Usai Evo Morales Lengser, Muncul Potensi Perpecahan Etnis di Bolivia

DUNIA | 17 November 2019 07:13 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Sejak Evo Morales mengundurkan diri, presiden dari suku asli atau pribumi pertama Bolivia, ketegangan etnis yang telah lama memecah belah negara itu kembali meletus, menjadi kendala Bolivia keluar dari krisis politik.

Morales, pahlawan bagi suku asli, kini diganti presiden sementara keturunan Eropa, dan kebencian mengemuka. Polisi menyobek bendera yang melambangkan suku asli di seragam mereka, pengunjuk rasa membakar bendera warna warni suku asli. Dan presiden sementara, yang mengunggah cuitan yang dianggap rasial, menunjuk anggota kabinet tanpa satu pun perwakilan suku asli.

"Kami merasa terancam," kata Juan Acume, seorang petani dari Quechua, kelompok suku asli, dekat barikade gundukan tanah dan batang pohon di jalan utama Bolivia yang menjadi lokasi unjuk rasa pada Rabu malam.

"Mereka tidak mewakili kami; mereka menolak kami, suku asli," ujarnya, dilansir dari laman The New York Times, Sabtu (16/11).

Morales berkuasa hampir 14 tahun berhasil mengeluarkan terobosan bagi tiga perempat penduduk Bolivia yang berasal dari keturunan suku asli atau yang diidentifikasi sebagai anggota kelompok adat. Tapi Morales juga memperkuat basis dukungannya dengan seruan eksplisit pada identitas rasial yang oleh banyak orang Bolivia dianggap mengancam dan memperbesar polarisasi. Sekarang setelah Morales mendapat suaka di Meksiko, para pendukungnya takut kehilangan keuntungan politik dan ekonomi mereka yang susah payah dicapai.

1 dari 3 halaman

Polarisasi Rasial Menguat

Ketakutan mereka tumbuh saat Jeanine AÃez Chavez, senator oposisi, dengan cepat mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara pada Selasa, berjanji mempersatukan bangsa Bolivia dan menyerukan pemilu baru pada Januari mendatang. Tapi pada Rabu, saat dia mengumumkan kabinetnya, tak ada satu pun dari 11 menteri yang mewakili kelompok suku asli. Setelah muncul kritik keras, dia menunjuk perwakilan kelompok suku asli sebagai Menteri Kebudayaan saat dia menambah jumlah anggota kabinet.

Beberapa tahun sebelumnya, Anez mengunggah status provokatif di Twitter yang mengejek budaya suku asli, menyebut upacara keagamaan mereka 'kejam' dan menyebut Morales seorang Indian yang malang. Dia kemudian menghapus statusnya, tapi terlanjur menyebar luas di media sosial.

Kemudian muncul serangkaian unggahan rasis hoaks yang dikaitkan dengan AÃez dan disebarkan pendukung Morales, menurut kelompok pemantauan media, Observatory Verifikasi Bolivia. Pada sebuah konferensi pers pada Jumat, Anez membantah cuitan hoaks itu dan menuding musuhnya yang menyebarkan. Namun saat ditanya terkait cuitan rasialnya yang sebelumnya, dia bungkam.

"Retorika rasisme dan diskriminasi ini tidak benar dan kami membantahnya," ujarnya.

Dalam sejumlah kekerasan terburuk yang mengguncang Bolivia dalam beberapa pekan terakhir, polisi menembakkan gas air mata dan peluru tajam pada Jumat sore ke arah pendukung Morales yang tengah berunjuk rasa menuju Cochabamba, kota yang berlokasi di 250 mil timur La Paz. Menurut pengawas polisi Bolivia, setidaknya lima orang tewas.

Ketegangan antara populasi suku asli dan elit Bolivia yang telah berkuasa cukup panjang yang merupakan keturunan Eropa sejak era kolonial Spanyol, telah bergejolak di bawah permukaan sejak saat itu. Diego von Vacano, pakar politik Bolivia di Universitas A&M Texas membandingkan situasi di Bolivia dengan sistem apartheid di Afrika Selatan, dimana orang-orang suku asli menjadi masyarakat kelas dua.

"Kehadiran Evo cukup penting dan banyak hal positif bagi masyarakat suku asli," kata dia.

Tapi ketika Morales kehilangan cengkeraman kekuasaan dalam tiga tahun terakhir, Vacano menambahkan, Morales menyatukan basis suku aslinya melalui retorika pembedaan rasial, yang sekarang semakin mempolarisasi Bolivia.

Selama Morales menjabat, jumlah menteri perwakilan suku asli dan anggota kongres meningkat, termasuk perempuan yang memakai rok lebar disebut pollera, yang sempat dianggap rendah di tempat-tempat publik.

Morales juga melakukan redistribusi kekayaan gas alam negara kepada masyarakat lokal, dan memimpin memimpin kebangkitan kuliner, musik, dan pakaian tradisional. Dia juga memperkenalkan bendera multiwarna, disebut Whipala, yang merepresentasikan keragaman kelompok suku asli, dan menjadikannya sebagai bendera resmi di samping bendera kemerdekaan lama yang berwarna merah, hijau, dan kuning.

Kebijakan-kebijakan ini membuat Morales menjadi idola bagi masyarakat suku asli,
Quechua dan Aymara, yang merupakan sepertiga dari populasi orang dewasa di negara itu, menurut sensus terakhir. Kebijakan itu juga memicu kebencian bagi warga Bolivia campuran dan keturunan Eropa, termasuk kelompok suku asli minoritas di negara itu, yang menuding Morales melakukan favoritisme etnis dan eksploitasi perbedaan rasial untuk tujuan politis.

Pengkritik Morales mengatakan dengan berbagai kebijakannya itu, Morales menutupi kosmopolitanisme yang berkembang di negara itu. Persentase orang Bolivia yang telah mengidentifikasi diri mereka sebagai anggota kelompok adat atau suku asli turun menjadi 41 persen dalam sensus terakhir, pada 2012, dari 62 persen pada satu dekade sebelumnya.

"Rasisme itu ada di Bolivia; ada sebelum Evo, dan tak akan pernah hilang," kata agen asuransi, Michelle Kieffer, sembari menyeruput cappuccino di La Paz.

"Saat Evo memulai diskusi penting, dia juga memanipulasi isu ras, dan itu telah menyebabkan perpecahan. Dan sekarang orang-orang dari ras berbeda saling memandang dengan curiga," lanjutnya.

2 dari 3 halaman

Penistaan Bendera Whipala

Garis kesalahan politik Bolivia cukup kompleks; ras sering dicampur aduk dengan perpecahan regional dan ideologis. Ada pemimpin adat yang memutuskan hubungan dengan Morales karena tuduhan korupsi, dan beberapa orang Bolivia yang bukan penduduk asli mendukung politik sosialisnya. Tapi kesenjangan rasial terlihat jelas selama sepekan terakhir ini ketika membandingkan jumlah pengunjuk rasa yang menentang dan mendukung Morales.

Ancaman perpecahan ini berpotensi terjadi di Cochabamba, ibukota regional yang jumlah penduduknya yang beragam mencapai 700.000 jiwa. Cochabamba terletak di lembah pegunungan Andes, dikelilingi oleh desa mayoritas berbahasa Quechua. Di Cochabamba, pasukan komando polisi setempat Jumat lalu memutuskan bergabung dengan para demonstran yang memprotes pemilu yang memenangkan Morales yang memicu pembelotan pasukan keamanan secara nasional.

Pemberontakan itu membunyikan lonceng kematian pemerintahan Morales. Ditekan oleh angkatan bersenjata, Morales mengumumkan pengunduran dirinya dari markasnya di daerah pertanian koka di Provinsi Cochabamba pada hari Minggu, dan terbang ke pengasingan pada hari berikutnya.

Setelah mengambil alih kota Cochabamba, polisi pemberontak menyobek bendera Whipala dari seragamnya dan menginjaknya, aksi yang direkam koran lokal. Beberapa menit kemudian, demonstran anti pemerintah membakar bendera Whipala di alun-alun kota. Bagi pemberontak, penggunaan dua bendera nasional adalah simbol perpecahan yang digaungkan Morales.

"Mereka membuat kami percaya bahwa ada dua Bolivia, dan kami selalu meyakini cuma ada satu," kata komandan polisi di Santa Cruz, Kolonel Miguel Mercado, dalam wawancara televisi.

Tapi bagi sebagian besar masyarakat suku asli Bolivia, penistaan Whipala adalah penghinaan besar yang melambangkan akhir persamaan hak yang telah mereka nikmati di bawah pemerintahan Morales. Pada hari Kamis, ribuan petani Cochabamba turun ke pinggiran ibu kota regional mengibarkan dua bendera negara itu untuk menuntut kepulangan Morales.

Polisi militer dan polisi bersenjata berat menghalangi mereka masuk ke kota, sebuah pengingat bagi petani koka tentang penindasan brutal yang mereka alami selama pemerintahan sebelumnya yang pro-Amerika.

Itu adalah protes terbesar di Bolivia, namun tak ada satu pun wartawan yang meliputnya. Bagi para pengunjuk rasa, itu adalah satu tanda diskriminasi budaya. Program hiburan dan iklan di televisi nasional Bolivia hampir secara eksklusif dipenuhi oleh aktor dan presenter kulit putih.

"Mereka telah berkuasa selama 500 tahun, dan sekarang mereka ingin mengambil 13 tahun (kekuasaan) milik kita," kata Herlinda Cruz, seorang petani koka mengenakan pollera dan topi tradisional.

"Mereka akan mengambil pollera-ku. Mereka akan mengambil suaraku," tambahnya, menangis.

Morales juga memiliki hubungan yang tegang dengan Gereja Katolik Roma, salah satunya karena ia telah mendorong upacara tradisional Aymara di istana presiden, sebuah praktik yang dianggap pagan di negara di mana Katolik adalah bagian sentral dari penaklukan orang Indian pada abad ke-16.

3 dari 3 halaman

Kami Korbankan Nyawa Demi Hak Kami

Anez disumpah dengan memegang Alkitab, dalam upacara yang berlangsung di istana kepresidenan. Kendati mayoritas Bolivia mengaku beragama Nasrani, Aez yang beragama Katolik konservatif memberi isyarat kembalinya dominasi Eropa terhadap budaya Bolivia. Ketika Aez muncul di depan umum, seorang ajudan sering berdiri di sampingnya memegang salib.

Morales berupaya mendinginkan ketegangan budaya dan ras dari pengasingannya di Meksiko. Dalam konferensi pers dan unggahan Twitter dia menuding lawan-lawannya "rasis dan pelaku kudeta."

Pesannya digaungkan oleh para pendukungnya dalam unjuk rasa di Cochabamba pada hari Kamis. Banyak yang membawa senjata dan perisai buatan sendiri untuk berjaga-jaga dari serangan polisi. Setidaknya satu orang tewas dalam bentrokan antara pengunjuk rasa pendukung Morales dan polisi di provinsi terdekat hari sebelumnya.

"Mereka telah membakar bendera kita; mereka menertawakan budaya kita. Ini rasisme; ini diskriminasi," kata Alfonso Coque, seorang petani koka. "Kami akan mengorbankan nyawa demi hak kami." (mdk/pan)

Baca juga:
Parpol Pendukung Morales dan Oposisi Bolivia Sepakat Akhiri Krisis Politik
Membedah Alasan Mengapa Sentimen Anti Pribumi di Bolivia Menguat
AS Perintahkan Diplomatnya Segera Tinggalkan Bolivia
Jeanine Anez Umumkan Dirinya Presiden Sementara Bolivia
Benarkah Terjadi Kudeta di Bolivia Hingga Memaksa Morales Mundur?
Evo Morales Terbang ke Meksiko, Tinggalkan Bolivia Usai Dapat Suaka

TOPIK TERKAIT