Tanda-tanda Memudarnya Kekuatan Amerika di Berbagai Belahan Dunia

DUNIA | 10 Juli 2019 07:19 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Ketidakmampuan menerima kritik, terutama yang bersifat konstruktif, adalah salah satu indikasi kelemahan; sejak kehancurannya di Irak, Amerika Serikat tidak dapat menerima kekeliruan langkahnya, dan telah memperparah kesalahan-kesalahan itu di Afghanistan dan Suriah hingga skala yang lebih besar.

Tanda kelemahan lain adalah tidak mampu menilai diri sendiri seperti orang lain menilai kita. AS tidak berpikir bahwa seluruh dunia - dengan pengecualian Israel - memandangnya sebagai sumber keangkuhan dan kesombongan imperium, sementara Amerika menganggap dirinya sebagai 'cahaya demokrasi yang bersinar di atas bukit'.

Namun satu-satunya perluasan pengaruh AS adalah dolar AS sebagai mata uang cadangan global, USD dalam hubungannya dengan militerisme telah membentuk dua dari lima pilar kekuatan AS, bahkan ketika militerisme AS tidak efektif dan disalahgunakan. Tapi 'kekuatan AS' lebih terkait dengan persepsi populer dibanding kenyataan yang kita lihat di lapangan.

Mempertimbangkan kemenangan Donald Trump pada tahun 2016, kurangnya arahan dan inkonsistensi dalam kebijakan luar negeri AS bukanlah hal yang tak terduga, dan dalam keadaan tertentu merupakan perkembangan yang disambut baik. Trump menunjuk orang-orang seperti Mike Pompeo, John Bolton, Elliott Abrams, Patrick Shanahan, David Friedman, Jason Greenblatt, Jared Kushner, dan banyak lagi Neocon-Neoliberal lainnya untuk menduduki jabatan tertentu.

Motivasi Donald Trump menempatkan orang-orang tersebut ke tampuk kekuasaan untuk memproyeksikan citra AS yang perkasa, namun pada kenyataannya ia justru mendapat efek sebaliknya. Di semua negara asing di mana militer AS beroperasi, kelanjutan dari kebijakan luar negeri Obama oleh rezim Trump telah terbukti tidak efektif, merusak, dan mahal. Demikian analisis dari Steve Brown, yang banyak menulis buku terkait kebijakan AS di luar negeri seperti Irak, dilansir dari laman The Duran, Selasa (9/7).

Tentu saja, Donald Trump tidak dapat sepenuhnya disalahkan atas kebijakan luar negeri AS saat ini, masalah sebenarnya dimulai dengan bencana Irak. Penyalahgunaan kekuasaan (baik terbuka maupun terselubung) terus berlanjut sepanjang tahun-tahun pemerintahan Obama, dengan munculnya 'Musim Semi Arab' (Arab Spring) hingga saat ini.

Jadi mari kita lihat beberapa negara secara terpisah, lihat bagaimana mereka berkembang, dan mengapa keberadaan AS tidak efektif, atau justru mempertahankan pengaruh buruk dengan kehadirannya di sejumlah negara:

1 dari 4 halaman

Israel-Palestina, Suriah

Israel-Palestina

AS dinilai selalu gagal menjadi fasilitator damai atas konflik berkepanjangan antara Israel versus Palestina. AS dinilai selalu gagal mencapai kesepakatan di Timur Tengah.

AS tidak pernah menjadi 'perantara jujur' di Timur Tengah, secara nyata digarisbawahi hari ini oleh penolakan Palestina - sebelumnya - dari rencana ekonomi Kushner, sebuah rencana yang dibuat tanpa partisipasi rakyat Palestina atau para pemimpinnya.

Suriah

Terkait kebijakannya di Suriah, AS ingin tampil dengan penuh kekuatan dan moral, namun yang ditampilkan justru sebaliknya, lemah dan amoral. AS bertujuan ingin melengserkan rezim pemerintahan di Suriah, bukan memfasilitasi perdamaian. Poin utama adalah bahwa kecenderungan AS adalah untuk perang demi keuntungan, tanpa dasar kemanusiaan atau moral untuk kehadirannya di Suriah (atau di mana pun) yang menjadikan AS lemah dan tidak bermoral, tidak lebih baik daripada aktor jahat terburuk di kawasan itu.

2 dari 4 halaman

Iran, Libya

Iran

Jelas bagi seluruh dunia bahwa AS menargetkan Iran untuk emas dan minyaknya, dan bukan karena alasan apa pun yang berkaitan dengan ambisi nuklir. Dengan menarik diri secara sepihak dari JCPOA, AS telah memberi Iran banyak kesempatan untuk mempermalukan AS, dan Eropa, dan untuk mengingatkan dunia bahwa AS, atas perintah Israel keluar dari perjanjian tersebut.

Libya

Kekosongan kekuasaan dan kekacauan di Libya membuat AS mendapat penilaian buruk karena semua tahu AS berada di belakang layar, dan saat ini AS sama sekali tidak memiliki pengaruh atau kendali di Libya untuk memperbaiki keadaan.

Mungkin itu adalah pelajaran terbesar dari semuanya - bahwa intervensi AS dalam negara berdaulat asing sejak Perang Dunia 2 selalu mengarah pada kegagalan, kekecewaan, dan tragedi; tidak hanya untuk negara itu, tetapi untuk AS juga.


3 dari 4 halaman

Venezuela, Korea Utara, China

Venezuela

Upaya kudeta AS baru-baru ini di Venezuela adalah tentang minyak dan emas - bukan tentang “hak asasi manusia” sebagaimana didengungkan Trump. Brown menilai AS hanya mengejar ambisinya di Venezuela dan salah satu kelemahan nyata AS adalah memanfaatkan isu hak asasi manusia untuk menjatuhkan saksi kepada negara yang dipimpin Nicolas Maduro itu.

Korea Utara

AS dinilai tidak berdaya dalam menindak program nuklir Korea Utara, karena Korea Utara memahami apa yang tidak dilakukan Saddam: bahwa jika Anda benar-benar memiliki senjata nuklir, Amerika Serikat akan berjabat tangan alih-alih menyerang Anda.

China

China adalah contoh paling nyata tentang ketidakmampuan AS untuk bertindak. AS memilih pertarungan dagang dengan musuh yang tangguh, dan AS dinilai tak akan pernah menang.

Dengan memprakarsai perang dagang ini, AS juga memberi China peluang nyata. Inflasi yang disebabkan perang dagang di AS dinilai justru sangat berisiko.



4 dari 4 halaman

Rusia, Afghanistan

Rusia

Meskipun menggembar-gemborkan hubungan yang lebih baik dengan Rusia selama kampanye Presiden Trump - , AS sekarang memanfaatkan lebih banyak sanksi terhadap Rusia daripada sebelumnya. Walaupun dampaknya tidak signifikan dan telah menyebabkan rubel jatuh terhadap mata uang lainnya, rubel yang lebih lemah telah merangsang manufaktur dalam negeri dan meningkatkan ekspor, sementara rubel juga berhasil mempertahankan nilai pasar yang stabil selama beberapa tahun sekarang. Adapun sanksi AS, justru semakin mengikis pengaruh dolar dan lebih lanjut menumpulkan pengaruh asing AS.

Afghanistan

Afghanistan adalah perang terpanjang Amerika, dan tidak ada tanda bahwa perang itu akan segera berakhir. Brown menilai militer AS tidak memiliki arah yang nyata di negara ini. Pemimpin AS dinilai penuh keragu-raguan, kebingungan, dan tidak memiliki kemampuan untuk bertindak terkait penarikan militer dari negara ini. (mdk/pan)

Baca juga:
Dinilai Tak Layak, Donald Trump Marah ke Dubes Inggris
Jerman Tolak Permintaan AS Kirimkan Tentara ke Suriah
AS Serukan Jerman Turunkan Tentara ke Suriah
Perjuangan Alta, Warga Keturunan Indonesia Jadi Paspampres Presiden Amerika Serikat
Beginilah Wajah Patung Melania Trump yang Jadi Kontroversi
Ancaman Menlu AS ke Iran jika Langgar Batas Pengayaan Uranium

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.