Tentara AS khawatir dipaksa langgar HAM jika Trump jadi presiden

Tentara AS khawatir dipaksa langgar HAM jika Trump jadi presiden
Bakal Capres Donald Trump kampanye di Kapal Perang USS Iowa. ©2016 Merdeka.com/AP/Kevork Djansezian
DUNIA | 4 Maret 2016 12:38 Reporter : Ardyan Mohamad

Merdeka.com - Banyak kalangan perwira militer Amerika Serikat sedang cemas melihat perkembangan politik terbaru di negaranya. Donald Trump, kandidat kontroversial yang sering bicara ceplas-ceplos, terus memimpin perolehan suara pemilihan internal Partai Republik.

Adapun kalangan militer AS khawatir terhadap perintah-perintah Trump seandainya menjadi presiden. Dalam beberapa kampanye, Trump mempunyai ide sistem pertahanan dan perang melawan terorisme yang jelas melanggar prinsip hak asasi manusia maupun hukum perang internasional.

The Daily Mail melaporkan, Jumat (4/3), Trump berjanji menyiksa tahanan teroris dengan metode yang lebih kejam dari waterboarding ala Penjara Guantanamo. Selain itu, sang miliarder bisnis kasino dan properti itu meminta tentara AS menghabisi keluarga anggota ISIS, termasuk anak-anak mereka, supaya pasukan khilafah lebih cepat menyerah.

"Saya yakin tentara kita masih memiliki nurani. Jika perintah semacam itu diumumkan sejak hari pertama (Trump) menjabat, maka periode kekuasaannya akan sangat pendek sekali karena bakal muncul perlawanan," kata Eugene Fidel, Dosen Fakultas Hukum Universitas Yale.

"Saya yakin tentara AS tidak akan menolak. Presiden adalah pemimpin tertinggi militer di negara ini. Saya terbiasa memimpin orang di perusahaan. Bila saya bilang tahanan teroris harus disiksa, saya yakin para perwira tidak akan membantah," kata Trump.

"Saya yakin tentara AS tidak akan menolak. Presiden adalah pemimpin tertinggi militer di negara ini. Saya terbiasa memimpin orang di perusahaan. Bila saya bilang tahanan teroris harus disiksa, saya yakin para perwira tidak akan membantah," kata Trump.

Hayden menjelaskan pada Trump, bahwa beberapa idenya berpotensi melanggar hukum internasional. Presiden Barack Obama telah menghentikan praktik seperti waterboarding (mengucurkan air ke kepala tahanan yang kepalanya dikerudungi kain, untuk mendapatkan informasi) dengan alasan tindakan sipir penjara Guantanamo itu melanggar HAM.

Trump mengaku tak peduli hukum internasional. "Lihat saja di Timur Tengah. Musuh-musuh negara kita sudah biasa memotong tangan penjahat, apakah kita akan menganggap waterboarding lebih kejam," kata bakal capres 69 tahun itu. "Kita harus berani memakai teknik yang bahkan lebih kejam dari waterboarding."

Bekas perwira Angkatan Udara AS, Charlie Dunlap, meyakini tentara Negeri Paman Sam siap melawan perintah dari presiden yang melanggar hukum. Jika Trump benar-benar menang pemilu 8 November mendatang, dan serius memerintahkan membunuh warga sipil secara sengaja, maka bisa dilakukan investigasi yang berujung pada pemakzulan.

"Perintah membunuh warga sipil tidak perlu dipatuhi oleh personel militer kita," kata Dunlap.

Trump semakin berpeluang besar menjadi capres Partai Republik setelah memenangkan pemilihan internal serentak di 12 negara bagian (Super Tuesday) pekan ini.Dia sudah meraih 329 delegasi, jauh meninggalkan lawan-lawannya seperti Senator Ted Cruz (231) maupun Marco Rubio (110). Partai Republik mensyaratkan seorang capres dapat maju dalam pemilu jika mendapat dukungan minimal 1.237 delegasi. (mdk/ard)

Baca juga:
Paus Fransiskus: Trump tidak pantas disebut Kristen
Rahasia Trump dari kandidat dagelan jadi unggulan bursa capres AS
Trump: usir muslim paling efektif caranya ditembak peluru darah babi
'Pilih Donald Trump, bukti rakyat AS semakin idiot'
Makin melejit di pilpres AS, harta Donald Trump malah anjlok

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami