Detik-Detik Menegangkan di Jakarta Saat Militer Belanda Menyerang Yogyakarta

Detik-Detik Menegangkan di Jakarta Saat Militer Belanda Menyerang Yogyakarta
Korps Pasukan Khusus Belanda saat siap-siap menyerang Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Arsip Nasional Belanda©2022 Merdeka.com
HISTORI | 5 Juli 2022 00:04 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Bagaimana beberapa jam sebelum menginvasi ibu kota Republik Indonesia, pihak Belanda secara sengaja mempersulit para diplomat Indonesia dan Amerika Serikat di Jakarta.

Penulis: Hendi Jo

Sabtu, 18 Desember 1948. Pintu kamar H. Merle Cochran di Hotel Des Indes, Jakarta digedor keras menjelang tengah malam. Sedikit kaget, dia langsung terbangun. Sembari mengomel, diplomat Amerika Serikat tersebut lalu membuka pintu kamar.

Didapatinya Yusuf Ronodipuro (anggota delegasi RI dalam perundingan dengan Belanda) tengah berdiri sambil menyodorkan selembar kertas kepadanya. Begitu selesai membaca surat tersebut, wajah Cochran langsung berubah. Sambil melangkah ke arah kamar, terlontarlah kalimat kasar dari mulutnya:

"Damn it! We have to go to Jogja now! (Sialan! Kita harus pergi ke Yogya sekarang juga)" teriaknya marah.

Apa yang menyebabkan Ketua Komisi Tiga Negara (KTN) itu bersungut-sungut?

2 dari 3 halaman

Hatta: Itu Langkah Gila Belanda

Marilah kita bergerak ke bebeberapa jam sebelumnya. Kolonel T.B. Simatupang tengah bertemu dengan Wakil Presiden Hatta di Yogyakarta. Dalam pertemuan itu, Simatupang menyampaikan kekhawatirannya Belanda akan keluar dari perjanjian Renville dan melakukan invasi ke Yogyakarta.

Hatta yang memiliki perasaan yang sama, setuju dengan pendapat Simatupang. Namun dia percaya bahwa invasi itu tak akan terjadi dalam waktu dekat, terlebih esok hari. Selain di Yogyakarta saat itu sedang ada para pengawas dari Komisi Tiga Negara (KTN), para pemimpin Republik juga percaya bahwa Belanda baru berani menyerang setelah mereka mendirikan pemerintah federal sementara yang terdiri atas negara-negara bagian Indonesia yang sudah dibangun dan dikuasai Belanda. Demikian diungkapkan oleh George McTurnan Kahin dalam Nationalism and Revolution in Indonesia.

"Itu langkah gila jika Belanda berani melakukannya," ujar Hatta seperti dikisahkan oleh Simatupang dalam Laporan dari Banaran: Kisah Pengalaman Seorang Prajurit dalam Perang Kemerdekaan.

Hatta memperkirakan Belanda harus berpikir panjang untuk menyerang Yogyakarta dalam waktu dekat. Mereka pastinya tahu jika besok hari (19 Desember 1948) Merle Cochran akan menghadap Wakil Tinggi Mahkota Kerajaan Belanda Dr. L.J.M. Beel di Istana Rijswijk (sekarang Istana Merdeka) untuk meminta jawaban Belanda atas beberapa pertanyaan dari pemerintah RI.

"Tidakkah akan merupakan penghinaan besar terhadap Amerika Serikat, bila Belanda melancarkan serangannya sementara surat menyurat RI-Belanda dengan perantara Amerika Serikat belum diputuskan?" kata Hatta kepada Simatupang.

Namun nyatanya, Belanda telah berlaku gila.

3 dari 3 halaman

Belanda Batalkan Perjanjian Renville

Di Jakarta pada hari itu, sekitar jam 21.00, Yusuf Ronodipuro tiba-tiba menerima telepon dari Istana Rijswijk. Perintahnya singkat saja: dia diminta untuk secepatnya mengambil surat yang ditujukan kepada delegasi Indonesia. Jam 21.15, surat tersebut sudah ada di tangan Yusuf.

Ketika surat yang dialamatkan kepada The Chairman of the Delegation of the Republic (tanpa menyebut Indonesia) itu dibuka, alangkah terkejutnya Yusuf Ronodipuro. Ternyata isi surat tembusan yang sejatinya ditujukan kepada KTN itu adalah keputusan sepihak dari Belanda untuk membatalkan kesepakatan Perjanjian Renville.

"…dan mulai hari Minggu, 19 Desember 1948 jam 00.00 (kami) tidak lagi terikat oleh persetujuan tersebut," demikian salah satu bunyi surat yang saat ini ada di dokumen Kementerian Luar Negeri Belanda bertajuk Indonesie in de veligheidsraad de Verenidge Naties (November 1948-Januarie 1949).

Dikisahkan oleh Himawan Soetanto dalam Yogyakarta 19 Desember 1948: Jenderal Spoor vs Jenderal Soedirman, Yusup berinisatif mengirimkan kabar penting itu ke Yogyakarta melalui Kantor Pos Umum di Jakarta, namun tidak berhasil. Operator telegram tidak dapat mengirimkan berita, karena semua kontak dengan Yogyakarta tetiba diblok.

Maka tidak ada cara lain, Yusuf lalu mendatangi kamar Cochran di Hotel Des Indes. Mereka lantas sepakat akan terbang malam itu juga ke Yogyakarta. Namun niat mereka gagal total karena dalam kenyataannya U.S. Airforce yang digunakan untuk kepentingan KTN tidak mendapatkan izin terbang dari Belanda. Upaya Cochran untuk meminta tolong kepada Elink Schuurman (Pejabat Sementara Ketua Delegasi Belanda) ditolak.

Keesokan harinya, aksi ofensif terhadap Yogyakarta pun dilakukan. Pagi sekali Panglima KNIL Jenderal S.H. Spoor sudah memimpin penyerbuan ke Yogyakarta melalui pesawat Mitchell B-25 buatan Amerika Serikat. Ketika situasi sudah sepenuhnya terkendali, dari Maguwo, Spoor ke Semarang untuk mengamati gerak maju pasukan darat ke Yogyakarta dan Solo.
Sekitar jam 9 siang, dia kembali ke Jakarta untuk melaporkan kesuksesan Operasi Gagak kepada Dr. Beel. Saat berjalan di lantai Istana Rijswijk, dia sempat bersirobok dengan seorang pemantau militer dari Amerika Serikat.

"What a lovely day to start a war! (Hari yang sangat menyenangkan untuk memulai sebuah perang)" sindir sang perwira Amerika itu, seperti dikutip oleh sejarawan J.A. de Moor dalam Jenderal Spoor: Kajayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia.

(mdk/noe)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini