Tak Ada Musuh Abadi, Suriah Kini Bersekutu dengan Kurdi Hadapi Turki

DUNIA | 15 Oktober 2019 07:35 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Pasukan Kurdi yang sebelumnya bersekutu dengan Amerika Serikat di Suriah dua hari lalu mencapai kesepakatan dengan pemerintah Suriah di Damaskus setelah AS memutuskan menarik pasukannya dari utara Suriah.

Dilansir dari laman the New York Times, Senin (14/10), kesepakatan itu menjadi perubahan besar pada peta konflik Suriah yang sudah berlangsung selama delapan tahun sejak 2011.

Selama lima tahun sebelumnya AS mengandalkan pasukan Kurdi untuk memerangi kelompok militan ISIS dan mencegah pengaruh Rusia dan Iran yang mendukung rezim Suriah.

Minggu kemarin, setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penarikan mundur pasukan, pengaruh AS pada pasukan Kurdi pun sirna. Kondisi ini membuat Presiden Basyar al-Assad dan Rusia serta Iran yang mendukungnya menjadi lebih leluasa. Situasi ini juga di sisi lain membahayakan kemenangan terhadap ISIS dan memberi peluang kelompok militan itu bangkit lagi.

Kesepakatan antara Kurdi dan Damaskus membuka jalan bagi pasukan pemerintah Suriah untuk kembali ke wilayah timur laut Suriah buat pertama kalinya selama delapan tahun terakhir dengan tujuan menghadapi invasi Turki di perbatasan. Penarikan mundur pasukan AS ini membuat situasi konflik Suriah memasuki babak baru yang tidak kalah akan menimbulkan pertumpahan darah.

1 dari 1 halaman

Tahanan ISIS kabur

Kesepakatan Kurdi dan Damaskus ini juga terjadi seiring kaburnya ratusan tahanan keluarga ISIS yang terdiri dari kaum perempuan dan anak-anak dari kam penahanan. Selepas pasukan AS ditarik, dua pejabat AS mengatakan mereka gagal memindahkan sekitar 50 tahanan ini yang dianggap penting keluar dari Suriah.

Pasukan milisi yang didukung Turki terlalu cepat mengambil alih jalur utama sehingga mempersulit penarikan mundur pasukan AS, kata si pejabat.

Invasi yang diperintahkan oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan ini muncul setelah mendapat lampu hijau dari Presiden Trump. Turki bertujuan menghabisi milisi Kurdi yang tergabung dalam Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang selama ini menjadi sekutu AS menghadapi ISIS. Turki menganggap SDF sebagai ancaman keamanan karena punya kaitan dengan gerakan separatis Kurdi di dalam negeri uang merongrong selama beberapa dekade.

Serangan Turki di wilayah Suriah sudah merenggut sejumlah nyawa dan membuat Kurdi menuding AS berkhianat karena meninggalkan mereka untuk menghadapi Turki sendirian. Hal itulah yang membuat mereka akhirnya bersepakat dengan Damaskus. Pasukan Suriah pun sejak Minggu mulai menuju utara untuk kembali mengambil alih dua kota dan menghadapi agresi Turki.

Invasi Turki di timur laut Suriah menimbulkan risiko ISIS kembali bangkit. Meski tidak lagi menguasai sejumlah wilayah Suriah, tapi sel-sel tidur ISIS masih ada.

Sejak invasi Turki yang dimulai Rabu pekan lalu, ISIS mengklaim sudah melancarkan dua serangan di Suriah: satu bom mobil di kota sebelah utara Qamishlo dan satu lagi di pangkalan militer internasional di luar Hasaka.

(mdk/pan)