Nilai Filosofi di Balik 4 Monumen Bersejarah di Jakarta yang Jarang Diketahui Warga

GAYA | 29 Oktober 2019 13:05 Reporter : Tantri Setyorini

Merdeka.com - Sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian, Jakarta menyimpan banyak situs sejarah. Ibukota juga memiliki sejumlah monumen bersejarah. Salah satu yang paling dikenal mungkin Monumen Nasional alias Monas.

Meski sering dilalui, tak semua peristiwa di balik pendirian monumen-monumen itu diketahui oleh masyarakat. Bahkan oleh mereka yang tinggal di ibukota sekalipun.

Seperti apa cerita di balik monumen-monumen ikonis seperti Patung Dirgantara dan Tugu Selamat Datang? Berikut ini penjelasan singkat yang bisa Anda simak.

1 dari 4 halaman

Monumen Nasional

Monumen ini lebih dikenal orang dengan singkatannya, Monas. Arsitek dari monumen ini adalah Frederich Silaban dan R M Soedarsono. Tugu ini merupakan tugu peringatan kegigihan rakyat Indonesia melawan penjajahan Pemerintah Hindia Belanda yang berkuasa ratusan tahun.

 /></p>
<p style=Jakarta-tourism.go.id

Pembangunan tugu ini lahir dari pemikiran Presiden Ir Soekarno pada 1949 yang pada saat itu Indonesia sudah menyatakan merdeka, tapi Belanda masih terus bernafsu menguasai kembali Indonesia. Oleh sebab itu, Presiden Ir Soekarno bermaksud menjunjung kebesaran negara dengan simbol yaitu monumen.

Pada 1961, Monumen Nasional mulai didirikan di Gambir, Jakarta Pusat, dan selesai pada 12 Juli 1975. Kini, Monas telah menjadi salah satu ikon Jakarta, dan tempat rekreasi hingga wisata edukasi masyarakat lokal maupun luar daerah.

2 dari 4 halaman

Monumen Selamat Datang

Walaupun hanya patung yang tidak terlalu besar, karena tempat berdirinya di Bundaran HI ini membuatnya jadi yang paling terkenal di Jakarta. Monumen ini dibuat atas perintah Presiden Ir Soekarno untuk mempercantik wajah Jakarta dalam rangka persiapan Asian Games ke-4. Saat itu, Indonesia menjadi tuan rumah.

 /></p>
<p style=Liputan6.com/Faizal Fanani

Sketsa dasar monumen ini dibuat oleh seniman Henk Ngantung dan dikerjakan oleh pematung Edhi Soenarso. Monumen ini selesai dibangun pada tahun 1962. Bentuk monumennya yaitu terdapat muda mudi yang tengah berdiri melambaikan tangan sambil membawa buket bunga.

Patung ini mencirikan bahwa Indonesia memiliki keramahtamahan dalam menyambut tamu. Kalau dilihat, monumen ini memang sedikit mirip dengan rancangan monumen Vera Mukhina untuk Pavilium Uni Soviet di Expo pada 1937.

3 dari 4 halaman

Monumen Patung Dirgantara

Karena didirikan di sekitar daerah Pancoran, Jakarta Selatan, orang-orang sering menyebutnya patung Pancoran. Padahal, patung ini dibangun karena ingin memberi penghormatan terhadap Angkatan Udara yang gugur dalam perang Kemerdekaan Indonesia. Itulah sebabnya patung ini memiliki nama asli Patung Dirgantara.

 /></p>
<p style=Shutterstock

Lagi-lagi, monumen ini adalah karya seniman patung Edhi Soenarso. Patung ini dibuat oleh Edhi dengan bentuk seseorang yang mengacungkan tangannya ke udara. Acungan tangannya itu mengarah ke Bandar Udara Internasional Kemayoran, yang saat itu adalah bandara yang melayani seluruh rute penerbangan.

Saat ini bandara itu sudah pindah menjadi ke Bandara Internasional Soekarno Hatta di Cengkareng. Proses pembuatan patung ini sedikit tersendat karena peristiwa G30SPKI pada tahun 1965. Monumen akhirnya selesai dibangun pada 1966.

4 dari 4 halaman

Monumen Pembebasan Irian Barat

Patung ini berbentuk seorang laki-laki yang mematahkan rantai dengan kedua tangannya dan kakinya yang menghadap ke arah Barat. Ini menggambarkan alasan dinamakan Monumen Pembebasan Irian Barat yaitu karena Irian Barat telah lepas dari belenggu kekejaman Belanda.

 /></p>
<p style=Liputan6.com/Fery Pradolo

Patung setinggi 9 meter ini lagi-lagi adalah karya dari pematung Edhi Soenarso yang sketsanya dibuat dari seniman Henk Ngantung. Diresmikan pada 1963 oleh Presiden Ir Soekarno, monumen ini juga memiliki filosofi lain yaitu pecahnya demonstrasi massa di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, tempat berdirinya monumen tersebut.

Monumen ini menampilkan orang dengan otot menonjol dimaksudkan pematung sebagai simbol tekad masyarakat Indonesia untuk lepas dari belenggu Belanda. Kala itu, Belanda berkeras tak mau melepaskan Papua dari tanggannya. Hingga kini, monumen ini masih berdiri kokoh di Lapangan Banteng. Lapangan Banteng juga sering dijadikan tempat olahraga santai di pagi maupun sore hari.

Reporter: Ossid Duha Jussas Salma/Putu Elmira
Sumber: Liputan6.com (mdk/tsr)

Baca juga:
Dubai Dinobatkan Sebagai Salah Satu Kota Terbaik Dunia Versi Lonely Planet
Coban Trisula, Air Terjun Tiga Tingkat nan Sejuk di Malang
Mitos Gunung Mujur, Makam Keramat, dan Candi Telih yang Misterius
Melancong Bersama Alam di Ekowisata Boon Pring
Brondby Haveby, Pemukiman Lingkaran Unik di Denmark

TOPIK TERKAIT