Racikan jengkol 'ramah' a la Heri Kuncung

GAYA | 2 November 2015 15:03 Reporter : Kresna

Merdeka.com - Masakan berbahan baku jengkol meski nikmat, tetapi selalu lekat dengan aroma menyengat. Kebanyakan orang jadi enggan menyantapnya, bukan lantaran rasanya, tetapi karena baunya sulit hilang.

Meski demikian, masakan jengkol membikin bau kini sudah menjadi mitos. Hal itu dibuktikan lewat menu olahan jengkol di warung makan Rojo Jengkol's, terletak di Jalan Kabupaten, Gamping, Sleman.

Warung makan ini memang mengkhususkan diri menggarap menu berbahan dasar jengkol. Mereka juga memberi jaminan kepada para penggemar jengkol tidak akan bakal mengalami bau mulut setelah menyantapnya."Saya jamin, mulut tidak bau, bab juga tidak, pipis pun tidak akan bau," kata sang pemilik Rojo Jengkol's, Heri Kuncung, saat ditemui merdeka.com di warungnya, Senin (2/11).

Merdeka.com pun mencoba membuktikan janji Heri terhadap jengkol hasil racikannya. Memang aroma khas jengkol pun tidak menyengat pada masakannya. Apalagi, jengkol di rumah makan ini begitu empuk. Tidak butuh tenaga ekstra buat memotong atau menggigitnya.

Di warung Rojo Jengkol's, Heri menawarkan empat varian masakan jengkol. Antara lain semur jengkol, rendang, balado, dan gulai. Masing-masing masakan memiliki kenikmatan tersendiri.

"Saya membuat ini pertama karena saya juga suka jengkol. Dan ini adalah persembahan saja untuk penggemar jengkol. Balado untuk mereka yang suka pedas, semur yang suka manis, rendang yang suka pedasnya sedang, gule yang suka gurih," ujar Heri.

Heri pun berbagi sedikit rahasia membikin masakan jengkol tetapi aromanya tidak menyengat. Menurut dia, kuncinya ada pada proses pengolahan. Heri mengatakan, untuk menghilangkan bau itu dibutuhkan proses paling tidak selama lima hari.

"Proses pengolahan 5 hari, dari perendaman, digepuk, lalu direbus dengan rempah-rempah, diulangi sampai dua sampai tiga kali proses. Setelah itu baunya hilang, rasanya tetap jengkol," ucap Heri.

Meski warung Heri baru buka beberapa pekan, tetapi pelanggannya sudah banyak. Dalam sehari, paling tidak dia bisa menghabiskan lima kilogram jengkol buat dimasak.

"Kita melayani delivery, pesanan bahkan ada yang di luar Yogya. Ada orang Surabaya pesan, tapi kita bingung bungkusnya dan kirimnya," tambah Heri.

Wijaya, salah seorang pelanggan Rojo Jengkol's, mengaku puas dengan masakan jengkol di rumah makan itu. Sebab, dia tidak khawatir lagi dengan aroma khas jengkol yang biasanya menyengat dan mengganggu."Enggak perlu malu bau mulut. Kalau habis makan jengkol, biasanya mau buang air kecil di tempat umum malu, bau," kata Wijaya. (mdk/ary)

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.