Serangkaian dampak perang di Ghouta Timur bagi penduduk sipil

DUNIA | 14 Maret 2018 07:26 Reporter : Ira Astiana

Merdeka.com - Selama tujuh tahun lamanya serentetan perang terjadi di berbagai wilayah Suriah. Hal itulah yang kemudian menjadikan Suriah sebagai negara dengan krisis kemanusiaan terparah di masa ini.

Lebih dari 4.000 warga sipil di Ghouta Timur, Suriah dilaporkan terbunuh dan terluka sejak pertengahan Februari lalu. Meski Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengeluarkan resolusi berupa gencatan senjata selama sebulan pada 24 Februari lalu, jumlah korban yang berjatuhan tidak juga berkurang.

Selain menyebabkan korban tewas, perang yang secara intens terjadi di Ghouta Timur ini juga menyebabkan ratusan ribu orang terpaksa mengungsi.

Komite Penyelamatan Internasional dan petugas bantuan di Suriah yang terjun langsung ke lapangan mengungkapkan ada beberapa hal yang perlu diketahui publik mengenai keadaan di Ghouta Timur sebagaimana dilansir dari laman International Rescue Committe, Selasa (13/3). Berikut penjelasannya:

1 dari 3 halaman

Hampir 10 ribu orang melarikan diri dari kekerasan setiap hari

Pengungsi Suriah. jta.org

Sebanyak 6,1 juta penduduk Suriah telah terusir dari rumah mereka. Di bagian barat laut Suriah, warga sipil Idlib juga ikut menanggung dampak pertempuran. Wilayah yang sebelumnya menjadi rumah bagi 2,6 juta jiwa, kini hanya tinggal setengahnya yang masih menetap.

Sementara itu, di daerah terkepung seperti Ghouta Timur di pinggiran Kota Damaskus, sebanyak 15.000 orang juga mengungsi setiap harinya. Wilayah yang semula ditempati 1 juta penduduk, kini hanya tersisa 400.000 yang masih bertahan di tengah kesengsaraan.

"Segalanya terjadi begitu tiba-tiba. Suara yang besar dan keras terdengar di mana-mana. Bom juga menghantam rumah tetangga kami. Keadaan ini membuat kami sangat ketakutan. Kami menjerit di dalam kepanikan," kata salah seorang warga Ghouta Timur.

2 dari 3 halaman

Sistem pelayanan medis di Suriah telah hancur

Rumah sakit di Suriah jadi sasaran serangan udara. ©REUTERS

Sebabnya tiga perempat dokter dan petugas medis telah meninggalkan Suriah karena rentetan perang yang terjadi sementara beberapa tenaga medis yang masih menetap kurang pengalaman dalam menghadapi pasien kritis. Bahkan, separuh dari fasilitas medis juga hancur dan tak lagi beroperasi.

Serangan udara sudah menjadi makanan sehari-hari bagi warga sipil di Suriah. Mereka menjalani hari tanpa listrik, peralatan, atau obat-obatan yang memadai.

Pembatasan terhadap pengiriman bantuan membuat orang-orang yang terluka tidak bisa ditangani dengan segera. Bahkan obat penghilang rasa sakit pun langka.

"Semua ambulans kami telah kekurangan persediaan obat. Kami masih memiliki alat dasar seperti penghitung tekanan darah, termometer, tandu, dan obat pertolongan pertama seperti perban namun semuanya ada dalam kualitas buruk," kata petuas medis setempat.

Di Ghouta Timur, satu dokter harus menangani 3.600 pasien. Sementara 1.000 di antara pasien tersebut ada dalam kondisi serius seperti kanker, gagal ginjal, penyakit jantung, dan luka-luka parah.

3 dari 3 halaman

Jutaan anak-anak Suriah tak bisa bersekolah

anak-anak suriah belajar di dalam gudang. ©2016 AFP PHOTO/MOHAMAD ABAZEED

Sekitar 1,75 juta anak-anak dan remaja di Suriah tidak bisa bersekolah. Banyak dari mereka memutuskan putus sekolah karena bahaya yang setiap hari mengintai.

Selain itu, lebih dari sepertiga bangunan sekolah di Suriah telah rusak atau hancur. Ratusan tenaga pengajar juga sudah meninggalkan daerah konflik sejak lama.

Beberapa anak ada yang mengungsi ke negara lain untuk memperoleh pendidikan lebih layak.

"Saya takut dibunuh tapi saya harus sekolah. Saya tidak ingin hidup di tengah kebodohan meski ada peperangan di sekitar saya," kata Mahmoud, pelajar Suriah dari Homs yang kini tinggal di Libanon.

(mdk/frh)

TOPIK TERKAIT

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.