribuan orang bergabung dengan mahasiswa ke Tiananmen untuk memprotes kepemimpinan Partai Komunis.

13 Mei 1989. Lebih dari 100 mahasiswa mulai melakukan aksi mogok makan di Lapangan Tiananmen. Dalam beberapa hari jumlah mereka yang mogok makan bertambah menjadi ribuan.

2 dari 3 halaman

Daurat Militer

Sepekan kemudian pada 19 Mei pengunjuk rasa di Tiananmen diperkirakan mencapai 1,2 juta orang. Sekretaris jenderal Partai Komunis Zhao Ziyang akhirnya turun ke lapangan dan meminta massa untuk mengakhiri demo.

Pada 19 Mei 1989 Perdana Menteri Li Peng menerapkan keadaan darurat militer.

1 Juni 1989 China menyetop siaran langsung televisi Amerika di Beijing, termasuk CNN. Wartawan, fotografer, dan juru kamera juga dilarang meliput demo atau mengambil gambar tentara.

Pada 2 Juni 1989, sekitar 100 ribu orang menghadiri konser penyanyi Hou Dejian yang mendukung demonstran di Tiananmen.

Sekitar pukul 01.00 pada 4 Juni 1989, tentara China tiba di Lapangan Tiananmen. Di hari itu juga tentara menembaki mahasiswa dan rakyat sipil untuk membubarkan demo. Jumlah korban tewas tak pernah dirilis.

3 dari 3 halaman

Foto Ikonik Tragedi Tiananmen

Pada 5 Juni 1989 seorang pria yang menenteng dua tas belanja di tangan kanan dan kirinya berdiri mengadang barisan tank yang melintas di Tiananmen. Foto peristiwa itu kemudian bersejarah. Lewat foto yang kuat itu dunia mengenal peristiwa Tragedi Tiananmen.

Berapa banyak korban tewas dalam peristiwa itu? Tak ada yang tahu pasti.

Akhir Juni 1989 pemerintah China mengatakan 200 warga sipil dan beberapa puluh aparat keamanan tewas.

Laporan lain mengatakan korban tewas mencapai ratusan hingga ribuan.

Pada 2017 dokumen dari Inggris mengungkap kawat diplomatik duta besar Inggris untuk China saat itu, Sir Alan Donald, yang mengatakan 10.000 orang tewas.