Wabah Corona di Iran, Konflik Antara Agama dan Sains

Wabah Corona di Iran, Konflik Antara Agama dan Sains
DUNIA | 26 Februari 2020 06:25 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Wakil Menteri Kesehatan Iran Iraj Harirchi kemarin dinyatakan positif terinfeksi virus corona (Covid-19) dan harus dikarantina. Wabah corona di Iran sejauh ini sudah menewaskan 15 orang.

Harirchi kerap terbatuk dan tampak berkeringat dalam jumpa pers di Teheran kemarin bersama juru bicara pemerintah Ali Rabiei.

Dalam siaran televisi pemerintah, Harirchi cukup berani mengaku dirinya terinfeksi.

"Saya juga terinfeksi virus corona. Saya demam tadi malam dan hasil pemeriksaan awal sekitar tengah malam saya positif," kata dia.

"Saya mengisolasi diri setelah itu dan sekarang saya menjalani perawatan. Saya ingin katakan, kita pasti akan berhasil melawan virus ini dalam beberapa pekan ke depan."

Presiden Hassan Rouhani menyerukan kepada rakyat Iran untuk tidak panik.

"Kita akan melewati wabah virus ini," kata dia, seperti dilansir laman BBC, Selasa (25/2).

1 dari 2 halaman

Pejabat kesehatan sudah mengumumkan ada 95 kasus corona sejak pekan lalu. Namun angka sebenarnya diduga jauh lebih tinggi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan melonjaknya kasus corona di Iran sangat mengkhawatirkan.

Di seluruh dunia ada lebih dari 80.000 kasus corona dan sekitar 2.700 orang meninggal sejak wabah itu merebak dari Kota Wuhan, China akhir tahun lalu.

Berbagai laporan dari sejumlah kota di Iran menyatakan angka kasus corona jauh lebih tinggi dari yang diumumkan pemerintah.

Tidak seperti di Italia, pemerintah Iran menolak menerapkan karantina di wilayah yang terinfeksi. Mereka mengatakan karantina adalah cara lama dan mereka tidak percaya itu.

2 dari 2 halaman

Qom kebanggaan warga Syiah

warga syiah rev1

Rumah ibadah bagi kaum Syiah di Kota Qom dan Mashhad masih dibuka untuk umum, padahal Qom menjadi lokasi paling banyak warga terinfeksi corona.

Mullah di Qom, tempat ziarah yang menarik minat para peziarah dari berbagai belahan dunia dan menampung banyak siswa asing dari berbagai negara yang kuliah teologi, adalah kebanggaan orang Syiah.

Menutup kota itu tampaknya sulit bagi para mullah kecuali mereka mendapat tekanan internasional.

Iran juga dikatakan kekurangan peralatan medis untuk menghadapi wabah corona. Mereka juga tidak punya banyak masker dan perlengkapan pemeriksaan corona. Sejumlah petugas medis juga sudah terinfeksi. Ada kekhawatiran para petugas medis dan dokter akan kerepotan menghadapi wabah corona.

Anggota parlemen Iran Ahmad Amirabadi Farahani menduga virus corona sudah ada di Qom sejak tiga pekan lalu dan sudah ada 50 orang yang meninggal di kota itu.

Namun Harirchi membantah pernyataan Farahani. Dia mengaku siap mundur jika terbukti dia salah.

Farahani menolak mencabut pernyataannya dan mengatakan dia sudah menyerahkan daftar 40 warga Qom yang meninggal karena corona kepada Harirchi dan dia menunggu sang wakil menteri mundur dari jabatannya.

Iran juga diyakini menjadi sumber kasus pertama corona di sejumlah negara tetangga seperti Afghanistan, Bahrain, Irak, Kuwait dan Oman. (mdk/pan)

Baca juga:
Aktivitas Warga Iran di Tengah Merebaknya Wabah Corona
Jumlah Korban Meninggal Akibat Virus Corona di Iran Bertambah Jadi 15 Orang
Lima Negara di Timur Tengah Konfirmasi Kasus Pertama Virus Corona
Merebak di Korsel, Italia, Iran, Wabah Corona Kini Menyebar Cepat di Luar China
Pakistan, Turki, dan Afghanistan Tutup Perbatasan dengan Iran Akibat Wabah Corona
Wabah Virus Corona di Iran Diduga Berasal Dari Pekerja China

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami