Menelusuri jejak korban genosida di Museum Tuol Sleng Kamboja
GAYA | 5 September 2013 10:10 Reporter : Kun Sila Ananda

Merdeka.com - Rezim Khmer Rouge dalam sejarah Kamboja adalah salah satu masa yang menakutkan. Pada masa pemerintahan tersebut terjadi pembunuhan besar-besaran terhadap para loyalis dari rezim sebelumnya, yaitu rezim Lon Nol serta keluarga mereka yang dianggap menganut paham komunis. Setidaknya terjadi pembantai terhadap 17.000 orang dalam penjara yang kini telah diubah menjadi museum Tuol Sleng ini.

Sebelumnya, Tuol Sleng adalah sebuah sekolah menengah bernama Chao Ponhea Yat. Setelah Khmer Rogue memenangkan perang Kamboja, sekolah ini diubah menjadi penjara yang diberi nama Security Prison 21 (S-21). Perombakan besar-besaran pun terjadi di bangunan tersebut. Semua kelas dibongkar dan diubah menjadi tempat penyiksaan lengkap dengan jendela berteralis besi serta listrik agar tahanan tidak kabur.


Museum ini konon adalah sekolah yang diubah menjadi penjara

Semua tahanan kebanyakan adalah loyalis dari rezim sebelumnya, aktivis, serta semua keluarga mereka. Setidaknya terdapat ribuan orang tak bersalah yang ditahan dan disiksa di tempat ini. Bentuk penyiksaan yang terjadi juga sangat tidak manusiawi.

Awalnya para tahanan difoto, kemudian didata. Setelah itu semua barang bawaan mereka dirampas dan mereka ditelanjangi untuk diperiksa. Setelah dimasukkan dalam sel, mereka akan dirantai dengan rantai besi yang menempel pada tembok. Para tahanan tak diperkenankan bicara satu sama lain. Setiap pagi pakaian mereka dilucuti untuk pemeriksaan. Mereka hanya diperbolehkan makan empat sendok nasi dan sup dua kali sehari.


Anak-anak juga menjadi korban penyiksaan di Tuol Sleng

Para tahanan disiksa dengan cara-cara yang kejam seperti disetrum, organ dalam mereka diambil tanpa anestetik, beberapa mengalami kekerasan seksual, dan beberapa bahkan dikuliti hidup-hidup. Dari sekitar 17.000 orang yang masuk, hanya tujuh orang yang berhasil selamat.

Setelah era berubah, penjara ini kemudian diubah menjadi museum untuk menyimpan kenangan mengenai genosida yang terjadi di tempat itu. Semua ruangan dibiarkan apa adanya. Bahkan beberapa lukisan yang dibuat oleh tahanan bernama Vann Nath juga masih ada di sana.

Mengunjungi museum ini, Anda akan disuguhi foto-foto para tahanan pada masa tersebut. Anda juga bisa melihat beberapa tengkorak dari tahanan yang tersisa dalam sebuah lemari. Banyak yang percaya bahwa museum ini dihantui oleh para korban genosida yang pernah ditahan dan disiksa di sana. Bisa jadi arwah mereka masih belum tenang akibat perlakuan tak manusiawi selama hidup.

Berhantu atau tidak, menelusuri tempat yang pernah menjadi saksi penyiksaan terhadap ribuan manusia tentunya menghadirkan kengerian tersendiri. Anda mungkin bisa merasakan hawa dingin yang mencekam ketika mengunjungi setiap bilik penyiksaan atau melihat foto-foto para tahanan. Meski begitu, tak ada salahnya mencoba mengunjungi tempat ini. Siapa tahu Anda mendapatkan pelajaran yang berharga sambil berwisata horor.

(mdk/kun)

TOPIK TERKAIT