Taliban Larang Anggotanya Berswafoto di Tempat Wisata

Taliban Larang Anggotanya Berswafoto di Tempat Wisata
Pejuang Taliban main di taman hiburan Kabul. ©WANA via REUTERS
DUNIA | 26 September 2021 16:08 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Taliban di Afghanistan memperingatkan anggotanya untuk tidak bertamasya ke tempat wisata dan berswafoto untuk diunggah ke media sosial karena hal itu dapat merusak citra mereka. Demikian dilaporkan harian the Wall Street Journal.

Ribuan anggota Taliban dikerahkan ke Ibu Kota Kabul setelah kelompok tersebut mengambil alih Afghanistan pada 15 Agustus.

"Ketika sedang tidak bertugas, mereka bertamasya, piknik dan mengunjungi taman hiburan, dengan memabwa senjata dan memakai turban," kata Wall Street Journal, seperti dilansir laman Al Arabiya, Sabtu (25/9).

Menteri Pertahanan Taliban Mawlawi Mohammad Yaqub mengecam para militan atas perilaku mereka.

"Tetap pada tugas yang telah ditugaskan kepada kalian. Kalian merusak status kita, yang telah diciptakan dengan darah para syuhada kami," jelasnya.

Dengan spesifik dia memperingatkan anggota Taliban untuk tidak berswafoto dengan pemimpin Taliban ketika mereka bertemu dan mengunggah foto tersebut ke media sosial karena telah mengungkapkan informasi lokasi dan aktivitas anggota Taliban.

Yaqub juga mengkritik cara berpakaian militan Taliban dengan memerintahkan mereka untuk menumbuhkan janggut, rambut dan pakaian harus menyesuaikan dengan pemahaman mereka terhadap aturan Islam.

"Laki-laki Taliban dengan rambut sebahu, pakaian bergaya, dan kacamata hitam serta mengenakan sepatu sneakers putih sering terlihat di Kabul," lapor WSJ.

"Ini merupakan perilaku dari panglima perang dan gangster dari rezim boneka," jelas Yaqoob, merujuk pada pemerintah Afghanistan dukungan AS yang digulingkan oleh Taliban. "Jika kita terus bertingkah seperti ini, Tuhan melarang, kita akan kehilangan sistem Islam kita."

Sejak mengambil alih Afghanistan, Taliban mencoba memperbaiki citra garis keras mereka di era 1996-2001 ketika mereka masih melakukan eksekusi di depan publik, pria yang tidak salat di masjid akan dicambuk, perempuan dilarang bepergian setiap hari dan berbagai pemahaman ekstrem dari hukum Islam.

Namun, kini terlihat Taliban tidak mengubah banyak sikap mereka seperti yang dikatakan oleh Mullah Nooruddin Turabi dalam sebuah wawancara dengan The Associated Press mengenai eksekusi dan amputasi merupakan hukuman "wajib" untuk menjaga keamanan di Afghanistan.

Reporter magang: Ramel Maulynda Rachma. (mdk/pan)

Baca juga:
Taliban Gantung Jasad Diduga Pelaku Penculikan
Presiden Turki Erdogan Kritik Pemerintahan Baru Taliban karena Tidak Inklusif
Pejabat Taliban Sebut Hukum Potong Tangan Bakal Kembali Diterapkan di Afghanistan
Ada Perpecahan di Internal Taliban, Siapa Saja Faksi yang Bertikai?
Sejarah Permusuhan dan Pertikaian Antara ISIS dengan Taliban
Taliban akan Buka Kembali SMA Bagi Perempuan
Taliban Minta Diberikan Kesempatan Berbicara di Majelis Umum PBB New York
Taliban: Tidak Ada Al-Qaidah Maupun ISIS di Afghanistan

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami