UNHCR: Jumlah pengungsi global terburuk sejak Perang Dunia II
DUNIA | 20 Juni 2016 19:36 Reporter : Ardyan Mohamad

Merdeka.com - Badan PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) menyatakan dunia sedang mengalami krisis kemanusiaan terburuk sejak akhir Perang Dunia ke-2. Indikatornya adalah jumlah pengungsi hingga akhir tahun lalu yang mencapai 65,3 juta orang. Mereka tersebar ke seluruh dunia, terusir dari kampung halaman, terutama akibat perang. Pada 1945, jumlah pengungsi internasional sebanyak 60 juta jiwa.

UNHCR mencatat sumber lonjakan pengungsi terbesar berasal dari Suriah dan Afghanistan. Lembaga ini mendesak pemerintah dunia lebih aktif menuntaskan akar masalah eksodusnya para migran, yakni konflik di Timur Tengah.

"Kita perlu aksi nyata, aksi politik, untuk menghentikan konflik di wilayah-wilayah tertentu," kata Filippo Grandi, Komisioner Utama UNHCR seperti dilansir Aljazeera, Senin (20/6).

Hari ini, 20 Juni, PBB memperingati Hari Pengungsi Sedunia. Dari catatan UNHCR, negara paling banyak menerima pengungsi adalah Turki, mencapai 1,84 juta jiwa. Selanjutnya Pakistan 1,54 juta, disusul Libanon (1,1 juta), Iran (980 ribu) serta Ethiopia (700 ribu).

Berkebalikan dengan asumsi tahun lalu bahwa jutaan pengungsi membanjiri Eropa, faktanya negara-negara berkembang kini yang paling disesaki para migran.

Tidak semua migran itu terusir dari kampung halaman akibat perang. Jika dibedah lagi, maka 40,8 juta adalah pengungsi wilayah konflik, 21,3 juta mengungsi karena faktor selain perang, serta 3,2 juta adalah pencari suaka. Artinya satu dari 113 orang di muka bumi berstatus sebagai pengungsi.

Dengan banyaknya jumlah pengungsi, serta pertambahannya yang cepat, maka Grandi meminta negara-negara maju tidak menutup perbatasan.

Cepat atau lambat masalah aliran manusia ini akan memperburuk situasi Eropa, termasuk pada negara dengan pemerintahan anti-imigran.

"Tidak bisa tidak, Eropa harus menerima pencari suaka," kata Grandi.

(mdk/ard)