Di Balik Puisi Karawang-Bekasi

Di Balik Puisi Karawang-Bekasi
Chairil Anwar. ©wikipedia.com
HISTORI | 28 November 2021 06:06 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Penyair Chairil Anwar kali pertama membacakan puisi itu di sebuah warung kopi. Menuai perdebatan panjang dengan seorang serdadu Belanda.

Penulis: Hendi Jo

Desember 1945, Letnan Kolonel Alex Evert Kawilarang ditugaskan Markas Besar TKR di Jakarta untuk mengurusi pertukaran tawanan perang antara pihak Indonesia dengan pihak Inggris. Salah satu tawanan yang ditukarkan itu adalah Chairil Anwar, keponakan Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang kelak namanya dikenal sebagai penyair besar.

Belum diketahui bagaimana Chairil bisa tertawan militer Inggris. Yang jelas, usai dibebaskan Kawilarang di Stasiun Jatinegara, dia kemudian aktif kembali bergabung dengan kawan-kawannya di Aliansi Pemuda Indonesia (API). Saat mengikuti kawan-kawannya hijrah ke Karawang pada 1947, Chairil menyaksikan langsung bagaimana militer Belanda menghabisi orang-orang sebangsanya. Dia pun diam-diam marah dan terluka.

"Sepulang dari Karawang muncullah sajak Krawang-Bekasi," demikian menurut Sjuman Djaya dalam bukunya yang berjudul Aku.

Krawang-Bekasi kali pertama dibacakan dalam obrolan malam antar penyair dan peminat sastra di sebuah kedai yang terletak di Pasar Senen. Menurut J.C. Princen dalam otobiografinya, Kemerdekaan Memilih, dia ingat saat itu dirinya hadir dan ikut menyimak puisi tersebut.

"Sajak ini sangat bagus…" ujar Princen.

Chairil cukup mengenal Princen. Dia tahu juga bahwa serdadu Belanda itu diam-diam menyimpan simpati kepada perjuangan kemerdekaan kaum republik sehingga bisa jadi dia berpikir anak muda Belanda itu merupakan 'sasaran empuk' untuk menjadi obyek propaganda-nya.

Namun tidak hanya memuji, Princen juga mengkritik posisi Chairil Anwar yang dia anggap 'tidak cukup bertanggungjawab' terhadap sikap nasionalisme-nya. Dia mengejek Chairil hanya bisa “enak duduk-duduk di rumah sambil menulis-nulis dan menyerahkan pada orang lain guna menyelesaikan pekerjaan berat ini.

"Apa kalian memang hebat untuk tidak berkelahi?" tantang Princen.

Tentu saja, pernyataan nakal Princen itu disambut dengan geram oleh Chairil dan kawan-kawan republik-nya. Mereka pun balik mengeritik sang serdadu yang seolah sudah merasa cukup nyaman hanya dengan memiliki rasa simpati terhadap perjuangan orang-orang republik.

"Kalau kau memang lebih tahu, apa yang kau kerjakan di sini sekarang? Apa kau lebih baik dibandingkan orang Jepang atau orang Jerman?" jawab Chairil dalam nada tajam.

"Bila aku tidak bisa berbuat lain lagi, maka aku akan aktif berada di pihak kalian, karena aku pikir kalian ini yang benar," ujar Poncke.

"Apa ini berarti bahwa kamu akan menjadi musuh dari kawan-kawanmu, orang Belanda?" tanya Chairil lagi.

"Bukankah kalian semua adalah kawanku? Apakah seorang Belanda yang mati lebih buruk dari seorang Indonesia yang mati?" jawab Princen.

Sontak semua terdiam. ]Pertumpahan air liur' antara Princen dengan Chairil memang berakhir begitu saja. Semua menjadi biasa kembali dan cepat larut dalam acara ngopi-ngopi dan merokok. Yang jelas jauh setelah 'perdebatan di Pasar Senin' itu, pada 28 April 1949 Chairil Anwar meninggal dalam usia 27 tahun. Dokter yang memeriksanya menyebut komplikasi sebagai penyebab kematiannya.

Kala pemakamannya dilakukan, Princen sendiri saat itu sudah tidak di Jakarta lagi. Memenuhi janjinya kepada Chairil dan kawan-kawan senimannya di Pasar Senin, dia telah bergabung dengan pasukan Siliwangi, ikut menyabung nyawa bersama orang-orang Indonesia di hutan-hutan Sukabumi dan Cianjur.

(mdk/noe)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami