Spanyol panggil eks Presiden Catalunya buat diperiksa dalam dugaan makar

Spanyol panggil eks Presiden Catalunya buat diperiksa dalam dugaan makar
Catalonia deklarasi kemerdekaan. ©2017 REUTERS/Yves Herman
DUNIA | 1 November 2017 12:20 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo

Merdeka.com - Perkara dugaan makar dituduhkan kepada mantan Presiden Catalunya, Carles Puigdemont, dan sejumlah anak buahnya mulai diusut. Mahkamah Tinggi Spanyol memanggil Puigdemont dan sejawatnya buat supaya hadir dalam sidang pemeriksaan rencananya digelar Kamis besok.

Dilansir dari laman Reuters, Rabu (1/11), Mahkamah Tinggi Spanyol mulai memproses perkara dugaan pemberontakan dan menghasut disangkakan kepada Puigdemont dan 13 mantan anak buahnya. Namun, sampai saat ini dia masih berada di Ibu Kota Brussel, Belgia, dengan alasan menemui kuasa hukum.

Belum diketahui apakah Puigdemont bakal memenuhi panggilan sidang. Dua anak buahnya turut menemaninya ke Belgia sudah kembali.

Puigdemont pergi ke Belgia buat minta bantuan dari advokat kawakan setempat, Paul Beakert. Buat sampai ke Belgia, Puigdemont beserta lima mantan anak buahnya dikabarkan harus melalui jalan darat menuju Kota Marseilles, Prancis, kemudian dari sana baru menumpang pesawat. Bekaert menyangkal kabar kalau Puigdemont mencari suaka di Belgia.

Di masa lalu, Bekaert juga pernah menangani perkara orang-orang Spanyol dalam pengasingan terlibat dalam gerakan pemberontak Euskadi Ta Askatasuna (ETA), bertujuan memerdekakan Negara Bagian Basque.

Jaksa Agung Spanyol, Jose Manuel Maza, menyatakan mereka sedang mempersiapkan berkas perkara buat Puigdemont dan sejumlah mantan pejabat Negara Bagian Catalunya. Dia menyatakan, mereka bakal dijerat delik pemberontakan, menghasut, dan penyelewengan anggaran negara buat menggelar jajak pendapat menentukan kemerdekaan dari Spanyol. Apabila terbukti, maka Puigdemont terancam dipenjara maksimal 30 tahun.

Puigdemont dan bekas wakilnya, Oriol Junqueras, menolak semua tuduhan dan masih menganggap mereka sebagai pemimpin sah Negara Bagian Catalunya. Meski demikian, partai politik mereka, PdeCat dan Esquerra Republicana de Catalunya, menyatakan bakal ikut dalam pemilihan umum digelar 21 Desember mendatang.

Kehendak Catalunya yang ingin merdeka juga tidak disambut oleh dunia. Sejumlah negara di Eropa hingga Amerika Serikat, dan Uni Eropa, justru mendukung Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy, buat meredam gejolak itu. Namun, mereka mendesak supaya mendahulukan dialog ketimbang tindakan keras seperti mengirim pasukan.

Pemerintah Belgia juga menolak memberi perlakuan istimewa kepada Puigdemont. Perdana Menteri Charles Michel mengatakan Puigdemont akan diperlakukan sama dengan warga Eropa lainnya.

"Dia punya hak dan kewajiban yang sama. Tidak kurang, tidak lebih," kata Michel.

Pernyataan Wakil PM Belgia, Kris Peeters, malah lebih keras lagi. Dia mengatakan, "Kalau Anda mendeklarasikan kemerdekaan, sebaiknya tinggal bersama rakyat Anda". (mdk/ary)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami