Cerita Prabu Siliwangi Dikejar Anaknya dan Asal Usul Penamaan Tempat di Garut

Cerita Prabu Siliwangi Dikejar Anaknya dan Asal Usul Penamaan Tempat di Garut
Prabu Siliwangi. historyofcirebon.id ©2020 Merdeka.com
HISTORI | 21 Juli 2021 05:03 Reporter : Mochammad Iqbal

Merdeka.com - Sri Baduga Maharaja atau biasa kita kenal sebagai Prabu Siliwangi merupakan Raja kerajaan Pajajaran yang cukup dikenal oleh masyarakat Sunda. Di Kabupaten Garut, Prabu Siliwangi memiliki salah satu cerita yaitu saat dikejar oleh anaknya, Prabu Kian Santang atau Raden Sangara, atau Syeh Sunan Rohmat Suci untuk diajak Masuk Islam.

Cerita pengejaran tersebut oleh seorang penyanyi pop Sunda, Yayan Jatnika dijadikan sebuah lagu dengan judul 'Sancang'. Berikut bait-bait yang dinyanyikan dalam bahasa Sunda:

Ngalanglangan pakidulan Garut (Menengok Garut Selatan)
Ombak basisir ketir dina waktu eta (Ombak pesisir pantai membuat ketir waktu itu)
Sayang Heulang kakarang gajah (Sayang Heulang karang gajah)
Los ka jojontor sancang (Berangkat ke tanjung Sancang)
Ceunah cek beja baheula aya nagara (Menurut cerita dahulu ada negara)
Sancang pakuan pajajaran katelahna (Sancang Pakuan Pajajaran terkenalnya)
Prabu siliwangi nu jadi rajana (Prabu Siliwangi yang menjadi rajanya)
Sakti mandra buhunan (Sakti mandra buhunan)
Bade di islamkeun anjeuna alim (Mau diislamkan, ia tidak mau)
Diudag putrana prabu kiansantang (Dikejar oleh putranya Prabu Kian Santang)
Hilang di leuweung eta tileum di leuweung eta (Hilang di hutan itu, menghilang di hutan tersebut)
Sancang nu caneoh geueuman (Sancang yang menakutkan)

Sejarawan dan Budayawan Garut, Warjita mengatakan bahwa proses pengejaran yang dilakukan oleh Prabu Kian Santang terhadap ayahnya itu berawal dari Bogor dan berakhir di hutan Sancang, yang saat ini masuk wilayah Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut.

sejumlah lokasi terkait peristiwa pengejaran prabu siliwangi di garut
©2021 Merdeka.com

Aksi pengejaran yang dilakukan Prabu Kian Santang, dilakukan setelah ia memeluk agama Islam. Setelahnya, ia mendapat tugas untuk bisa mengislamkan sang ayah yang merupakan raja Pajajaran, Prabu Siliwangi.

Dalam proses pengejaran terhadap Prabu Siliwangi di Garut, menurut Warjita menjadikan sejumlah tempat saat ini dinamai dari hasil ucapan dan perilakunya. Hingga saat ini, nama-nama tersebut masih digunakan.

"Jadi Prabu Siliwangi ini menurut cerita, saat akan diislamkan lari ke arah timur dan sampai di Garut. Di salah satu tempat yang mengarah ke selatan Garut, Prabu Siliwangi beristirahat dan bersanding bersama pengikutnya. Tempat istirahat itu kini dinamai Muara Sanding (wilayah Kecamatan Garut Kota)," kata Warjita saat berbincang kepada merdeka.com.

Setelah merasa cukup beritirahat, lanjut Warjita, Prabu Siliwangi mengetahui anaknya akan segera sampai menyusul. Karena tidak ingin tersusul, Prabu Siliwangi bersama pengikutnya kemudian melakukan perjalanan bawah tanah, atau dikenal dengan istilah 'nerus bumi' agar tidak ketahuian Prabu Kian Santang.

Proses nerus bumi itu, menurut Warjita dilakukan sampai ke salah satu wilayah yang saat ini masuk Kecamatan Cilawu, Munjul. "Nama munjul ini berasal dari kata muncul. Jadi saat nerus bumi munculnya di daerah Munjul sekarang," ungkapnya.

Setelah itu, Prabu Siliwangi dan pengikutnya melakukan perjalanan biasa sampai ke wilayah yang saat ini masuk Kecamatan Bayongbong. Di lokasi tersebut, sang pengikut merasakan ngantuk yang luar biasa sampai tertidur.

sejumlah lokasi terkait peristiwa pengejaran prabu siliwangi di garut
©2021 Merdeka.com

Rupanya, saat tidur itu para pengikut diketahui sampai mendengkur atau dalam bahasa Suda disebut 'kerek' karena saking capek. Prabu Siliwangi yang mengetahui tersebut kemudian mengucapkan, 'Naha pada kerek? (kenapa pada mendengkur)'.

Lokasi tersebut, disebut Warjita, saat ini diketahui bernama Padarek yang berasal dari ucapan 'Pada Kerek'.

Perjalalanan pun kemudian dilanjutkan sang Raja hingga sampai di dataran tinggi, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Gunung Cikuray. Karena tingginya posisinya, membuatnya dirinya sadar akan terlihat oleh anaknya sehingga mengingatkan pengikutnya.

"Awas bisi katembong atau hati-hati terlihat (oleh Prabu Kian Santang). Karena ucapan itu, lokasi tersebut pun kini dikenal dengan Desa Panembong, Kecamatan Bayongbong," sebutnya.

Prabu Siliwangi, saat itu bersama pengikutinya kemudian beristirahat di wilayah tersebut, tepatnya di daerah Kabuyutan Ciburut dan sempat membuat tempat istirahat. Lokasi itu kini, menurut Warjita menjadi Situs Ciburuy.

sejumlah lokasi terkait peristiwa pengejaran prabu siliwangi di garut
©2021 Merdeka.com

Di Situs Ciburuy, Warjita menyebut bahwa semua benda pusaka termasuk naskah kuno hingga saat ini masih ada.

Di lokasi yang sama juga, diketahui terdapat sebuah batu yag dinamai Batu pangsujudan atau batu tempat bersujud. "Batu itu digunakan Prabu Siliwangi untuk bersemedi sebelum anaknya datang. Dan ketika Prabu Kian Santang sampai di Situs Ciburuy, oleh beliau digunakan untuk bersujud," sebutnya.

Saat Prabu Kian Santang menggunakan batu tersebut untuk bersujud, Prabu Siliwangi diketahui sudah bergerak jauh mengarah ke selatan Garut. Saat ini, Situs Kabuyutan menurut Warjita merupakan keberlangsungan budaya yang di sana terdapat empat peninggalan budaya, mulai prasejarah, Hindu, Islam, dan kolonial.

Dijelaskan Warjita, bukti adanya peninggalan prasejarah adalah karena adanya punden. Untuk masa Hindu, di sana terdapat pertapaan dan juga naskah kuno. "Masa Islam-nya ada naskah juga kemudian ada tongkat buat melaksanakan salat Jumat. Untuk masa kolonialnya ada peninggalan Cupu Manik dan keramik-keramik," jelasnya.

Kembali ke cerita Prabu Siliwangi yang terus bergerak. Warjita menyebut bahwa perjalanannya terus dilakukan Prabu Siliwangi dan pengikutnya sampai ke wilayah Sancang, yang saat ini masuk wilayah Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut.

Kawasan Sancang, menurut Warjita, dulunya merupakan kerajaan yang dipimpin oleh Raja Lewa Dewata. Raja Lewa Dewata diketahui merupakan sahabat karib dari Prabu Siliwangi.

sejumlah lokasi terkait peristiwa pengejaran prabu siliwangi di garut
©2021 Merdeka.com

"Di Sancang ini, Prabu Siliwangi kemudian menghilang tanpa jejak atau di masyarakat kita dikenal dengan istilah 'Ngahiang'. Namun ada juga yang meyakini bahwa Prabu Siliwangi ini menjelma menjadi Harimau Putih, sedangkah pengikutnya menjari harimau Sancang," ucapnya.

Saat Prabu Siliwangi 'ngahiang', sancang yang tadinya kerajaan berubah menjadi hutan lebat. Saat ini, hutan tersebut dikeramatkan oleh sejumlah warga. Selain lokasinya, ada juga tanaman kayu yang diyakini memiliki kekuatan magis, yaitu Kayu Kaboa. (mdk/cob)

Baca juga:
Kisah Hidup Tasripin, Pengusaha Pribumi yang Derajatnya Setara Ratu Belanda
Mengenal Bulang, Kain Khas Simalungun yang Tak Kalah Populer dari Ulos
Kisah Hidup Tasripin, Pribumi Kaya Raya yang Disegani Serdadu Belanda
Mengenal Bongkrek, Tempe Khas Banyumas yang Picu Keracunan Massal di Zaman Belanda
Mengenal Bongkrek, Tempe Khas Banyumas yang Picu Kematian Massal di Zaman Belanda
Kisah Ursone, Petani Susu Italia yang Selamatkan Bandung dari Kabar Miring Belanda
Mengunjungi Situs Benteng Putri Hijau, Peninggalan Sejarah Kerajaan Aru di Sumut

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami