5 Makanan Vegan yang Dituding Tak Ramah Lingkungan

5 Makanan Vegan yang Dituding Tak Ramah Lingkungan
Ilustrasi jamur. ©Pixabay
GAYA | 31 Juli 2021 18:16 Reporter : Tantri Setyorini

Merdeka.com - Saat ini mulai banyak orang yang mengadopsi gaya hidup dan pola makan vegan. Bukan hanya untuk kesehatan, gaya hidup vegan dinilai lebih baik secara etika. Pasalnya, makanan yang disantap memiliki jejak karbon lebih pendek jika dibandingkan dengan sumber protein hewani. Misalnya daging sapi yang proses ternaknya berkontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca planet ini. Produksi daging juga membutuhkan sejumlah besar tanah dan air, sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan lebih lanjut.

Sebuah penelitian mengklaim bahwa veganisme bisa menjadi 'satu-satunya cara terbesar' untuk mengurangi dampak lingkungan di bumi. Namun, rupanya veganisme juga memiliki sisi lain. Penelitian yang muncul juga menemukan bahwa beberapa bahan pokok nabati tidak ramah lingkungan seperti yang dipikirkan beberapa orang sebelumnya karena cara bertani dan pendistribusiannya.

Berikut ini adalah lima makanan vegan yang ternyata tidak berkelanjutan seperti yang banyak dikira, dilansir Independent (24/7/2021).

1. Alpukat

011 tantri setyorini
©2019 Merdeka.com/Pixabay

Alpukat dapat menyebabkan kerusakan parah pada planet ini karena cara pendistribusiannya. Ada kekurangan besar buah di Kenya (pengekspor buah keenam terbesar di dunia), yang tahun lalu sebenarnya melarang ekspor alpukat karena pasokan negara itu terancam.

Meksiko, tempat asal alpukat sekarang menghasilkan lebih banyak uang dari mengekspor alpukat daripada dari minyak bumi. Hal itu menyebabkan peningkatan yang mengkhawatirkan dalam deforestasi ilegal untuk menciptakan lebih banyak ruang untuk menanam pohon alpukat lebih lanjut.

Deforestasi merupakan kontributor utama perubahan iklim mengingat pohon membantu mencegah akumulasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer. Rainforest Alliance memperkirakan bahwa hal itu menyebabkan sekitar 10 persen emisi di seluruh dunia.

"Ketika kita membuka hutan, kita tidak hanya melumpuhkan sekutu terbaik kita dalam menangkap jumlah GRK yang kita ciptakan oleh manusia (yang kita lakukan terutama dengan membakar bahan bakar fosil di fasilitas energi, dan tentu saja, di mobil, pesawat, dan kereta api)," jelas organisasi tersebut.

"Kita juga menciptakan emisi dengan menebang pohon: ketika pohon ditebang, mereka melepaskan semua karbon yang telah mereka simpan ke atmosfer. Apa yang dilakukan dalam deforestasi dengan pohon-pohon yang ditebang—entah membiarkannya membusuk di lantai hutan atau membakarnya—menciptakan emisi lebih lanjut."

Baca Selanjutnya: 2 Almond...

Halaman

(mdk/tsr)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami