Serangan Udara ke Pusat Penahanan Migran di Libya, 40 Orang Tewas

DUNIA | 3 Juli 2019 16:24 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Sebuah serangan udara pada Selasa (2/7) mengenai pusat penahanan imigran Afrika di pinggiran Kota Tripoli, Libya, menewaskan sedikitnya 40 orang dan melukai 80 lainnya, demikian disampaikan pejabat kesehatan setempat.

Ini adalah korban serangan udara terbesar yang dilaporkan secara publik sejak pasukan timur yang setia kepada Khalifa Haftar tiga bulan lalu melancarkan serangan dengan pasukan di darat dan pesawat untuk mengambil ibukota yang dikuasai pemerintah yang diakui internasional.

Konflik ini bagian dari kekacauan di negara penghasil minyak dan gas itu sejak penggulingan Muammar Qadafi yang didukung NATO pada tahun 2011.

Malek Mersek, juru bicara layanan medis darurat negara, mengatakan 40 orang tewas dan 80 lainnya luka-luka dalam serangan di pinggiran Tajoura yang terletak di sebelah kamp militer itu. Demikian dilansir dari Reuters, Rabu (3/7).

Pemerintah yang berbasis di Tripoli mengatakan dalam sebuah pernyataan, belasan orang terbunuh dan terluka dalam serangan udara yang disebutnya dilakukan oleh "penjahat perang Khalifa Haftar".

Sejumlah foto yang dipublikasikan menunjukkan para imigran Afrika menjalani operasi di sebuah rumah sakit pascaserangan. Migran lainnya berbaring di ranjang rumah sakit, dan beberapa lainnya tertutupi debu atau dengan anggota badan diperban.

Libya adalah titik utama keberangkatan para migran dari Afrika yang ingin keluar dari garis kemiskinan dan perang dan mencoba menuju Itali menggunakan kapal, namun banyak dari mereka yang ditangkap pasukan penjaga pantai Libya yang didukung Uni Eropa, yang ingin menghentikan migrasi.

Ribuan imigran ditahan pemerintah di pusat penahanan di Libya barat yang dikritik para aktivis HAM dan PBB karena kondisinya tak manusiawi.

Tajoura, di sebelah timur Tripoli, merupakan lokasi beberapa kamp militer yang bersekutu dengan pemerintah Libya yang diakui secara internasional, yang telah menjadi sasaran serangan udara selama beberapa pekan.

Pada Senin, Tentara Nasional Libya (LNA) Haftar mengancam akan memulai serangan udara besar-besaran ke sasaran di Tripoli. Pejabat LNA membantah aksinya menyasar pusat penahanan, mengatakan kelompok militan yang bersekutu dengan Tripoli telah menembaknya setelah serangan udara presisi oleh LNA di sebuah kamp.

Serangan udara LNA telah gagal merebut Tripoli dalam tiga bulan pertempuran, dan pekan lalu LNA kehilangan pangkalan utama penyerang di Gharyan, yang diambil kembali oleh pasukan Tripoli pekan lalu.

Kedua belah pihak mendapat dukungan militer dari kekuatan regional. LNA selama bertahun-tahun disokong Uni Emirat Arab dan Mesir, sementara Turki baru-baru ini mengirim senjata ke Tripoli untuk menghentikan serangan Haftar, kata para diplomat. (mdk/pan)

Baca juga:
Turki Klaim 6 Warganya Ditangkap Pemberontak Libya
Pemberontak Libya Klaim Tembak Jatuh Drone Turki
Pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi Disebut Sembunyi di Libya
Atas Nama DK PBB, Indonesia Serukan Gencatan Senjata di Libya
Melihat Bengkel Perbaikan Senjata Tentara Libya
Pertempuran di Ibu Kota Libya Kian Memanas, 205 Orang Tewas

TOPIK TERKAIT

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.