"Setiap Kali Saya Melihat Taliban, Saya Gemetar Ketakutan"

"Setiap Kali Saya Melihat Taliban, Saya Gemetar Ketakutan"
Penjara terbesar Afghanistan kini dikuasai Taliban. ©WANA via REUTERS
DUNIA | 17 September 2021 07:15 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Di perbatasan Afghanistan dengan Uzbekistan, sebuah kereta kargo meluncur di atas sebuah jembatan dan memasuki "Emirat Islam" yang baru dibentuk. Bendera putih dan hitam Taliban berkibar di sebelah bendera Uzbekistan. Beberapa pedagang menyambut baik kembalinya kelompok itu ke tampuk kekuasaan.

Pengemudi truk yang memuat gandum mengatakan di masa lalu dia terpaksa menyuap pejabat polisi yang korup setiap kali melewati pos pemeriksaan mereka.

"Sekarang tidak seperti itu," katanya, dikutip dari BBC, Kamis (16/9).

"Saya bisa berkendara sampai ke Kabul dan tidak membayar sepeser pun."

Sudah tepat satu bulan sejak Taliban menguasai Afghanistan. Saat ini persediaan uang tunai terbatas, dan negara itu menghadapi krisis ekonomi yang memuncak.

Satu sumber dari kalangan pengusaha mengatakan tingkat perdagangan menurun signifikan, karena importir Afghanistan tidak mampu membayar barang baru. Kepala bea cukai Taliban di pelabuhan Hairatan, Maulvi Saeed, mengatakan pihaknya memotong tarif bea untuk mempromosikan perdagangan, dan ingin mendorong para pedagang kaya untuk kembali ke negara itu.

"Ini akan menciptakan lapangan kerja bagi orang-orang, dan para pengusaha akan mendapat pahala di akhirat," katanya.

Baca Selanjutnya: Yakin dukungan rakyat...

Halaman

(mdk/pan)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami