Tips Pendiri LSPR Jakarta untuk Praktisi Komunikasi Perusahaan di Era Digital

Tips Pendiri LSPR Jakarta untuk Praktisi Komunikasi Perusahaan di Era Digital
GAYA | 27 Februari 2020 21:58 Reporter : Syakur Usman

Merdeka.com - Zaman digital menciptakan peta media di Tanah Air semakin clutter (baca: dinamis). Hal ini dipicu kehadiran beragam channel di luar media mainstream yang kerap mempengaruhi strategi komunikasi para pemilik brand.

Dalam situasi ini, peran jurnalis sebagai earned media menjadi sangat penting untuk menyebarkan pesan dan informasi kepada khalayak, sekaligus memberi value dalam kampanye brand dan korporat. Untuk itu, tentu saja penting bagi pengelola brand memahami tuntutan dan kebutuhan para jurnalis dalam menjalankan profesinya.

Pentingnya para pemilik brand memahami jurnalis dalam menjalankan praktek jurnalistik inilah yang menjadi tema utama sharing session dalam acara MIX Marketing Gathering, sekaligus memperingati HUT ke-16 Majalah MIX Marcomm di Auditorium London School Public Relations (LSPR) Jakarta, Rabu (26/2). Acara menghadirkan jurnalis dari berbagai media, serta para praktisi PR dan pengelola brand dari sejumlah korporat.

Prita Kemal Gani, Founder dan CEO LSPR Jakarta, dalam keynote speech menyampaikan tantangan dan peluang bagi para praktisi komunikasi perusahaan di era digital. Menurutnya, ada lima tantangan dan peluang tersebut. Pertama, konvergensi media tradisional dan digital; kedua, bentuk komunikasi interaktif; ketiga, informasi sekarang mengalir dengan cepat dan gratis; keempat, segala sesuatu didukung oleh teknologi; dan kelima, kecepatan perubahan dan kecepatan respons.

President ASEAN PR Network (APRN) ini menekankan bahwa aktivitas PR yang proaktif sangat dibutuhkan untuk membangun sebuah brand. Terlebih di era digital yang semakin heterogen dengan tampilnya new audience, new relations, new tool, dan new standard.

“Jelas, itu menjadi tantangan bagi pengelola brand dan praktisi komunikasi,” ujarnya.

Ada tiga strategi PR di era digital saat ini, yakni pentingnya menjalin hubungan baik; melakukan endorse melalui orang-orang yang kompeten dan memiliki kredibilitas yang baik (endorse frienship) ; serta berupaya menciptakan image brand serta korporat yang juga baik (build good image).

Prita juga memaparkan kompetensi yang harus dimiliki seorang PR di era digital sekarang hingga lima tahun ke depan. Kompetensi tersebut, antara lain relationship skill; resources skill; management skill; leadership skill; multimedia development skill; research skill & analysis; written & verbal communications skill; multicultural & adaptable; entrepreneurial skill; serta finance & budgeting skill.

Sejumlah fakta tentang convergence media tradisional dan digital, penyampaian pesan brand dan customer yang semakin cepat, interaktif, dan semua orang bisa berkomentar di sosial media, dinilai Prita, adalah tantangan juga peluang.

“Yang terpenting adalah bagaiman pemilik brand dapat merancang strategi PR dengan jitu melalui orang-orang di bagian PR yang memiliki skill dan kompetensi andal,” ujarnya.

Baca Selanjutnya: Tantangan Jurnalis Era Digital...

Halaman

(mdk/sya)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami