Tak Hiraukan Imbauan Cepatnya Penyebaran Covid-19, Warga Pakistan Tetap Salat Jumat

Tak Hiraukan Imbauan Cepatnya Penyebaran Covid-19, Warga Pakistan Tetap Salat Jumat
DUNIA | 28 Maret 2020 14:12 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Para jemaah berduyun-duyun ke masjid-masjid di Pakistan pada Jumat, tak menghiraukan peringatan cepatnya penyebaran virus corona dan memicu kekhawatiran akan krisis kesehatan masyarakat di negara miskin itu.

Berbeda dengan banyak negara Muslim lainnya, ulama Pakistan dan pejabat pemerintah menolak menutup masjid untuk salat Jumat yang dihadiri jutaan orang setiap pekan, di mana pelukan dan jabat tangan adalah hal biasa.

Ulama terkemuka di negara itu hanya menyarankan agar yang tua dan sakit bisa menunda salat Jumat dan memerintahkan ulama untuk mempersingkat khotbah.

"Kami tidak percaya pada virus corona, kami percaya pada Allah. Apa pun yang terjadi, itu terjadi dari Allah," kata Altaf Khan, ketika para jemaah yang memakai masker tiba untuk salat Jumat di Islamabad, dikutip dari Alaraby, Sabtu (28/3).

Video Tiktok di Pakistan menunjukkan seruan kepada umat Islam untuk datang ke masjid walaupun ada peringatan kesehatan masyarakat.

"Sebagian besar orang ketakutan," kata warga Islamabad, Syed Ashfaq Ahmed setelah mengunjungi salah satu masjid.

"Mereka pergi ke masjid untuk mencari pertolongan Allah."

Pakistan sejauh ini telah mengumumkan 1.235 kasus Covid-19 dan sembilan kematian, tetapi ada kekhawatiran tes terbatas membuat skalanya rendah. Sebagian besar kasus terkait langsung dengan para peziarah yang kembali dari Iran, di mana selama berminggu-minggu pihak berwenang menolak menutup tempat suci ketika virus menyebar.

Di sejumlah negara Muslim, negara telah mengeluarkan kebijakan menutup masjid sementara untuk kegiatan salat berjemaah.

Arab Saudi telah menghentikan izin umrah dan menutup masjid, sementara para cendekiawan di Mesir telah mengeluarkan fatwa yang mengizinkan larangan tidak salat di masjid untuk membantu mengatasi wabah virus. Turki juga telah menutup masjid untuk pertemuan massal.

1 dari 1 halaman

Perdana Menteri Tolak Ikut Campur

tolak ikut campur rev1

Pakistan memiliki sejarah panjang kegagalan mengatasi penyakit menular seperti polio, TBC, dan hepatitis karena kurangnya investasi selama beberapa dekade di sektor kesehatan, yang menyebabkan rumah sakit memiliki keterbatasan dan teknologi vital yang diperlukan untuk menghadapi krisis.

Namun Perdana Menteri Imran Khan telah berulang kali menolak ikut campur dalam masalah penutupan masjid atau bahkan memerintahkan penutupan di seluruh negeri, dengan alasan dampak ekonomi.

"Agama selalu merupakan mata rantai terlemah dari lembaga-lembaga negara. Pemerintah khawatir akan reaksi dari para ulama," kata Direktur Institut Studi Perdamaian Pakistan, Amir Rana.

Tetapi beberapa gubernur telah mengambil tindakan sendiri, sementara militer telah menyebar ke seluruh negeri untuk membantu menjaga ketertiban.

Hanya Provinsi Sindh Selatan yang mengeluarkan perintah meniadakan salat Jumat.

Namun masih banyak ulama Pakistan yang mengatakan salat berjemaah itu penting di saat-saat yang mengerikan.

"Akal sehat memberi tahu Anda bahwa risikonya sangat tinggi," kata spesialis kesehatan masyarakat Arshad Altaf yang berpusat di Pakistan kepada AFP. (mdk/pan)

Baca juga:
Ngotot Main Pokemon Go Kala Lockdown, Pria ini Ditangkap
Rupa-Rupa Masker Tak Biasa untuk Tangkal Corona
Malaysia Terapkan Lockdown, TKI Kesulitan Penuhi Biaya Hidup
Saat Relawan Membuat Ventilator untuk Pasien Terinfeksi Corona
Kapan Manusia Bisa Kebal Terhadap Virus Corona?
Maskapai Emirates Setop Penerbangan di Seluruh Dunia

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami