WHO Sebut Hydroxychloroquine Tak Bisa Obati Covid-19 dan Hentikan Uji Coba

WHO Sebut Hydroxychloroquine Tak Bisa Obati Covid-19 dan Hentikan Uji Coba
DUNIA | 6 Juli 2020 11:08 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - WHO menyampaikan menghentikan uji coba untuk mengetahui apakah obat anti-malaria Hydroxychloroquine (hidroklorokuin) bisa mengobati pasien Covid-19, setelah uji coba tidak menunjukkan manfaat obat tersebut.

WHO mengatakan telah "menerima rekomendasi" dari komite yang mengawasi persidangan untuk menghentikan pengujian hidroklorokuin dan lopinavir/ritonavir, kombinasi obat yang digunakan untuk mengobati HIV/AIDS. Obat tengah dibandingkan dengan perawatan standar untuk pasien yang dirawat di rumah sakit.

Sebuah tinjauan terhadap hasil sementara menunjukkan hidroklorokuin dan lopinavir/ritonavir “menghasilkan sedikit atau tidak ada pengurangan dalam angka kematian pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit jika dibandingkan dengan standar perawatan,” jelas badan PBB tersebut, dilansir dari Times of Israel, Senin (6/7).

Badan itu menambahkan, sementara tidak ada "bukti kuat" peningkatan mortalitas untuk pasien yang dirawat di rumah sakit yang diberi obat, ada beberapa tanda keamanan terkait dalam temuan laboratorium klinis dari uji coba.

WHO mengatakan keputusan itu tidak akan memengaruhi uji coba yang mungkin dilakukan pada pasien yang tidak dirawat di rumah sakit, atau mereka yang menerima obat sebelum kemungkinan terpapar dengan virus corona atau tidak lama kemudian.

Sejumlah penelitian meragukan hidroklorokuin sebagai obat efektif melawan Covid-19.

1 dari 1 halaman

Sebuah penelitian di Inggris pada Juni menemukan, obat malaria itu tidak ampuh melawan virus corona. Penelitian ini mendaftarkan lebih dari 11.000 pasien di Inggris, Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara yang diberikan standar perawatan atau yang ditambah satu dari beberapa perawatan: obat kombo HIV lopinavir-ritonavir, antibiotik azithromycin; steroid dexamethasone, obat antiinflamasi tocilizumab, atau plasma dari orang yang sembuh dari Covid-19 yang mengandung antibodi untuk melawan virus.

Obat itu sangat dipuji Presiden AS, Donald Trump, yang mendorong warga Amerika untuk menganggapnya sebagai profilaksis meskipun belum terbukti manfaat kesehatan atau keamanannya.

Pada April, Israel membeli lima ton bahan yang dibutuhkan untuk membuat obat tersebut yang dikirim dari India. Seorang pejabat pemerintah kemudian mengatakan, Israel telah memutuskan untuk menimbun obat ternyata, jika obat itu terbukti membantu melawan virus corona. (mdk/pan)

Baca juga:
239 Ilmuwan Simpulkan Virus Corona Menular Lewat Udara, Desak WHO Revisi Penanganan
Kasus Kematian Covid-19 Rendah, Dulu Jepang Disebut Pernah Dilanda Penyakit Sama
Indonesia Masih Peringkat Pertama Kasus Covid-19 Tertinggi di ASEAN
Kasus Covid-19 Meningkat, Apple Store di AS Kembali Tutup
Kabar Gembira Soal Vaksin Corona, Akhir Tahun Sudah Bisa Tersedia
Kim Jong-un Sebut Korea Utara Sukses Tangani Covid-19

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami