Setelah 33 Tentara Terbunuh di Suriah, Turki Akan Biarkan Pengungsi Masuk Eropa

Setelah 33 Tentara Terbunuh di Suriah, Turki Akan Biarkan Pengungsi Masuk Eropa
DUNIA | 28 Februari 2020 18:31 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Menyusul serangan udara pasukan pemerintah Suriah yang menewaskan 33 tentara Turki, pejabat senior Turki menyampaikan pihaknya tak akan lagi menghentikan pergerakan pengungsi Suriah memasuki Eropa. Serangan tersebut terjadi di provinsi barat laut Suriah, Idlib.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan langsung menggelar rapat darurat setelah serangan tersebut. Sementara Menteri Pertahanan, Hulusi Akar dan para komandan pasukan Turki memimpin operasi di Suriah, di dekat perbatasan Turki. Demikian dilaporkan kantor berita pemerintah, Anadolu, dikutip dari France 24, Jumat (28/2).

Turki telah mengirim ribuan tentara dan alat berat militer ke Suriah dan Erdogan telah memperingatkan Turki akan melancarkan serangan skala besar untuk mengusir pasukan Suriah, kecuali mereka mundur dari pos pengamatan Turki di wilayah tersebut.

Tewasnya 33 pasukan Turki dan 32 lainnya terluka diumumkan Gubernur Provinsi Hatay, yang berbatasan langsung dengan Suriah. Korban tewas terbaru ini menambah daftar kematian tentara Turki di wilayah itu menjadi 54 orang pada bulan ini.

Sekitar 1 juta warga sipil mengungsi dekat perbatasan Turki sejak Desember, ketika pasukan pemerintah Suriah yang didukung Rusia merebut wilayah tersebut dari pemberontak yang didukung Turki, menandai krisis kemanusiaan terburuk dalam perang sembilan tahun di wilayah itu.

Dalam rangka mengantisipasi kemungkinan kedatangan pengungsi dari Idlib, salah seorang pejabat keamanan menyampaikan polisi Turki, penjaga pantai dan perbatasan diperintahkan untuk mundur dari perlintasan darat dan laut.

"Kami telah memutuskan, secara efektif dan segera, untuk tidak menghentikan pengungsi Suriah memasuki Eropa melalui darat atau laut," kata pejabat itu yang tak mau disebutkan namanya.

"Semua pengungsi, termasuk warga Suriah, sekarang dipersilakan melintas memasuki Uni Eropa," imbuhnya.

1 dari 1 halaman

Ancaman untuk membuka jalan bagi pengungsi ke Eropa akan membatalkan perjanjian Turki dan Uni Eropa 2016 dan dapat dengan cepat menarik kekuatan Barat ke dalam perselisihan soal Idlib dan menghentikan negosiasi antara Ankara dan Moskow.

Beban menampung pengungsi "terlalu berat untuk dibawa oleh satu negara," kata pejabat itu.

Turki menampung sekitar 3,7 juta pengungsi Suriah dan berulang kali menyatakan tak dapat menampung lebih banyak lagi. Di bawah perjanjian 2016, Uni Eropa menyiapkan dana miliaran euro sebagai sebagai imbalan bagi Ankara yang setuju untuk membendung masuknya migran ke Eropa.

Turki telah mendesak Eropa untuk berbuat lebih banyak guna meredakan krisis di Idlib, dan Erdogan mengatakan tahun lalu pemerintahnya dapat "membuka gerbang" bagi para migran ke Eropa jika gagal bertindak.

Kesepakatan Uni Eropa-Turki 2016 bertujuan untuk membantu mengakhiri kedatangan para migran dan pengungsi, kebanyakan dari mereka melarikan diri dari perang dan kemiskinan di Timur Tengah, Afrika dan Asia, setelah lebih dari 1 juta orang mencapai Eropa pada 2015. (mdk/pan)

Baca juga:
Turki Blokir Akses Media Sosial Setelah Serangan di Idlib Tewaskan 33 Tentara
33 Tentara Turki Tewas dalam Serangan Udara Suriah di Idlib
Pakistan, Turki, dan Afghanistan Tutup Perbatasan dengan Iran Akibat Wabah Corona
Turki dan Rusia di Ambang Perang Gara-Gara Suriah
Rusia Tanggapi Ancaman Turki: Kami Tidak Akan Berhenti Dukung Pemerintah Suriah
Turki Peringatkan China, Tak Semua Uighur Itu Teroris

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami