Hot Issue

Shireen Abu Aqla, Gugurnya Srikandi Penyambung Suara Palestina

Shireen Abu Aqla, Gugurnya Srikandi Penyambung Suara Palestina
Shireen Abu Akleh. ©2022 Al Jazeera
DUNIA | 12 Mei 2022 13:23 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Shireen Abu Aqla, wartawan senior Palestina yang bekerja di Al Jazeera, tewas ditembak tentara Israel saat liputan di kota Jenin, Tepi Barat yang diduduki pada Rabu. Dia dikenal di setiap rumah karena wajahnya kerap menghiasai televisi, melaporkan berbagai peristiwa di wilayah Palestina yang sampai saat ini masih di bawah penjajahan Israel.

Shireen (51) berasal dari Yerusalem dan juga warga negara Amerika Serikat. Dia meninggalkan satu saudara laki-lakinya, Tony Abu Aqla.

Teman dan rekan-rekannya menggambarkan sosok Shireen sebagai perempuan pemberani dan ramah, dengan gelak tawanya yang khas. Dia menjadi penyambung suara perjuangan rakyat Palestina selama hampir tiga dekade berkarier sebagai jurnalis.

"Kami sangat kehilangan," kata Nida Ibrahim, koresponden Al Jazeera dan rekan Shireen di Tepi Barat yang diduduki.

"Dia ramah, berdedikasi, dan setia," lanjut Nida, dikutip dari laman Al Jazeera, Kamis (12/5).

Dia juga mengatakan, sosok Shireen itu memiliki wawasan mendalam sehingga hasil liputannya sangat kaya informasi.

Sambil tersedu, Nida menyebut Shireen seorang manusia "unik" yang "sangat terkenal tapi rendah hati" dan sangat berkomitmen dengan profesinya.

Nida menuturkan, Shireen sedang belajar bahasa Ibrani untuk lebih memahami narasi media Israel, dan baru saja menyelesaikan pendidikan diploma jurusan media digital.

"Dia bukan hanya kawakan, yang telah berada di sini meliput berbagai cerita selama bertahun-tahun, tapi juga seseorang yang punya keinginan kuat untuk tetap belajar dan liputan menggunakan cara-cara baru," jelasnya.

2 dari 3 halaman

Inspirasi bagi kami semua

kami semua rev1

Lahir di Yerusalem pada 1971, Shireen Abu Aqla adalah seorang Kristen. Dia awalnya kuliah jurusan arsitektur sebelum pindah ke jurnalisme di Universitas Yarmouk, Yordania.

Setelah lulus, dia kembali ke Palestina dan bekerja di beberapa media termasuk Voice of Palestine Radio dan Amman Satellite Channel. Dia bergabung dengan Al Jazeera Media Network setahun setelah perusahaan ini berdiri pada 1996. Shireen menjadi salah satu koresponden lapangan pertama Al Jazeera berbahasa Arab dan mulai terkenal sejak meliput Intifadah Palestina kedua pada 2000.

"Saya memilih jurnalisme agar dekat dengan masyarakat," kata Shireen dalam satu video.

"Mungkin tidak mudah mengubah realita, tapi setidaknya saya bisa memperdengarkan suara mereka pada dunia."

Sebagai jurnalis televisi, Shireen meliput berbagai peristiwa baik besar dan kecil, mulai dari perang Gaza 2008, 2009, 2012, 2014, dan 2021 sampai kaburnya enam warga Palestina dari penjara berkeamanan tinggi di Israel utara pada September tahun lalu. Dia juga meliput berita regional, termasuk perang di Lebanon pada 2006.

"Shireen seorang pelopor, inspirasi bagi kami semua," kata sahabat Shireen dan juga jurnalis Al Jazeera, Dalia Hatuqa.

"Kehadirannya identik dengan Al Jazeera," lanjutnya.

Selama memanasnya Intifadah kedua, Dalia mengingat tentara Israel yang berpatroli di kota Ramallah, Palestina meniru gaya Shireen saat laporan

"Mereka menirunya, meneriakkan dari pengeras suara kalimat penutupnya yang terkenal: Shireen Abu Aqla, Al Jazeera, Ramallah."

Bagi Dalia dan rekannya yang lain, Shireen lebih dari sekadar wajah Al Jazeera di Palestina.

"Dia punya tawa yang menular. Dia suka jalan-jalan, melihat dunia, berbelanja, pesta," kata Dalia.

"Dia kehilangan ibu dan ayahnya ketika dia masih muda dan menyaksikan begitu banyak kekejaman di dunia, khususnya di Palestina, tapi itu tidak menghentikannya mengapresiasi dan menikmati hidup."

"Suaranya sangat indah, bahkan saat dia menceritakan kisah yang menyedihkan."

3 dari 3 halaman

Berita terakhir

rev1

Shireen sedang meliput penggerebekan pasukan Israel di Jenin saat dibunuh. Dia ditembak di kepala, padahal dia memakai rompi biru dengan tulisan besar dan jelas "PRESS" (pers).

Al Jazeera mengutuk pembunuhan ini, menyebutnya "pembunuhan terang-terangan" dan "kejahatan keji". Al Jazeera menuding pasukan Israel sengaja menargetkan Shireen dengan peluru tajam dan membunuhnya dengan kejam.

Tentara Israel membantah menargetkan jurnalis dan menawarkan penyelidikan bersama terkait kematian Shireen Abu Aqla.

Tamer Al-Meshal, yang bekerja bersama Shireen pada hari dia dibunuh, menyebutnya sebagai "panutan" jurnalis Palestina maupun Arab.

"Sampai detik-detik terakhir, dia profesional dan gigih dalam bertugas," ujarnya.

"Pesan terakhir yang dikirim Shireen Abu Aqla ke Al Jazeera via email pada pukul 06.13 di mana dia menulis: 'Pasukan pendudukan menyerbu Jenin dan mengepung sebuah rumah di lingkungan Jabriyat. Dalam perjalanan ke sana, saya akan menyampaikan berita kepada Anda segera setelah gambarnya jelas.' Kami dan para penonton tidak tahu berita yang dia kirim ini adalah berita kesyahidannya."

(mdk/pan)

Baca juga:
Wartawan Al Jazeera Tewas Ditembak Tentara Israel Saat Liputan di Tepi Barat
Tangis Wartawan Arak Jenazah Jurnalis Senior Al Jazeera yang Ditembak Pasukan Israel
Bentrokan di Komplek Masjid Al-Aqsa Kembali Pecah
Israel Tahan 600 Warga Palestina Tanpa Alasan, Hanya dengan 'Bukti Rahasia'
VIDEO: 200 Ribu Jemaah Salat Idulfitri Masjid Al Aqsa, Tentara Israel Mengintai
Tentara Israel Tewas Ditembak Kelompok Militan Palestina di Tepi Barat

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami