Warga Miskin India Terpaksa Bekerja Saat Lockdown, Terima Risiko Dipukul Polisi

Warga Miskin India Terpaksa Bekerja Saat Lockdown, Terima Risiko Dipukul Polisi
DUNIA | 29 Maret 2020 07:32 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Perdana Menteri (PM), Narendra Modi pada 23 Maret tiba-tiba mengumumkan akan memberlakukan lockdown total di seluruh India. Hal ini membuat banyak jasa layanan pesan antar dan penyedia jasa layanan vital tak siap, menyebabkan kebingungan dan bentrokan antara polisi dan staf mereka di banyak daerah. Seperti dilaporkan wartawan BBC, Vikas Pandey.

Suresh Shah dan saudaranya, Ramprasad, menjual sayuran di Noida, pinggiran Delhi selama 15 tahun. Kegiatan sehari-hari mereka termasuk mengambil sayuran dari pasar grosir pada pagi hari dan kemudian menjualnya di gerobak kecil mereka pada sore hari.

Itu adalah kegiatan rutin hari-hari biasa bagi jutaan pedagang sayur di seluruh India. Tapi pada Selasa, rutinitas itu hancur berantakan.

Kedua bersaudara itu mengambil sayuran pada pukul 06.00 dan tiba di rumah satu jam kemudian. Mereka mengisi gerobak mereka dan keluar pada sore hari itu seperti biasa.

Tetapi kemudian petugas polisi mendekati gerobak mereka dan mulai meneriaki mereka menggunakan bahasa kasar.

Suresh mencoba menjelaskan kepada polisi, tapi sebelum dia menyadari apa yang sedang terjadi, salah satu polisi memukulnya cukup keras dengan tongkat. Dia kembali dipukul beberapa kali dan kemudian dipaksa membereskan gerobaknya dan pergi.

Itu artinya dia kehilangan sekitar 3.000 rupee atau USD 40 karena tak bisa menjual apapun.

"Saya dipukul dengan cukup keras dan bahkan sampai hari ini saya sulit duduk. Tapi yang lebih menyakitkan adalah itu sebuah kerugian cukup besar bagi saya karena saya hanya mendapat untung 300 rupee setiap hari," jelasnya, dikutip dari BBC, Sabtu (28/3).

Dia mengatakan, pedagang sayur seperti dirinya biasa dipukul polisi.

"Tetapi kali ini mereka memukuli kami ketika kami benar-benar berusaha membantu. Saya tahu risiko virus corona dan itulah mengapa peran kami sekarang lebih penting daripada sebelumnya," tambahnya.

Saudaranya berkata bahwa mereka beristirahat selama sehari dan kembali ke pasar.

"Kami perlu keluar dan mencari uang untuk keluarga kami. Tetapi yang lebih penting, orang membutuhkan persediaan dan kami membantu mereka tetap di dalam rumah. Kami membutuhkan dukungan dan bukan pukulan serta siksaan," kata Ramprasad Shah.

1 dari 2 halaman

Kami Bukan Musuh

musuh rev1

Insiden serupa dilaporkan di beberapa negara bagian beberapa hari setelah lockdown diberlakukan. Polisi Delhi bahkan memberhentikan sementara seorang petugas yang diduga memukuli seorang penjual sayur.

Selain dari polisi, para pedagang juga menghadapi pelecehan dari Resident Welfare Associations (RWA) - kelompok-kelompok lokal non-pemerintah yang mengurus pemeliharaan lingkungan dan masyarakat perumahan.

Rajesh Kumar diberitahu oleh RWA bahwa dia tidak bisa menjual buah-buahan di kawasan perumahan.

"Beberapa orang mengatakan kepada saya bahwa saya pergi ke pasar grosir sayuran yang ramai dan saya mungkin telah terinfeksi. Tetapi orang yang sama juga menginginkan diantarkan (pesanan) sampai depan pintu rumah mereka. Mengapa kita diperlakukan seperti ini?" (mdk/pan)

Baca juga:
Pemkab Berau Putuskan Karantina Wilayah Dua Pekan
Sejumlah Dusun DIY Lockdown Minimalisir Penyebaran Corona, Ini Tanggapan Pemerintah
Alasan Gubernur Bali Belum Berlakukan Lokal Lockdown
31 Maret Kota Tasikmalaya Berlakukan Lokal Lockdown
Viral, Ini 7 Potret Unik 'Lockdown' di Berbagai Desa di Indonesia

"Kami berusaha membantu orang tetap di dalam rumah. Kami bukan musuh di sini."

2 dari 2 halaman

Hadapi Situasi Baru

baru rev1

Pedagang seperti Rajesh dan Shah bersaudara adalah tulang punggung rantai pasokan barang-barang penting India, terutama di kota-kota kecil dan desa.

Mereka membawa sayuran, buah, biji-bijian, roti, dan susu ke jutaan rumah setiap hari. Tetapi lockdown telah memutus hubungan penting ini dalam rantai pasokan.

Agar masa lockdown 21 hari berhasil, mereka harus bekerja dan harus tahu bagaimana melindungi diri terhadap virus.

Sejumlah pemerintah negara bagian telah mengumumkan vendor atau pedagang akan mendapatkan izin, memperingatkan polisi untuk tidak menghentikan mereka menjalankan bisnis mereka.

Kepala kepolisian Uttar Pradesh, HC Awasthy mengatakan kepada BBC bahwa "ini adalah tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya".

"Ada beberapa insiden menyimpang dalam dua hari pertama. Kami sebagian besar menegakkan lockdown secara damai. Polisi telah diberitahu untuk tenang dan sabar menghadapi masyarakat. Situasi ini baru bagi semua orang," jelasnya.

Prioritas utama pasukannya, katanya, adalah bekerja dengan pemerintah daerah untuk memastikan masyarakat mendapatkan pasokan kebutuhan dasar.

"Kita harus menghindari pertemuan massal di mana saja - baik itu toko, bank atau tempat lain. Kita bersama-sama, jadi saya mendesak orang untuk bersabar dengan polisi juga."



Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami