Sisi Lain Strategi China Hadapi Pandemi Covid-19, Kamera Pemantau Awasi Gerakan Warga

Sisi Lain Strategi China Hadapi Pandemi Covid-19, Kamera Pemantau Awasi Gerakan Warga
DUNIA | 27 Mei 2020 06:38 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Wabah virus corona di China memberikan gambaran yang belum pernah terjadi sebelumnya bagaimana sistem kamera pengintai bekerja, untuk membantu memeriksa pergerakan orang dan menghambat penyakit tersebut.

China sedang mencoba membangun sistem jaringan pengawasan yang paling canggih di dunia, dengan memasang ratusan juta kamera di tempat-tempat umum dan peningkatan penggunaan teknologi seperti pemantauan ponsel cerdas dan pengenalan wajah.

Tahun ini, kota-kota dan desa-desa di seluruh China telah menggunakan sistem dalam rangka "perang rakyat melawan virus corona", istilah yang digaungkan pemerintah.

Sementara pihak berwenang terutama menggunakan data lokasi seluler dan aplikasi penelusuran terkait ID untuk menandai orang yang kembali dari luar negeri untuk karantina, sistem pengawasan kamera telah memainkan peran penting, menurut pejabat, media pemerintah, dan penduduk.

Jaringan telah digunakan untuk melacak kontak orang-orang yang dikonfirmasi terinfeksi virus, dan untuk menghukum perusahaan dan individu yang melanggar aturan.

"Ini adalah situasi perang," kata seorang pegawai negeri bermarga Wang di kota Tianjin, yang terlibat dalam melacak ribuan orang yang terkait dengan klaster virus corona di sebuah pusat perbelanjaan.

"Kita harus mengadopsi pemikiran waktu perang," lanjutnya, dilansir dari Reuters, Selasa (26/5).

Untuk memantau pergerakan warga, petugas akan duduk di ruang pemantauan atau menelusuri individu melalui ponsel pintarnya dari jaringan kamera.

"Jenis pengawasan ini lebih didorong oleh manusia daripada digerakkan oleh teknologi," kata James Leibold, profesor di Universitas La Trobe Australia, yang meneliti sistem serupa di Xinjiang, China barat daya.

1 dari 2 halaman

'Pembatasan Masa Perang'

perang

Media pemerintah, pejabat dan pemerintah daerah telah melaporkan hasil pemantauan sistem ini dalam rangka kampanye melawan virus corona.

Di desa Donghan di Hubei, provinsi tempat virus muncul pertama kali akhir tahun lalu, anggota jaringan Liu Ganhe melihat enam warga desa berkumpul tanpa masker, jadi dia melaporkan ke pihak berwenang.

“Kader desa bergegas ke tempat kejadian untuk membubarkan kerumunan dan mengedukasi masyarakat,” kata media, memuji “pembatasan masa perang” yang dapat ditegakkan oleh sistem.

Disebutkan bahwa sistem daerah menelan biaya 40 juta yuan (USD 5,6 juta) dan mencakup lebih dari 4.400 kamera.

Anggota jaringan He Haijun melihat warga desa berkumpul di daerah Yongzhou di provinsi Hunan, jadi dia meneriaki mereka melalui pengeras suara desa, lapor media pemerintah.

”Dalam dua menit, penduduk desa kembali ke rumah mereka,” lapornya.

Penggunaan pengeras suara untuk membubarkan perkumpulan warga juga dikonfirmasi oleh warga empat desa di timur laut China kepada Reuters.

Pihak berwenang juga memasang kamera di luar rumah orang-orang yang datang dari Hubei dan dari luar negeri.

Media pemerintah melaporkan, di Xiangtan, Hunan, sistem itu digunakan untuk mencari seorang pria yang suhu badannya tinggi di pusat perbelanjaan. Pria ini juga diketahui sempat mengendarai motor.

Pejabat melacaknya menggunakan kamera dan mengirim petugas keamanan publik untuk menegurnya.

Media pemerintah telah menerbitkan foto-foto pejabat yang menonton beberapa layar di kantor polisi. Yang lain menunjukkan staf relawan mencari rekaman dan berbagi klip di aplikasi pesan.

2 dari 2 halaman

Berhasil

Sementara pengawasan mungkin belum sempurna penerapannya, pengetahuan publik tentang sistem ini dapat membantu penegakan hukum.

"Hal itu memang membawa persepsi bahwa seseorang mengawasi Anda, dan mengubah perilaku orang-orang moderat dan mengubah pemikiran orang dari waktu ke waktu," jelas Leibold.

"Saya pikir itu akan menjadi salah satu pelajaran jangka panjang dari Covid, bahwa itu benar-benar berhasil."

Rincian yang dibagikan oleh warga dan pejabat menunjukkan sistem pengenalan wajah juga berperan di kota-kota besar.

Di Tianjin, 100 km dari Beijing, para pejabat mendatangi rumah ke rumah menelusuri orang-orang yang terkait dengan wabah klaster pusat perbelanjaan pada akhir Februari, menggunakan data dari rekaman pengawasan.

Pejabat menentukan waktu yang tepat agar pekerja toko yang terinfeksi terpapar ke pelanggan dan kemudian melacak orang yang tertangkap dalam rekaman di sekitar toko pada saat itu.

Dokumen pengadaan peralatan otoritas lokal, tersedia di berbagai situs web dan dikumpulkan oleh Reuters, memberikan rincian sistem pengawasan daerah yang mencakup teknologi pengenalan wajah yang dapat melacak pergerakan seseorang hingga 90 hari.

Lebih dari 9.000 orang dikarantina.

"Para kader menemukan mereka satu per satu melalui pemindaian kamera keamanan publik," kata pegawai sipil Tianjin kepada Reuters. (mdk/pan)

Baca juga:
Uji Coba ke Hewan Sukses, Peneliti China Kian Dekat dengan Vaksin Corona
Hasil Penelitian: Monyet Kebal Virus Corona Setelah Terinfeksi
Pemerintah Wuhan Resmi Larang Konsumsi Hewan Liar
Xi Jinping Dukung Penyelidikan Virus Corona Tapi Harus Tunggu Pandemi Berakhir
China Lockdown Ratusan Desa Setelah Wabah Baru Covid-19 Makin Menyebar
Pandemi Mereda, Restoran di Beijing Diserbu Pengunjung
Gelombang Kedua Covid-19, Wuhan Bakal Tes Seluruh 11 Juta Penduduk Kota Dalam 10 Hari
Virus Corona Terdeteksi Dalam Cairan Sperma Pasien Terinfeksi

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Pariwisata Banyuwangi Bersiap Menyambut New Normal

5