Taliban: Perempuan Seharusnya Tidak Diizinkan Bekerja Berdampingan dengan Laki-Laki

Taliban: Perempuan Seharusnya Tidak Diizinkan Bekerja Berdampingan dengan Laki-Laki
Aksi demo perempuan Afghanistan. ©AFP
DUNIA | 15 September 2021 09:00 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Seorang tokoh senior Taliban awal pekan ini menyampaikan, perempuan di Afghanistan seharusnya tidak diizinkan bekerja berdampingan dengan laki-laki. Jika diimplementasikan secara formal, perempuan bisa dilarang bekerja di pemerintahan, bank, perusahaan media, dan lainnya.

Tokoh senior Taliban Waheedullah Hashimi, menyampaikan kepada Reuters, pihaknya akan secara penuh mengimplementasikan syariat Islam berdasarkan versi mereka, meskipun ada tekanan dari komunitas internasional agar memberikan perempuan hak bekerja di mana pun yang mereka inginkan.

Sejak Taliban berkuasa pada bulan lalu, pejabat Taliban mengatakan perempuan dapat bekerja dan belajar dengan batasan-batasan hukum syariah. Saat berkuasa pada 1996-2001, Taliban melarang perempuan bekerja dan sekolah.

Masalah ini merupakan masalah penting untuk komunitas internasional dan dapat mempengaruhi jumlah bantuan dana dan bantuan lainnya yang diberikan kepada Afghanistan, yang sedang mengalami pergolakan krisis ekonomi.

"Kami telah melawan lebih dari 40 tahun untuk membawa sistem hukum syariah ke Afghanistan," jelas Hashimi, dilansir Al Arabiya, Selasa (14/9).

"Syariah tidak memperbolehkan pria dan perempuan untuk bersama-sama atau duduk dibawah atap yang sama.”

"Pria dan perempuan tidak dapat bekerja bersama. Itu jelas. Mereka tidak diizinkan untuk datang ke kantor kami dan bekerja di kementerian kami,” lanjutnya.

Pernyataan ini berbeda dengan pernyataan sebelumnya dari juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid. Setelah Taliban merebut Kabul, Mujahid menyampaikan perempuan merupakan bagian penting dari komunitas dan mereka akan diizinkan bekerja di beragam sektor.

Dia juga mengajak perempuan terlibat dalam pemerintahan dan meminta perempuan kembali bekerja. Namun saat pengumuman anggota kabinet pada 7 September, tidak ada pejabat dari kalangan perempuan dan muncul laporan sejumlah perempuan diminta pulang dari kantor mereka.

Hashimi mengatakan larangan perempuan bekerja juga berlaku untuk media dan perbankan.

Hashimi menyampaikan, hubungan antara laki-laki dan perempuan di luar rumah akan diizinkan dalam keadaan tertentu, seperti ketika bertemu dengan dokter laki-laki.

Perempuan juga diizinkan belajar dan bekerja di sektor pendidikan dan sektor medis, dimana fasilitas terpisah dapat dibangun untuk keperluan eksklusif mereka.

Pada hari Minggu, menteri pendidikan Taliban yang baru mengatakan perempuan dapat belajar di universitas, namun harus dipisahkan dari laki-laki.

Sejumlah perempuan Afghanistan turun ke jalan, berunjuk rasa menuntut hak-hak mereka dipenuhi. Beberapa unjuk rasa dibubarkan anggota Taliban bersenjata dengan menembakkan tembakan ke udara.

Reporter magang: Ramel Maulynda Rachma (mdk/pan)

Baca juga:
Warga Afganistan Turun ke Jalan Protes Penggusuran Rumah oleh Taliban
Asyiknya Tentara Taliban Main Bombom Car di Taman Hiburan Afghanistan
Taliban Bantah Kabar Wakil PM Abdul Ghani Baradar Tewas dalam Baku Tembak
Pemimpin Perlawanan Anti Taliban Ahmad Massoud Masih Berada di Afghanistan
Maskapai Pakistan Jadi Penerbangan Komersial Pertama ke Kabul Sejak Taliban Berkuasa
PIA, Maskapai Asing Komersial Pertama yang Mendarat di Bandara Kabul

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami