Taliban Bebaskan Dua Tawanan Asing Setelah Afghanistan Bebaskan Tiga Pimpinannya

DUNIA | 20 November 2019 08:00 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Taliban menyampaikan pada Selasa mereka telah membebaskan dua tawanan yang disandera sejak 2016, sebagai imbalan atas tiga pemimpin tinggi Taliban yang dibebaskan pemerintah Afghanistan dan diterbangkan keluar Afghanistan sehari sebelumnya.

Dua tawanan tersebut yaitu Kevin King berkebangsaan Amerika Serikat dan warga Australia, Timothy Weeks, dibebaskan di Provinsi Zabul Selatan, setelah disandera tiga tahun.

Menurut pejabat Taliban yang tak ingin disebutkan namanya karena alasan tak memiliki kewenangan berbicara kepada media, pembebasan dua tahanan itu bertempat di Distrik Naw Bahar, daerah yang dikuasai Taliban. Dua tawanan itu adalah profesor di Universitas Amerika Kabul, diserahkan ke pasukan AS dan dikeluarkan dari wilayah itu menggunakan helikopter AS.

Mereka bebas beberapa jam setelah pemerintah Afghanistan membebaskan tiga tahanan Taliban dan diterbangkan ke Qatar. Tiga tahanan Taliban di antaranya Anas Haqqani, adik dari petinggi Taliban Sirajuddin Haqqani, yang juga memimpin jaringan Haqqani.

Universitas Amerika Kabul membenarkan pembebasan dua profesor tersebut.

"Kami membantu keluarga Kevin dan Timothy, dan kami berharap bisa menyiapkan semua bentuk dukungan untuk Kevin dan Tim dan keluarga mereka," kata pihak universitas dalam pernyataannya, dilansir dari South China Morning Post, Rabu (20/11).

Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani pekan lalu mengumumkan rencana pembebasan tiga tokoh penting Taliban. Pengumuman itu disampaikan dalam konferensi pers yang disiarkan televisi nasional. Dia mengatakan itu adalah keputusan berat yang harus diambil demi kepentingan rakyat Afghanistan.

1 dari 2 halaman

Diculik 2016

Kevin King dan Timothy Weeks diculik Taliban tahun 2016 di luar kampus. Tahun berikutnya, Taliban merilis dua video yang menunjukkan dua sanderanya.

Pada January 2017, video menunjukkan mereka tampak pucat dan kurus. Video berikutnya, King dan Weeks tampak lebih sehat dan mengatakan batas akhir pembebasan mereka ditetapkan 16 Juni tahun tersebut.

Keduanya mengaku diperlakukan dengan baik oleh Taliban walaupun mereka tetap berstatus tahanan dan meminta pemerintah mereka membantu proses pembebasan. Tak diketahui apakah mereka dipaksa berbicara atau tidak.

Setelah itu, pejabat AS mengatakan pasukan AS telah melakukan misi penyelamatan untuk membebaskan keduanya, tapi kedua sandera itu tak ditemukan di lokasi pengepungan.

2 dari 2 halaman

Jalan Perundingan Damai

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo dan Penasihat Keamanan Nasional AS, Robert OBrien berbicara terpisah dengan Presiden Ghani mendiskusikan pembebasan tahanan, kata juru bicara Presiden Ghani, Sediq Sediqqi.

Pertukaran tahanan ini bertujuan untuk memuluskan upaya ulang perundingan damai Afghanistan dan Taliban untuk mengakhiri perang 18 tahun dan penarikan pasukan AS dari Afghanistan. AS sempat setuju dengan kesepakatan dengan Taliban pada September lalu namun serangan baru di ibu kota Afghanistan yang menewaskan satu tentara AS membuat upaya perundingan mandek.

Pembicaraan langsung antara Taliban, pemerintah Afghanistan dan pihak penting lainnya bertujuan untuk mencapai kesepakatan mengakhiri perang dan merancang langkah berikutnya untuk masa depan Afghanistan. Ghani dalam pembicaraannya dengan Pompeo dan OBrien mengatakan pihaknya ingin mengurangi kekerasan dan gencatan senjata penuh.

Kementerian Luar Negeri AS dalam pernyataannya menyampaikan Pompeo mengatakan kepada Ghani bahwa AS berkomitmen untuk bekerja sama untuk mengatasi kekerasan jika Presiden Ghani tidak memiliki tujuan lain.

Provinsi Zabul Selatan, dimana dua profesor dibebaskan, berada dalam kontrol Taliban sepenuhnya dan seluruh bagian tak ada yang dikuasai pemerintah. Menurut Taliban, gencatan senjata tak resmi sedang dikaji di tiga distrik di provinsi tersbeut, Shahjoy, Shahmatzo dan Naw Bahar, mungkin untuk memfasilitasi pembebasan kedua sandera.

(mdk/pan)

Baca juga:
Afghanistan Bebaskan Dua Komandan Taliban, Ditukar Dua Tawanan
Dapat Ancaman Taliban, Afghanistan Tetap Gelar Pemungutan Suara Pemilu
Tentara Afghanistan Serang Taliban Dekat Lokasi Pesta Pernikahan, 35 Orang Tewas
Afghanistan Tuding Taliban Diperintah Qatar untuk Bunuh Warga
Trump Batalkan Diskusi Perdamaian dengan Taliban
Perempuan Afghanistan Menatap Suram Masa Depan di Bawah Taliban