Tak Semua Orang Punya Sidik Jari, Keluarga Ini Punya Kisahnya

Tak Semua Orang Punya Sidik Jari, Keluarga Ini Punya Kisahnya
amal dan apu sarker. ©courtesy of the sarker family
DUNIA | 26 Desember 2020 11:52 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Apu Sarker memperlihatkan telapak tangannya ketika dihubungi lewat sambungan telepon video di rumahnya di Bangladesh. Tak ada yang aneh kecuali permukaan ujung jarinya mulus polos tanpa sidik jari.

Apu, 22 tahun, tinggal bersama keluarganya di sebuah desa di Distrik Natore. Dia kini masih bekerja sebagai perawat. Ayah dan kakeknya adalah petani.

Anak laki-laki di keluarga Apu mengalami mutasi genetik yang sangat langka dan diperkirakan hanya terjadi pada sebagian kecil kelompok keluarga di dunia: mereka tidak punya sidik jari.

Di masa lalu kakek Apu mengatakan tidak punya sidik jari bukanlah masalah.

"Saya tidak pernah merasa tidak punya sidik jari akan menjadi masalah," ujar Apu, seperti dilansir BBC, Sabtu (26/12).

Namun setelah beberapa dasawarsa, garis melingkar-lingkar di ujung jari yang kita kenal sebagai sidik jari--atau disebut sebagai dermatoglif--menjadi data biometrik yang paling banyak dikumpulkan di dunia. Kita menggunakan sidik jari untuk semuanya, dari mulai di bandara, pemilihan umum, sampai memakai ponsel pintar.

Pada 2008 ketika Apu masih bocah, Bangladesh memberlakukan satu kartu tanda penduduk nasional bagi orang dewasa dan data yang dibutuhkan untuk membuat itu adalah cap jempol. Petugas yang kebingungan akhirnya menyerah ketika harus membuatkan kartu KTP ayah Apu, Amal Sarker. Akhirnya dia mendapat kartu KTP tanpa "sidik jari".

Baca Selanjutnya: Tak bisa bikin SIM...

Halaman

(mdk/pan)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami