Selain Halloween, Ini 8 Festival Kematian Paling Meriah dari Berbagai Negara

GAYA | 31 Oktober 2019 08:08 Reporter : Tantri Setyorini

Merdeka.com - Tanggal 31 Oktober menjadi hari perayaan Halloween. Festival ini tidak terlalu populer di Indonesia. Hanya kemeriahannya saja yang sampai ke negara kita.

Tetapi tak hanya negara kita yang kurang akrab dengan Halloween. Beberapa negara lain punya festival yang sekonsep dengan Halloween. Perayaannya pun tak kalah seru.

Berikut ini Merdeka.com tampilkan selengkapnya seperti dilansir Listverse.

1 dari 8 halaman

Festival Obon - Jepang

Festival Obon - Jepang. ©2015 Smithsonian

Kalau Amerika dan Inggris punya Halloween, orang Jepang lebih akrab dengan Obon. Obon adalah perayaan tradisional untuk memperingati roh kerabat dan keluarga. Hari kematian Jepang ini dirayakan pada hari ke-15 bulan ke-7.

Festival ini telah dirayakan selama lebih dari 500 tahun. Walaupun tujuan utamanya adalah menghormati arwah para leluhur, Obon dimeriahkan dengan pesta kembang api, permainan, dan tarian Bon Odori.

Orang Jepang percaya jiwa mereka kembali saat Obon berlangsung. Saat Obon biasanya mereka pulang ke kampung halaman dan memperingati arwah leluhur bersama keluarga.

Di Kyoto warga menandai akhir perayaan Obon dengan menyalakan api unggun raksasa di bukit-bukit. Tujuannya adalah untuk memandu roh kembali ke alam baka.

2 dari 8 halaman

El Dia de los Muertos - Meksiko

El Dia de los Muertos - Meksiko. ©2015 Unlimited Vacation Club

El Dia de los Muertos memiliki konsep yang hampir serupa dengan Halloween. Festival ini juga produk asimilasi dari ritual kuno dan ajaran Kristen. El Dia de los Muertos dikenal hampir seluruh negara Amerika Latin, tetapi warga Meksiko yang paling antusias merayakannya.

Dia de los Muertos berlangsung selama 2 hari. Inti dari perayaan tersebut adalah memperingati kehidupan yang pernah dijalani mendiang dengan makanan, parade, tarian dan pesta pora. Dengan cara itu diyakini roh orang-orang yang sudah mati akan kembali dan ikut berpesta sebelum kembali ke dunia mereka.

Makam mendiang dibersihkan dan dipasangi altar sederhana yang dilengkapi persembahan makanan. Salah satu yang paling khas adalah Pan de muerto atau 'roti orang mati'. Roti berbentuk tulang belulang ini khusus dipanggang oleh anggota keluarga yang masih hidup.

3 dari 8 halaman

Zhong Yuan Jie - China

Zhong Yuan Jie - China. ©2015 Ivan Damanik/NurPhoto/Corbis

Para pemeluk Buddha dan Tao merupakan orang-orang yang sangat menghargai leluhur dan nenek moyang. Setiap tahun, mereka mempersembahkan 1 bulan penuh untuk menghormati anggota keluarga yang sudah meninggal.

Pada bulan khusus itu mereka merayakan Zhong Yuan Jie atau 'festival hantu-hantu yang kelaparan'. Warga China percaya gerbang ke alam baka terbuka pada bulan ketika Zhong Yuan Jie berlangsung. Tak jarang warga menghindari aktivitas di luar ruangan pada malam hari karena takut diganggu hantu yang telah melewati gerbang alam baka.

Perayaan Zhong Yuan Jie dimulai dengan parade dan diakhiri dengan menghanyutkan lentera air. Warga yakin, semakin jauh lentera hanyut sebelum sebelum terbakar, semakin besar pula keberuntungan yang didapat keluarga mendiang di tahun mendatang. Mereka juga membakar uang kertas palsu, mobil-mobilan, dan istana kertas sebagai bekal untuk si mendiang agar bisa hidup enak di alam sana.

4 dari 8 halaman

Pchum Ben - Kamboja

Pchum Ben - Kamboja. ©2015 Flickr user Erik Davis

Antara pertengahan September atau Oktober warga Kamboja menghentikan seluruh kegiatan duniawi untuk merayakan Pchum Ben. Ini merupakan salah satu hari raya paling penting dalam kalender agama Khmer.

Hari raya ini berlangsung selama 15 hari. Saat itu warga Kamboja memadati pagoda sambil mengenakan pakaian berkabung berwarna putih.

Pchum Ben adalah hari-hari di mana batas antara alam baka dan dunia manusia tiada. Saat itu para arwah akan kembali kepada kerabat yang masih hidup untuk menebus dosa-dosa dari kehidupan mereka di masa lalu. Sebagai gantinya, warga Kamboja membawa makanan persembahan ke pagoda.

5 dari 8 halaman

Pitru Paksha - India

Pitru Paksha - India. ©2015 Flickriver/firoze shakir photographerno1

Pitru Paksha adalah tradisi di mana para pemeluk Hindu mengenang nenek moyang mereka. Perayaan ini berlangsung selama 15 hari pada bulan Hindu Ashwin. Saat itu warga memberikan persembahan berupa makanan.

Pitru Paksha berawal dari kisah Karna, seorang prajurit dalam mitologi Hindu. Ketika jiwanya mencapai surga, Karna merasa lapar. Namun dia tidak menemukan apapun selain emas. Karna meminta makanan kepada Indra, sang penguasa langit.

Namun Indra mengatakan Karna hanya bisa makan emas karena dia tidak pernah mempersembahkan makanan untuk nenek moyangnya selagi masih hidup. Karna menyesali perbuatannya dan diizinkan untuk kembali ke bumi selama lima belas hari. Waktu itu dia gunakan untuk menebus kesalahan dengan memberikan makanan dan air.

6 dari 8 halaman

La Fiesta de Santa Marta de Ribarteme - Spanyol

La Fiesta de Santa Marta de Ribarteme. ©Shutterstock

La Fiesta de Santa Marta de Ribarteme merupakan event tahunan yang diadakan di Las Nieves, kota kecil di bagian barat laut Spanyol. Ritual pura-pura mati ini telah menjadi bagian dari budaya lokal di Las Nieves.

Selama berabad-abad, gereja Katolik tak dapat sepenuhnya mengintegrasikan ajaran mereka di Las Nieves. Sebagian besar penduduk masih percaya penyihir dan roh jahat dalam kehidupan spiritual mereka. Maka, festival unik ini adalah salah satu upaya gereja untuk beradaptasi dengan budaya lokal masyarakat.

La Fiesta de Santa Marta de Ribarteme digelar pada tanggal 29 Juli setiap tahun, sebagaimana dilansir Odditycentral.com. Beberapa orang akan ditidurkan dalam peti mati dan kemudian diarak keliling kota. Mereka bahkan berakting seolah-olah telah meninggal.

7 dari 8 halaman

Radonitsa - Ukraina, Belarus, dan Rusia

©Shutterstock

Umat Gereja Ortodok Rusia dan negara sekitarnya punya Radonitsa, sebuah perayaan untuk mengingat anggota keluarga dan leluhur yang telah meninggal dunia. Perayaan yang berakar dari tradisi Slavia ini dilakukan pada hari Selasa kedua Paskah. Beberapa daerah di Rusia merayakannya pada hari Senin.

Saat Radonitsa, warga berkunjung ke makam dan mengadakan jamuan bersama mendiang di sana. Mereka juga meletakkan telur Paskah di batu nisan dan memberikan hadiah untuk mertua di hari ini.

8 dari 8 halaman

Gai Jatra - Nepal

©Shutterstock

Gai Jatra bisa juga disebut festival sapi Nepal. Kenapa harus sapi? Sebab orang Nepal percaya sapi adalah binatang yang bisa membantu perjalanan mendiang ke alam baka. Jadi keluarga yang baru kehilangan anggota keluarga akan menuntun sapi atau anak lelaki yang didandani seperti sapi sepanjang jalan.

Puncak festival ini bisa disaksikan di Kathmandu, ibukota Nepal pada bulan Agustus atau September. Perayaan akan berlangsung selama delapan hari.

Itulah festival-festival kematian selain Halloween yang dirayakan di berbagai negara. (mdk/tsr)

Baca juga:
Kuda Mengamuk Saat Perayaan Divas di India
Festival Sukkot, Umat Yahudi Berburu Ranting untuk Bikin Gubuk
Kelucuan Anjing Pakai Kostum di Pawai Halloween
Kenalan dengan Aquascape dan Serba-Serbi Perikanan di Aquafest 2019
Ratusan Pendaki Ikuti Panjat Tebing di Pulau Kalymnos