Mereka yang Teguh Melestarikan Wastra Nusantara yang Bernilai Budaya Tinggi

GAYA | 14 Agustus 2019 16:57 Reporter : Syakur Usman

Merdeka.com - Kain tradisional atau wastra adalah peninggalan turun menurun leluhur yang menjadi salah satu kekayaan budaya Indonesia. Mencintai dan menjaga wastra nusantara berarti menjaga ingatan terhadap budaya dan peradaban bangsa nan majemuk ini. Karena setiap lembar wastra mempunyai nilai-nilai filosofis nan agung dan luhur.

Notty J Mahdi, pemerhati batik Indonesia, mengatakan jika nilai-nilai filosofis motif-motif batik di seluruh nusantara dikaji lebih dalam, maka terlihat bahwa motif- motif itu memiliki benang merah yang mencerminkan karakter budaya Indonesia.

"Memahami makna dan cerita di balik motif-motif kain nusantara menjadi salah satu upaya penting dalam menjaga ingatan kita tentang bagaimana peradaban nusantara terbentuk. Dalam konteks hari ini, menjadi bagian dari upaya melestarikan keberadaan kain-kain nusantara," ujar Notty yang juga Antropolog dari Universitas Indonesia, dalam diskusi bertajuk "Wastra dan Kemerdekaan", menyambut peringatan kemerdekaan ke-74 RI yang digelar PT Nojorono Tobacco International di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, kemarin (13/8).

Menurutnya, sejatinya setiap kain-kain nusantara memiliki tujuan penggunaan masing-masing saat awal dibuat. Namun, meski setiap pengguna kain-kain nusantara harus memahami makna kain yang digunakan, jangan sampai menjadikannya sangat jauh dari keseharian masyarakat.

Fenomena hari ini dengan meluasnya penggunaan batik, tenun, dan beragam kain nusantara lainnya sebagai pakaian keseharian menjadikan kain lebih merakyat dan masyarakat bangga mengenakannya, ujarnya.

Melestarikan Kain Ulos Kekinian

Erfan Siboro adalah seorang pegiat wastra ulos (tenun ulos) dalam diskusi ini menceritakan upayanya menjadikan ulos sebagai pakaian keseharian dan impiannya melalui karya desain fashion.

Dia mengatakan, karyanya berawal dari keinginan untuk turut meramaikan pilihan penggunan kain Indonesia sebagai pakaian formal untuk dikenakan bekerja, sejak pemerintah menetapkan hari penggunaan Kain Indonesia dalam Bekerja, selain batik, tenun NTT, dan tenun lainnya.

Saat ini Erfan memiliki usaha fashion tenun Ulos, Abit Kain, yakni produk yang dibuat berdasarkan pesanan. Dan Abit Catalogue, koleksi fashion siap pakai yang diproduksi dalam jumlah tertentu, yang dirintis sejak 2015. Kini usaha ulosnya dikenal tak hanya di kalangan masyarakat atau pecinta kain tenun, tapi juga dunia.

"Yang menarik dari usaha yang saya jalani adalah, seperti membuka kembali sebuah tabir sejarah dan fakta. Yaitu mengembalikan fungsi tenun ulos sebagai produk sandang, seperti nenek moyang orang Batak dahulu gunakan. Banyak orang Batak sendiri menggangap ulos sebagai sebuah benda keramat, dihormati, dan terkesan berhala. Padahal dari dokumen sejarah bisa kita temukan foto-foto nenek moyang orang Batak mengenakan ulos sebagai pakaian keseharian, ungkapnya.

Diskusi wastra menyambut peringatan kemerdekaan ke-74 RI ini menjadi tonggak penting bagi PT Nojorono Tobacco International, demi menumbuhkan semangat selalu mencintai warisan budaya nusantara yang kaya dari berbagai derah di Indonesia, seperti wastra atau kain tenun batik, lurik, dan ulos.

"Ini menjadi bagian penting dari kepedulian dan tanggung jawab kami sebagai perusahaan nasional yang terus-menerus memberikan kontribusi nyata di bidang pelestarian budaya dan pendidikan bagi masyarakat," ujar Debora Amelia Santoso, General Marketing Communication and Corporate Branding PT Nojorono Tobacco International.

(mdk/sya)

TOPIK TERKAIT