Video 3 Nelayan WNI Ditawan Abu Sayyaf Minta Tolong Presiden Jokowi Bebaskan Mereka

DUNIA | 22 November 2019 12:42 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Kelompok militan Abu Sayyaf Filipina meminta uang tebusan sebesar Rp 8,2 miliar untuk pembebasan tiga nelayan warga negara Indonesia yang mereka culik dari perairan Lahad Datu pada September lalu. Tuntutan itu mereka sampaikan lewat video di laman Facebook Sabtu lalu.

Dikutip dari laman Daily Express, Kamis (22/11), dalam video itu ketiga nelayan WNI meminta kepada bos mereka dan presiden Republik Indonesia untuk menyelamatkan nyawa mereka.

Maharudin Lunani, 48 tahun, putranya, Muhammad Farhan, 27 tahun, dan keponakannya Samiun Maneu, 27 tahun, diculik oleh tujuh pria bersenjata ketika sedang menangkap udang di perairan Lahad Datu.

Dalam video itu mereka bertiga terlihat berjongkok tak berbaju dan tangan diikat.

"Kami bekerja di Malaysia. Kami kena tangkap kumpulan Abu Sayyaf pada tanggal 24 September 2019. Kami harap bos kami membantu kami untuk membebaskan kami dan juga presiden Republik Indonesia tolong kami supaya kami bebas dari sini," kata salah seorang dari mereka, seperti dilansir laman the Star, Kamis (22/11).

1 dari 2 halaman

Tiga WNI Diserahkan ke Pentolan Abu Sayyaf Yang Lain

Dalam video berdurasi 43 detik itu Samiun menyebut mereka sebagai warga Indonesia dan bekerja di Malaysia.

"Abu Sayyaf meminta tebusan 30 juta peso," kata Samiun.

Salah satu anggota keluarga dari nelayan itu juga dilaporkan menerima tuntutan tebusan serupa sebelum video itu dirilis. Komisioner Polisi Sabah Umar Mammah mengatakan, menurut sejawat mereka dari Filipina, para penculik itu juga meminta tebusan beberapa hari setelah mereka menculik ketiga WNI tersebut.

Namun Umar Mammah tidak menyebut besar uang tebusan yang diminta.

Pada 6 November lalu Daily Express melaporkan ketiga nelayan itu diserahkan dari pemimpin cabang Salip Mura kepada pemimpin lain Abu Sayyaf yang lain, Apo Mike @Majan Sahidjuan, keduanya masuk dalam daftar pencarian orang Komando Keamanan Sabah Timur.

Laporan itu mengatakan Salip dan Apo menahan mereka di Kampung Kabbon Maas, di wilayah Indanan, Sulu.

2 dari 2 halaman

Tentara Filipina Gelar Operasi Pembebasan

Namun informasi yang diperoleh dari sumber Filipina menyatakan para tawanan itu ditahan oleh lebih dari dua pemimpin cabang Abu Sayyaf di desa Sulu yang lain.

"Tiga WNI itu dipantau di Barangay Kagay, Indanan, Sulu pada 3 November di bawah pengawasan cabang Abu Sayyaf Sibih Pisih," kata Rommel Banloi, Kepala Institut Filipina untuk Penelitian Perdamaian, Kekerasan dan Terorisme, kepada Daily Express.

"Informasi ini berasal dari sumber di lapangan dan dibenarkan oleh anggota intelijen Angkatan Bersenjata Filipina."

Daily Express belum bisa memastikan apakah Sibih, menawan ketiga WNI itu sebelum ditahan oleh Salip dan Apo Mike.

Pada 6 November juga dilaporkan tentara Filipina sudah menggelar operasi untuk membebaskan ketiga WNI itu.

"Militer Filipina mengebom posisi Abu Sayyaf yang menawan ketiga WNI itu dan masih dalam pengejaran," kata Konsul Jenderal Ri di Sabah Krishna Djaelani kepada Daily Express.

Pada 18 Oktober Daily Express melaporkan ada dugaan ketiga nelayan WNI itu ditahan oleh Abu Sayyaf, mengutip pakar terorisme asal Indonesia.

Peneliti Galatea Ulta Levenia Nababan mengatakan kelompok Salip yang tadinya berjumlah sekitar 10-20 personel tapi setelah menculik tiga nelayan WNI itu mereka menambah anggota menjadi 50-60 orang bersenjata lengkap.

Januari tahun ini Sibih masuk dalam daftar 18 prang Filipina yang dicari karena kejahatan lintas batas.

Berikut video ketika tiga nelayan WNI itu meminta dibebaskan:

(mdk/pan)

Baca juga:
Militer Filipina Bantah Laporan Abu Sayyaf Minta Tebusan bagi 3 WNI Diculik
Abu Sayyaf Minta Uang Tebusan untuk 3 Nelayan WNI yang Diculik
KJRI Peringatkan Nelayan soal Militan Abu Sayyaf Akan Beraksi di Perairan Sabah
Coba Menyelamatkan Diri, WNI Korban Penyanderaan Abu Sayyaf Meninggal Tenggelam
Sandera Abu Sayyaf Asal Malaysia Berhasil Kabur, Dua WNI Masih Ditawan