Tak ada Lagi Pelukan, Tak Ada Lagi Ciuman

Tak ada Lagi Pelukan, Tak Ada Lagi Ciuman
DUNIA | 21 Februari 2020 13:58 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Drs. Eunice dan Pierre Chan telah mengambil tindakan luar biasa untuk merawat pasien dan melindungi keluarga mereka di tengah wabah virus corona.

Eunice Chan, seorang dokter di Hong Kong, melepas masker wajahnya hanya ketika mandi, makan, dan minum.

Saat makan malam, ketiga putrinya, yang berusia 7, 9 dan 12 tahun, berkumpul di sekitar meja makan, sedangkan dia makan di kamar lain.

"Tidak ada lagi pelukan, tidak ada lagi ciuman," katanya. "Ini sangat sulit bagi putri bungsu saya."

Keterasingannya yang dipaksakan sendiri bukanlah tidak beralasan. Di Hong Kong, ada dua kematian dan 68 kasus yang dikonfirmasi akibat corona (Covid-19). Kota itu berbatasan langsung dengan China daratan, tempat di mana 104 orang rata-rata meninggal karena penyakit ini setiap hari sejak 1 Februari.

Seluruh kota gelisah. Para ahli medis telah mengimbau warga untuk mencuci tangan secara teratur dan mengenakan masker di tempat umum. Stok masker jadi rebutan dan menimbulkan antrean panjang di luar apotek bagi mereka yang hendak membeli.

1 dari 2 halaman

Tetapi risiko dan kecemasan dalam rumah tangga Chan terus memuncak. Baik Dr. Chan (44), dan suaminya, Dr. Pierre Chan (43), telah mengambil tindakan luar biasa untuk merawat pasien mereka serta melindungi keluarga mereka.

"Aku tidak berani pulang," katanya, seperti dikutip laman the New York Times, Jumat (21/2).

"Aku bahkan tidak berani pergi ke hotel. Anda tidak akan pernah tahu, bisa saja aku tanpa gejala. Mungkin sedikit virus masuk ke pakaianku."

"Pastinya Anda tidak ingin memengaruhi keluarga Anda dalam keadaan apa pun," tambahnya.

Keduanya adalah dokter muda ketika wabah sindrom pernapasan akut yang parah (SARS), terjadi pada awal 2000-an. Krisis itu akhirnya membuat 386 pekerja medis di kota itu sakit dan menewaskan empat dokter, seorang perawat dan tiga asisten.

2 dari 2 halaman

Tetapi mereka mengatakan lebih khawatir dengan wabah saat ini daripada yang mereka hadapi ketika SARS.

"Dulu, tidak ada situasi seperti ini," katanya. "Pemerintah telah menciptakan suasana ketidakpercayaan."

Ketidakpercayaan itu telah mengakibatkan ribuan pekerja medis menekan pemerintah untuk menutup perbatasan dan mencegah orang China daratan memasuki kota.

SARS, kata mereka, menanamkan dalam diri mereka pemahaman tentang betapa mudahnya infeksi wabah dapat menyebar dan seberapa cepat kehidupan di kota itu dapat ditangkal oleh wabah. Itu juga memberi mereka apresiasi tentang bagaimana langkah-langkah sederhana bisa menyelamatkan jiwa.

Kami menyaksikan akibat dari SARS. Kami telah melihat orang mati, kata Dr. Pierre Chan.

"Sekarang, aku tahu harus khawatir."

Ketika dia memaksa kembali ke rumah pada hari Minggu lalu, anak-anak perempuannya memberinya gambar dirinya, dihiasi dengan hati merah muda dan bola sepak.

"Saya sangat senang bisa kembali ke rumah," katanya.

Tapi dia tetap memakai maskernya, dan dia tidak memeluk mereka.

Reporter Magang : Roy Ridho (mdk/pan)

Baca juga:
Mengenal Favipiravir, Obat yang Ditemukan China Buat Sembuhkan Virus Corona
Pengerjaaan Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Terganggu akibat Virus Corona
Dubes China Deng Xijun Berharap ASEAN Kerjasama Tangani Corona
Jokowi Tunggu Keputusan Jepang untuk Evakuasi 74 WNI di Kapal Pesiar
Cerita Orang China Alami Rasisme di Jerman, Ditolak Berobat ke Dokter
Intip Kesiapan KRI dr Soeharso Evakuasi WNI dari Kapal Diamond Princess

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami