Solusi dan Inovasi Akar Rumput dalam Menciptakan Kota Berketahanan

Solusi dan Inovasi Akar Rumput dalam Menciptakan Kota Berketahanan
Urban Innovation Challenge. ©2021 Urban Innovation Challenge
GAYA | 24 Desember 2021 10:55 Reporter : Tantri Setyorini

Merdeka.com - Rangkaian kegiatan Urban Innovation Challenge, program pengembangan kapasitas untuk mengatasi masalah pembangunan yang dihadapi oleh komunitas akar rumput (grassroot) dan menjalin langkah kolektif dalam menciptakan kota berketahanan, akhirnya ditutup dengan Demo Day pada hari Kamis (16/11). Ini adalah program kolaborasi antara Ecoxyztem dengan UNDP Accelerator Labs yang telah dilaksanakan sejak Oktober 2021, berhasil menyaring 12 komunitas dan organisasi akar rumput dari 127 aplikasi yang masuk dari berbagai kota di Indonesia yang berfokus pada 3 topik utama Urban Innovation Challenge tahun ini: Kota Pintar atau Smart City, Pengelolaan Sampah, dan UMKM & Digitalisasi.

Pada Demo Day yang dilaksanakan secara hybrid ini, telah terpilih 3 solusi terbaik yang akan mendapatkan kesempatan mengikuti program pengembangan kapasitas dan pendanaan eksperimentasi dari UNDP Accelerator Labs & Partners, yakni 1) Forum Kolaborasi Komunitas Peduli Sampah (FOKKALIS), (2) Center of Geomatics Application for Sustainable Development (CEGAS) Studio, dan (3) Sayur Sleman.

Negara-negara di dunia saat ini rentan terhadap berbagai ancaman bahaya bencana alam seperti banjir, topan, kenaikan muka air laut, dan lain sebagainya. Sebagai negara dengan tingkat urbanisasi tercepat di Asia (4,1% per tahun), Indonesia juga rentan akan ancaman bahaya tersebut. Menurut lembaga Verisk Maplecroft (2021), 3 kota dengan kepadatan tertinggi di Indonesia (Jakarta, Surabaya, dan Bandung) masuk dalam daftar 10 besar kota dengan risiko dampak lingkungan (environmental risk) tertinggi di dunia, bahkan Jakarta menempati posisi teratas. Dengan semangat gotong royong, maka aktor dan pemangku kepentingan yang berbeda-beda dapat melakukan co-creation inovasi sosial untuk menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat perkotaan demi masa depan yang berketahanan dan berkelanjutan.

“Kota-kota di Indonesia memiliki kapasitas untuk mendorong pertumbuhan inklusif dan keberlanjutan serta menjadi alat untuk meningkatkan kohesi dan kesetaraan sosial. Urban Innovation Challenge adalah upaya kami untuk mendorong inovasi akar rumput dan memfasilitasi kolaborasi antara masyarakat dan inovator untuk lebih memajukan pembangunan perkotaan menuju pencapaian SDGs”, ujar Sophie Kemkhadze - Deputy Resident Representative, UNDP Indonesia dalam sambutannya.

2 dari 2 halaman
urban innovation challenge
©2021 Urban Innovation Challenge

Sebelas komunitas/organisasi yang terlibat antara lain Urban Lotus, Fokkalis, Millennials Farmer (Milfa), Gotiz, CEGAS Studio, Sayur Sleman, Layar UMKM, Aliansi Kuliner Indonesia (KUL-IND), AIUEO Kreasi Energi, HAKLI, dan Blue Lens Initiative. Selama kurang lebih 1 bulan, para komunitas/organisasi telah menerima dukungan berupa workshop dan mentorship yang intensif dari para mentor dan narasumber yang memiliki latar belakang keahlian di tiga topik utama Urban Innovation Challenge yang berasal dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yayasan Kota Kita, Rame Rame Jakarta, Design Ethnography Lab. (DE:Lab), Resilience Development Initiative (RDI), Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit GmbH (GIZ), Kopernik, dan Jabar Digital Service untuk memperkuat solusi inovatif yang mereka usulkan.

"Inovasi-inovasi sosial yang diciptakan oleh para komunitas di Indonesia masih belum banyak dikenal masyarakat dan seringkali terabaikan. Padahal banyak sekali produk-produk yang bernilai dan mampu bersaing di pasar Indonesia. Diharapkan dengan adanya acara UIC ini, inovasi-inovasi sosial dari masyarakat dapat lebih dikenal dan dapat saling melengkapi dalam kehidupan bermasyarakat," ujar Prof. Ahmad Najib Burhani - Institute of Social Sciences and Humanities (ISSH), BRIN dalam acara Demo Day.

Salah satu dari dari tiga solusi terpilih, “Sayur Sleman” yang memiliki solusi program sayur online dan sedekah sayur untuk memberdayakan para petani, pedagang sayur, dan UMKM, menyatakan antusiasmenya bisa mengikuti rangkaian kegiatan Urban Innovation Challenge dan terpilih untuk mengikuti program pengembangan kapasitas dan pendanaan implementasi.

"Saya lebih banyak belajar tentang proses disini karena kita dibimbing sejak awal dari pengumuman finalis, bootcamp, hingga Demo Day. Saya mencurahkan komitmen 100% untuk acara ini sehingga bisa lebih totalitas. Mentor-mentornya juga sangat berpengalaman dalam memberikan ilmu yang applicable untuk diterapkan di lapangan dan di masyarakat. Terimakasih kepada UNDP Accelerator Labs dan Ecoxyztem yang sudah support full kami kesebelas finalis dari awal sampai nanti implementasi program," ujar Janu Muhammad, Founder Sayur Sleman.

Tidak berhenti disini, rangkaian kegiatan Urban Innovation Challenge hingga Demo Day menjadi wadah kolaborasi multipihak, khususnya yang bergerak di level akar rumput (grassroot) yang diharapkan akan terus berlanjut dan bertumbuh dalam menciptakan kota berketahanan.

"Kami patut bangga bisa ikut menjadi saksi dari bertumbuhnya inovasi-inovasi grassroot untuk menciptakan kota yang berketahanan. Ecoxyztem akan terus selalu terbuka untuk berkolaborasi sekaligus berkontribusi dengan semua badan baik pemerintah, non-pemerintah, startup, maupun komunitas grassroot, karena itu sudah menjadi DNA Venture Builder kami untuk mendorong pertumbuhan solusi berkelanjutan ditengah masyarakat," Jonathan Davy, CEO Ecoxyztem yang ditemui di sela-sela acara Demo Day.

Baca juga:
Catat, Cara Elegan Minta Naik Gaji ke Perusahaan
Pengertian Kepemimpinan beserta Fungsi dan Tujuannya
Ini Hal yang Wajib Diketahui Pelajar Indonesia Sebelum Kuliah ke Luar Negeri
Ini Usia yang Tepat Bagi Wanita Jadi Pengusaha
Daftar 10 Profesi Baru yang Paling Dicari di Indonesia Versi Kominfo

TOPIK TERKAIT

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami