Tim Cek Fakta: Trump Lontarkan 12.019 Pernyataan Ngawur dalam 928 Hari

DUNIA | 15 Agustus 2019 07:12 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump tercatat sudah menyebarkan 12.019 pernyataan yang salah dalam kurun waktu 928 hari. Perhitungan tersebut didapat dari data tim cek fakta The Washington Post yang menganalisis dan mengkategorikan setiap pernyataan yang dilontarkan Trump.

Dilansir dari laman the Washington Post, Selasa (13/8), sejak 26 April lalu, Trump telah membuat 10.000 pernyataan keliru. Setelahnya, rata-rata 20 klaim meragukan dilontarkan Trump setiap harinya. Bahkan, sejak menjabat sebagai presiden, setiap harinya dia tercatat melontarkan 13 klaim yang kurang tepat.

The Washington Post mengabarkan, setidaknya satu dari lima klaim yang dikeluarkan Donald Trump menyinggung masalah imigran. Isu ini mulai berkembang sejak pemerintah memberhentikan pendanaan untuk pembangunan tembok batas antara Amerika dan Meksiko, sebagaimana dijanjikan Trump dalam kampanyenya. Tercatat, Trump mengutarakan 190 klaim mengenai pembangunan dinding batas wilayah tersebut.

Keputusan Trump untuk membangun tembok batas wilayah Amerika dan Meksiko, mendapat penolakan keras dari kongres. Akibat dana pembangunan dinding tidak disetujui, Trump akhirnya memasang pagar penghalang sebagai pengganti tembok batas.

REUTERS

Dari total klaim menyesatkan yang diutarakan Trump, 10 persen di antaranya menyinggung masalah ekonomi dan campur tangan investigasi Rusia dalam kampanye presiden 2016 lalu. Lagi, isu ini juga dilontarkan berulang-ulang oleh presiden Amerika ke-45 itu.

Dikabarkan pada Senin (12/8), Trump sudah 186 kali mengeluarkan pernyataan bahwa ekonomi Amerika saat ini adalah yang terbaik sepanjang sejarah. Padahal, perekonomian Amerika saat ini tidak berjalan baik seperti yang terjadi pada masa kepemimpinan Dwight D. Eisenhower, Lyndon B. Johnson atau Bill Clinton. Bahkan, ekonomi AS dikabarkan mulai mengalami guncangan akibat perang dagang presiden.

Dalam 166 kesempatan, Trump mengklaim Amerika Serikat telah kehilangan pendapatan karena defisit perdagangan. Pernyataan ini dinilai mencerminkan kesalahpahamannya tentang dasar ekonomi. Pada faktanya, AS tidak kehilangan pendapatan dari defisit perdagangan. Defisit perdagangan hanya berpengaruh bagi orang orang yang membeli barang impor. Defisit perdagangan juga dipengaruhi faktor ekonomi makro, seperti mata uang, pertumbuhan ekonomi, dan tingkat investasi.

Sebanyak 162 kali, Presiden Trump mengatakan bahwa dia membayar pajak terbesar dalam sejarah. Bahkan, sebelum potongan pajak untuknya dibuat. Dia membandingkan dirinya dengan Presiden ke-40 Ronald Reagan. Menurut Trump, pajak yang ditanggung olehnya lebih tinggi dari yang dibayarkan Reagan.

Presiden Trump juga dikenal aktif dalam akun Twitternya. Sebanyak 18 persen klaim menyesatkan, diumumkan Trump melalui Twitter.

Berdasarkan analisa tim cek fakta, Trump memiliki kecenderungan untuk mengulangi informasi sesat. Hal ini dilakukan untuk meyakinkan masyarakat akan pernyataannya. Dari hasil survei yang dilakukan The Washington Post, tiga dari sepuluh warga Amerika percaya pada pernyataan bohong Donald Trump.

Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita

(mdk/pan)